Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud

 yang masuk ke Redmond bersamaan dengan Satya Nadella pernah mendapat pertanyaan dari w Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud
Blake Irving

Blake Irving, seorang karyawan Microsoft (kini CEO GoDaddy) yang masuk ke Redmond bersamaan dengan Satya Nadella pernah mendapat pertanyaan dari wartawan, “Seperti apa suasana kerja di Microsoft? Seperti apa orang-orangnya ketika Anda bekerja di sana?”

Irving tertawa. Dia lalu berkata, “Pada awal saya bekerja di sana, ada dua tipe karyawan Microsoft. Ketika Anda menjelaskan atau menyampaikan sesuatu, tipe pertama menunggu sela yang sempurna untuk menyerang dan menghancurkan Anda dengan argumennya. Sementara tipe satunya mendengarkan untuk belajar. Yang kedua ini lebih sedikit, di antaranya yang populer yakni Satya.” Irving terlihat mengenang masa-masa itu. “Satya yakni orang yang bisa menahan rasa tidak percaya dan opininya untuk mendengarkan pendapat Anda sepenuhnya. Perbedaan kecil antara mendengarkan untuk siap membantah dan mendengarkan untuk mencar ilmu bukan hal yang sederhana. Ini hal besar! Satya memang berbicara dengan lembut, tapi beliau penuh energi, ini kombinasi yang absurd sebenarnya.”

 

Red Dog

 yang masuk ke Redmond bersamaan dengan Satya Nadella pernah mendapat pertanyaan dari w Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud

Fokus Microsoft di mesin pencari menjadikan timbulnya beberapa eksperimen dengan memakai resource yang serupa dengan Bing, tapi bercabang ke hal lain. Sejak tahun 2008, Ray Ozzie, salah satu direktur Microsoft sudah mengembangkan infrastruktur cloud rahasia yang diberi codename: Red Dog. Aktivitas Red Dog terungkap ketika reporter yang erat dengan Microsoft, Mary Jo Foley, menemukan lowongan pekerjaan bahwa Microsoft sedang mencari beberapa orang dengan klasifikasi engineer untuk Red Dog. Jo Foley lalu menulis artikel dengan pendapat pribadi bahwa proyek ini kemungkinan yakni upaya Microsoft untuk menyaingi AWS Amazon. Nadella sendiri tentu saja sudah mengetahui keberadaan Red Dog, namun alasannya yakni masih berstatus ‘proyek rahasia’ – dan menyerupai umumnya eksperimen yang masih berstatus dirahasiakan di Microsoft – kebanyakan timnya hanya memberikan laporan pertanggungjawaban dana dan pencapaian tamat dalam periode tahunan, atau jikalau ada hal yang sangat penting untuk dilaporkan, selain itu kebanyakan mereka tidak ingin diganggu. Nadella tergelitik untuk memahami Red Dog lebih jauh. Dia mendapati hal yang mengejutkan. Nadella sudah tahu bahwa sistem server and tool business (STB) di Microsoft mempunyai struktur bertingkat, akan tetapi Red Dog ternyata benar-benar terpisah dari Bing!

 yang masuk ke Redmond bersamaan dengan Satya Nadella pernah mendapat pertanyaan dari w Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud
Rapat tim Red Dog, proyek pendahulu Azure

Dari temuan itu, Nadella mendapat dua hal gres yang entah bisa dianggap dilema atau malah kekuatan bagi Microsoft. Pertama, infrastruktur cloud Microsoft, jauh lebih besar dan berpengaruh daripada yang tampak. Kedua, sayangnya, infrastruktur tersebut terpisah-pisah. Banyaknya divisi dalam Microsoft memang sampai-sampai menimbulkan situasi unik: Kadang satu divisi tidak mengetahui adanya divisi lainnya.

Dari sisi eksternal muncul tantangan lain. Steve Ballmer, tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi proyek (yang masih sedang berjalan dan berstatus rahasia), mengumumkan bahwa Microsoft telah sepenuhnya masuk ke bisnis Cloud. Steve juga mendorong transformasi bisnis Office ke arah teknologi Cloud secara agresif. Ekspektasi publik terhadap Microsoft pribadi tinggi. Padahal situasi nyatanya: Amazon dan IBM sudah menghasilkan miliaran dolar dari Cloud, sementara Microsoft masih nol. Ini tentu saja menjadikan Nadella semakin pusing. Akhirnya beliau sadar, Ballmer tidak main-main sama sekali ketika menyampaikan bahwa beliau akan jatuh bersama Cloud jikalau gagal!

Seakan beban yang dipikulnya kurang berat, Microsoft secara resmi memberikan pengumuman: “Nadella dan timnya bertugas memimpin transformasi perusahaan Microsoft ke bisnis cloud dan menyediakan roadmap teknologi dan visi masa depan cloud computing.”

Nadella tersenyum dan melambaikan tangan ke arah para wartawan dalam jumpa pers pengumuman itu, namun rasanya beliau ingin menangis.

 

Kerja sama menuntaskan segalanya

 yang masuk ke Redmond bersamaan dengan Satya Nadella pernah mendapat pertanyaan dari w Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud

Belajar dari masa remajanya ketika sekolah, serta bagaimana ayahnya, sang pegawai negeri yang patriotik, Nadella mendapat pandangan gres bahwa dilema utama yang perlu dibereskan yakni menyatukan resource cloud yang terpecah-pecah ini dan bergerak secara kolektif untuk mengejar tujuan yang telah direncanakan. Nadella mengadakan rapat dengan orang-orang yang bertanggungjawab menangani Bing, STB, dan Red Dog. Ide sederhana Nadella adalah: Server terpisah-pisah yang menangani proyek-proyek cloud dan server Microsoft, bahu-membahu bisa disatukan. Ini akan menyediakan sebuah solusi hibrid. Server yang bisa menangani kebutuhan Microsoft sendiri, sekaligus diakses oleh publik secara cloud. Tentu saja rapat itu berlangsung sengit. Tim yang terlibat mempunyai kekuatan resource yang setara dan tentu saja ogah untuk saling berbagi. Namun Nadella meyakinkan mereka bahwa ada cara kreatif untuk sanggup mewujudkan ini. Nadella memberikan pemikirannya bahwa jikalau seluruh sumber daya Microsoft ini disatukan, selain sanggup diakses perusahaan juga melayani kebutuhan publik, maka niscaya akan ada laba timbal balik. Tim Office dan server bisnis akan sanggup memenuhi kebutuhan pelanggannya dengan dukungan AI dan machine learning yang pengembangannya dilakukan oleh Bing. Sebaliknya akan memperoleh isu lebih banyak yang dibutuhkan untuk mengembangkan dirinya. Semua bisa dilakukan secara integratif.

Menerima argumen Nadella, tim-tim yang tadinya saling terpisah tersebut bersedia untuk bekerja sama. Dalam proses ini, Nadella memperkuat sumber dayanya dengan merekrut orang-orang gres yang mumpuni. Selain mengembangkan teknologi yang ada, rekrutan yang masih ‘segar’ ini tentu saja sanggup memperlihatkan sudut pandang tersendiri alasannya yakni mereka memandang keseluruhan resource Microsoft dari luar yang akan bermanfaat dalam menyatukan tim. Salah satu rekrutan yang menonjol yakni Scott Guthrie, sebelumnya terlibat di beberapa startup dan merupakan developer ulung. Wawasan Guthrie diharapkan untuk membuat platform cloud yang unggul. Nadella juga memindahkan beberapa anggota tim, contohnya Takeshi Numoto dari Office, bergabung ke STB. Wawasannya dari divisi Office terang akan sangat bermanfaat, alasannya yakni Ballmer sendiri menginginkan supaya Office bergerak secara cloud, dan terintegrasi dengan server bisnis Microsoft.

 yang masuk ke Redmond bersamaan dengan Satya Nadella pernah mendapat pertanyaan dari w Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud

Salah satu keputusan fenomenal Nadella dalam pengembangan cloud, yang mana diambil sesudah berdiskusi dengan Scott Guthrie, Microsoft perlu untuk mendukung Linux, alasannya yakni ini merupakan platform yang digunakan secara umum di banyak perusahaan dan dunia bisnis. Ballmer tentu saja stress berat ketika Nadella dengan hati-hati memberikan ini. Sebagai karyawan generasi pertama Microsoft, Steve Ballmer yakni tipe orang yang meyakini bahwa platform terbaik yakni Microsoft. Jika di luar sana platform terbaik bukan milik Microsoft, maka Microsoft harus membuat sesuatu yang akan menjadi platform terbaik. Belum lagi jikalau melihat sejarah, Linux, yakni platform yang dibentuk dengan ‘energi kebencian’ terhadap Microsoft! Namun alasannya yakni beliau sudah berjanji untuk memperlihatkan dukungan penuh pada Nadella, maka beliau pun merestui keputusan ini.

Mendapatkan restu Ballmer pun bukan berarti dilema beres. Memberikan dukungan kelas satu terhadap Linux di platform cloud milik Microsoft bukan hanya dilema teknis, tapi juga sebuah perubahan budaya. Sebagian besar elemen Microsoft memandang Linux sebagai musuh. Namun Nadella tidak melihatnya menyerupai itu. ‘Kerja sama’ yakni moto yang dipegangnya dengan teguh untuk mencapai kesuksesan.

Nadella dengan telaten berupaya menyatukan semua elemen yang saling bertabrakan di Microsoft. Dia memperlihatkan sebuah citra besar kepada seluruh tim. Platform Microsoft Cloud, nantinya tidak hanya akan digunakan oleh pengguna setia produk Microsoft saja, tapi bisa digunakan oleh banyak platform. Intinya: semua produk teknologi yang ada nantinya akan mengalir dalam ‘jalan raya’ yang sama, dan Nadella ingin Microsoft terlibat dalam semua itu. Untuk awalnya, semua layanan Microsoft, menyerupai Bing, Office 365, Xbox, dan banyak lainnya, akan dijalankan dalam satu infrastruktur cloud yang sama, dan infrastruktur ini akan bisa memperlihatkan layanan juga bagi platform lainnya. Sebuah gagasan ambisius!

Pada tanggal 1 Februari 2010, platform cloud ini sudah mulai kelihatan bentuknya, dan diberi nama: Azure!

 yang masuk ke Redmond bersamaan dengan Satya Nadella pernah mendapat pertanyaan dari w Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud


Perjuangan Nadella mengatasi banyak sekali dilema di divisi cloud, serta ‘menyeret’ seluruh divisi ke sebuah visi besar mulai menampakkan hasil. Baca petualangan sang CEO Microsoft ini di Kisah Silicon Valley #89 – Sukses Datangnya dari Awan.

 

 

 

Referensi

Konrad, Alex. (2018). Exclusive CEO Interview: Satya Nadella Reveals How Microsoft Got Its Groove Back. Forbes.

Nadella, Shaw, and Nichols. (2017). Hit Refresh: The Quest to Rediscover Microsoft’s Soul and Imagine a Better Future for Everyone

Nusca, Andrew. (2016). The Man who is Transforming MicrosoftFortune.

Soper, Taylor. (2017). Microsoft CEO Satya Nadella recounts his first time meeting Steve Ballmer in 1992. Geekwire.


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #88 – Berbagai Tantangan Proyek Cloud"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel