Kisah Silicon Valley #96 – Perjuangan ‘Menjual’ Tesla

 mengacu pada kiprah yang dimainkan Robert Downey Jr di Iron Man Kisah Silicon Valley #96 – Perjuangan ‘Menjual’ Tesla

Elon Musk sering dijuluki sebagai real-life Tony Stark – mengacu pada kiprah yang dimainkan Robert Downey Jr di Iron Man. Tapi tahukah kamu, dikala bersiap memfilmkan Iron Man, sutradara Jon Favreau meminta Robert Downey Jr untuk menimbulkan Howard Hughes (miliuner eksentrik yang kaya dari perjuangan penerbangan) sebagai model Tony Stark. Karena merasa mempelajari biografi Howard Hughes saja tidak cukup, Downey Jr mengunjungi seorang pengusaha nyentrik yang juga mempunyai perjuangan bidang penerbangan (Penerbangan antariksa malahan): Tak lain dan tak bukan yaitu Elon Musk! Downey Jr disambut di kantor SpaceX dan terkagum-kagum oleh lingkungan sekitarnya yang futuristik dan dibangun dengan visi menyambut masa depan. Dia lebih kagum lagi pada Musk, orang di balik SpaceX yang dengan ramah mengantarkannya berkeliling dan bersedia menjelaskan kepadanya segala sesuatunya. Downey Jr kemudian mempelajari dengan cermat cara Elon Musk bersikap, menjelaskan sesuatu, caranya berpikir untuk mengatasi masalah, dan caranya memandang dunia. Yup. Elon Musk memang pandangan gres untuk interpretasi Robert Downey Jr terhadap kiprah Tony Stark!

 

Mencengkeram Erat Tesla Motors

 mengacu pada kiprah yang dimainkan Robert Downey Jr di Iron Man Kisah Silicon Valley #96 – Perjuangan ‘Menjual’ Tesla
Schwarzenegger, Musk, dan Eberhard via Electrek

Sejak awal perjalanan Tesla memang tidak terlihat mulus. Menciptakan sebuah produk yang belum terang pasarnya, bahkan belum terang keberlangsungannya alasannya yaitu tidak adanya teknologi yang mendukung, memang terang sebuah tantangan besar. Ini diperkeruh dengan kurang akrabnya relasi Elon Musk dan Martin Eberhard. Mereka berdua telah ‘bertempur’ selama bertahun-tahun memperdebatkan banyak aspek desain kendaraan beroda empat dan tiada satu pun di antara mereka berdua yang bersedia mengalah. Untung saja mereka masih mempunyai visi dan pandangan yang sama dalam hal baterai dan teknologi yang mendukung Tesla. Oleh alasannya yaitu itu, Dewan Direksi di Tesla ikut pusing alasannya yaitu perdebatan antara mereka berdua bahwasanya hal yang sanggup dipecahkan jikalau ada salah satu yang mau mengalah. Perdebatan mereka sebagian besar hanyalah terkait selera desain. Namun Elon Musk sudah terlanjur punya nama besar dan menjual. Investor tertarik mendanai proyek ini bukan alasannya yaitu ada Martin Eberhard, tapi alasannya yaitu Elon Musk. Oleh alasannya yaitu itu, pada Agustus 2007, Dewan Direksi Tesla menawarkan demosi atau ‘penurunan pangkat’ pada Eberhard dan memberinya jabatan President of Technology. Bisa ditebak, Elon Musk naik menjadi CEO dan berhak memveto aneka macam keputusan terkait desain.

Masalah selesai? Ternyata tidak. Eberhard tentu saja punya banyak pengikut setia di perusahaan. Para karyawan seakan terperangkap dalam situasi perceraian. Harus ikut orangtua yang mana: Musk atau Eberhard. Akhirnya dalam situasi yang terus memanas, Eberhard angkat kaki dari Tesla di bulan Desember 2007. Tesla mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Eberhard sudah ditawari posisi di Dewan Direksi, namun ini ditolak oleh Eberhard. “Saya tidak lagi bersama Tesla Motors, baik dalam dewan direksi, ataupun sebagai karyawan dalam jabatan apa pun.” Ungkap Eberhard dalam sebuah wawancara. “Saya tidak bahagia dengan cara mereka memperlakukan Tesla Motors”.

Perginya Eberhard dari Tesla Motors tentu saja menimbulkan Musk mempunyai kuasa mutlak. Dia kemudian secara garang mengganti jajaran administrasi dengan orang-orang yang ‘direstui’-nya. Memberikan kekuasaan otoriter kepada Elon Musk mempunyai sedikit sisi buruk. Lambat laun, karyawan Tesla menyaksikan apa yang jadi pemandangan harian karyawan SpaceX. Musk memang sudah populer gila kontrol. Namun jikalau Steve Jobs (yang juga tenar alasannya yaitu gila kontrol terhadap produk dan cara menjalankan perusahaan) menentukan menekan, mengintimidasi, dan membujuk orang lain untuk melaksanakan sesuatu sesuai keinginannya, maka Elon Musk berada di level yang lain: Dia melakukannya sendiri. Suatu hari panel bodi carbon-fiber terkelupas, memperlihatkan bahwa ini merupakan produk cacat. Musk pribadi terbang ke Inggris dengan pesawat pribadinya untuk mengambil panel bodi baru, dan membawanya pribadi ke pabrik di Prancis untuk memastikan alur produksi sesuai jadwal.

 mengacu pada kiprah yang dimainkan Robert Downey Jr di Iron Man Kisah Silicon Valley #96 – Perjuangan ‘Menjual’ Tesla
Ryan Popple via FutureTrends

Ryan Popple, Senior Director of Finance di Tesla Motors mempunyai dongeng tersendiri soal ini. “Ketika mengejar deadline untuk produksi Tesla, dikala salah seorang anggota Direksi menyampaikan bahwa kemungkinan akan ada keterlambatan jadwal, Elon tidak sanggup mendapatkan itu. Dia pribadi berpidato di depan karyawan administrasi yang hadir, menyampaikan bahwa kita semua akan bekerja di hari Sabtu dan Minggu, serta tidur di bawah meja kerja masing-masing untuk memastikan produksi sesuai jadwal. Seseorang mengajukan keberatan dan menyampaikan bahwa mereka sudah bekerja keras untuk Tesla Motors, dan perlu waktu untuk beristirahat dan menengok keluarga. Apa tanggapan Elon? Dia bilang: Saya akan menyampaikan kepada orang-orang bahwa mereka perlu menghabiskan banyak waktu bersama keluarganya… kalau kita bangkrut! Saya sangat terkejut mendengar itu. ‘Wow’ saya membatin. Tapi saya paham. Kebetulan saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga militer, dan sanggup memahami orang-orang yang harus mewujudkan tujuan mereka tanpa ingin gagal dan tanpa mencari alasan.”

Popple juga menceritakan bahwa Elon memang mempunyai tujuan yang besar dan kelihatan mustahil. Tapi memang merupakan fakta bahwa pikirannya terus bekerja untuk memecahkan persoalan dan berusaha mencapai tujuan itu. “Dia memang mengontrol semua hal,” ujar Popple. “Tapi saya sangat mengagumi cara kerja pikirannya yang nyaris ibarat komputer. Bagian accounting terutama sering menerima persoalan dikala mengajukan anggaran dan laporan. Hanya dengan melihat slide proyektor yang diperagakan, Elon pribadi tahu jikalau ada kesalahan perhitungan yang kecil. Dia akan murka dan pribadi meminta perbaikan. Satu hal yang harus Anda ketahui: Elon tidak melewatkan detail apa pun dalam proyek yang dikerjakannya.”

Bagian marketing dan Public Relations juga sering ‘mendapatkan perhatian’ dari Elon. Bukan diam-diam bahwa Elon Musk aktif di media umum (dengan segala kesibukannya, ini merupakan sesuatu yang luar biasa). Lebih dari itu, ia punya hobi melaksanakan pencarian di Google hampir setiap hari, untuk menemukan isu negatif wacana Tesla. Jika ia menemukannya, maka ia akan pribadi berusaha memperbaiki dengan menegur departemen bersangkutan. Jika perlu, ia akan menelepon wartawan yang menulis artikel untuk menawarkan penjelasan. Tentu saja ini nantinya bakal jadi artikel gres yang lebih positif. Departemen Marketing juga perlu hati-hati dikala merilis dokumen. Setiap email yang dikeluarkan perusahaan harus di-cc ke Elon Musk. Dia akan murka besar jikalau menemukan kesalahan gramatikal dalam penulisan email tersebut, lebih parah lagi, jikalau isi email berlawanan dengan keinginannya. Oleh alasannya yaitu itu, Departemen Marketing punya tim sendiri yang bertugas menyidik dengan serius setiap kata yang dituliskan dalam surat atau kepentingan promosi Tesla.

Hal positifnya, etos kerja Elon yang luar biasa untuk Tesla Motors menular kepada karyawan, sehingga sebagian besar di antara mereka mendukungnya dan menawarkan upaya terbaik mereka dalam bidang yang dikerjakannya. Mereka punya keyakinan yang sama dengan Elon bahwa dikala ini mereka sedang mencoba mengubah dunia. Mereka yaitu para pahlawannya!

 

Perjuangan Menjual Tesla

 mengacu pada kiprah yang dimainkan Robert Downey Jr di Iron Man Kisah Silicon Valley #96 – Perjuangan ‘Menjual’ Tesla
via Tesla

Di pertengahan 2012, Tesla Motors menciptakan para penikmat otomotif takjub. Tesla mulai menjual sedan model S. Ini merupakan sebuah kendaraan glamor bertenaga listrik, dengan satu kali charging sanggup melaju hingga 300 mil. Kecepatan? Mobil ini sanggup mencapai 60 mil per jam hanya dalam 4,2 detik. Sangat jauh dari kesan kendaraan beroda empat listrik yang biasanya pelan. Sedan ini sanggup mengangkut tujuh orang dan bahkan mempunyai pengaman khusus untuk penumpang anak-anak. Hebatnya, dengan sedikit tweaking pada mesin, Model S sanggup berjalan nyaris tanpa suara! Teknologi yang ditanamkan padanya juga luar biasa. Model S mempunyai layar bawaan yang memungkinkan penumpang memantau jalan melalui Google Maps (bisa juga diganti dengan layanan GPS spesifik jikalau menginginkan). Jika kebanyakan kendaraan beroda empat mempunyai dasbor tebal yang sekaligus melindungi penumpang, Model S mempunyai kabin yang terasa luas dan lapang. Satu lagi yang menimbulkan penawarannya luar biasa: Pembeli Model S sanggup melakukan charging gratis di Stasiun khusus Tesla di seluruh AS! Internet bergemuruh oleh kebanggaan terhadap Tesla. Orang-orang yang skeptis mengenai bagaimana sebuah kendaraan beroda empat listrik sanggup dijual, terpaksa menjilat ludahnya masing-masing.

 mengacu pada kiprah yang dimainkan Robert Downey Jr di Iron Man Kisah Silicon Valley #96 – Perjuangan ‘Menjual’ Tesla
via Teslarati

Pengalaman lain yang menyenangkan terkait Tesla Model S yaitu bagaimana kendaraan ini ditawarkan dan dijual. Orang-orang tidak akan berhadapan dengan salesman yang cenderung manipulatif dan mendorong untuk membeli. Tidak demikian. Semua orang bebas untuk melihat pribadi dan mencoba Tesla Model S di dealer khusus yang menjualnya, atau mencari informasi tentangnya melalui website. Dealer yang menjual Model S ini juga sangat spesial. Elon Musk menempatkannya di banyak mall besar, sehingga banyak pengunjung mall yang sanggup mengagumi Tesla Model S, bahkan mempelajari spesifikasi serta struktur mesinnya melalui sebuah maket yang disertakan dalam dealer tersebut. Ada persoalan dikala pemakaian? Para teknisi Tesla siap untuk membantu atau setidaknya menanggapi keluhan melalui telepon. Bagaimana dengan sistem komputer yang membantu mengoperasikan Model S? Ketika para pemiliknya tidur, update akan dikirimkan ke komputer Tesla Model S melalui jaringan internet, ibarat dengan sistem perangkat seluler yang kita miliki.

Semua itu kelihatan terlalu indah untuk jadi nyata, tapi serpihan terbaiknya: ini nyata! Saat penjualan Model S, Tesla hanya mendapatkan keluhan remeh temeh terkait Model S, ibarat handel pintu yang tidak kembali ke posisi semestinya dikala membuka pintu, wiper yang menyala sendiri, dan beberapa hal yang umum, namun tidak hingga menjadi mengambarkan jelek sebuah produk. Tesla Motors sukses besar!

Oke, sukses di sini mungkin dalam sisi mengantarkan produk ke tangan pembeli dengan kondisi prima. Namun penjualan memang merupakan hal lain. Bisa dimaklumi jikalau angka penjualan kendaraan beroda empat listrik ini mungkin tidak masuk dalam kategori ‘laris manis’. Ini masih sebuah teknologi gres yang menimbulkan banyak orang ragu untuk mencoba. Pada November 2012, Model S diberi gelar oleh majalah Motor Trend sebagai Car of The Year, mengalahkan sebelas kendaraan lain dari perusahaan ibarat Porsche, BMW, Lexus, dan Subaru. Model S juga mendapatkan review positif dalam jumlah besar dari para pembelinya. Elon Musk untuk sejenak sanggup beristirahat sesudah sukses mencapai apa yang diidam-idamkannya dari Tesla Motors. Sebuah produk kendaraan beroda empat listrik yang sanggup dijual secara komersial!


Kisah Silicon Valley mendatang yaitu serpihan final dari arc Elon Musk, membahas pencapaian-pencapaian perusahaan-perusahaan yang didirikannya, serta sasaran Elon Musk selanjutnya yang seakan tak kenal lelah ingin dicapai!

 

 

 

 

Referensi

Loudenback, Tanza. (2018). Elon Musk is worth about $23 billion and has never taken a paycheck from Tesla — here’s how the notorious workaholic and father of 5 makes and spends his fortune. Business Insider.

Vance, Ashlee. (2017). Elon Musk, Tesla, SpaceX and the Quest for a Fantastic Future

Weinberger, Matt. (2017). The incredible story of Elon Musk, from getting bullied in school to the most interesting man in tech. Business Insider


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #96 – Perjuangan ‘Menjual’ Tesla"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel