Kisah Silicon Valley #72 – Dominasi Baru di Amerika

“Hari-hari radio sudah berakhir. Masa depan terletak pada televisi.” Ibuka berpidato berapi-api di hadapan karyawan Sony dalam sebuah pertemuan bulanan. Para teknisi Sony tersulut oleh visi Ibuka ini. Tak berapa usang kemudian Sony merilis TV8-301, televisi portabel yang pertama di dunia dengan receiver hitam putih!
Ternyata Ibuka belum puas. “Kita dikelilingi oleh warna cerah di kehidupan sehari-hari. Televisi harus menghadirkan hidup bagi kita. Sebuah televisi yang tidak sanggup menghadirkan warna masih jauh dari sempurna”
Tiada ada jalan lain: Sony berupaya keras untuk memproduksi televisi berwarna.
Peluang dalam Kesulitan

Pada Februari 1960, Sony Corporation of America (SONAM) didirikan dengan tujuan untuk melaksanakan kegiatan pemasaran Sony di Amerika Serikat. Visi utama SONAM ialah “menjalankan bisnis dengan orang Amerika ibarat halnya perusahaan Amerika”. Ini menarik alasannya ialah sebelumnya tidak pernah ada perusahaan Jepang yang melaksanakan hal ibarat ini. Amerika sebagai pemenang Perang Dunia II di masa itu dianggap Jepang sebagai ‘sebuah gunung yang tinggi’. Banyak yang mencurigai sebuah perusahaan Jepang sanggup berbicara banyak di pasar Amerika. Apalagi ‘cuma’ perusahaan transistor, radio, dan produk elektronik lainnya.
Morita memahami risiko ini dengan sangat baik, “Dalam menilai situasi Sony pada dikala ini, kita memang bertindak sedikit prematur. Akan tetapi bisnis yang tidak mengambil laba dari peluangnya tidak berhak disebut sebuah perusahaan. Kita mungkin memaksa diri kita sendiri, tapi ini memang waktu yang tepat untuk bertindak. Kami di Sony tidak percaya bahwa bertindak malu-malu dalam menghadapi kesulitan yang hadir bersama peluang manis akan menghasilkan kesuksesan. Kami sudah meminta para karyawan untuk mempertahankan semangat ini,” terperinci Morita kepada karyawannya.
Seperti yang diungkapkan Morita, memang ada sebuah celah peluang dalam hal ini. Pada bulan September 1957, sebelum SONAM didirikan, Sony terikat kontrak dengan dua perusahaan, Agrod dan Superscope, untuk bertindak sebagai biro pemasaran Sony di Amerika Serikat. Agrod menangani radio dan mikrofon, sementara Superscope menangani tape recorder.
Superscope merupakan forum yang sudah berpengalaman dengan baik dalam mengurus tetek bengek dunia bisnis. Perusahaan ini juga sudah mengamankan paten untuk sistem layar lebar miliknya yang menguntungkan tanpa dukungan luar. Biasanya, sebagai agen, Superscope sangat cerewet. Namun mereka melaksanakan pekerjaan dengan baik dalam menjual tape recorder dan mikrofon milik Sony. Pada September 1955, Sony menandatangani kontrak dengan Superscope dan Agrod yang memperlihatkan wewenang pada dua perusahaan ini untuk menjadi biro pemasaran Sony. Delmonico International, sebuah grosir kenamaan di bidang elektronik, dipilih sebagai distributor Sony.
Pada awalnya, semua berjalan dengan baik. Ini semua berkat kampanye penjualan Delmonico yang kuat, menimbulkan ekspor radio transistor Sony melonjak dengan dahsyat. Sayangnya, tiada mimpi indah yang bertahan selamanya. Hubungan mereka berdua perlahan bermetamorfosis asam. Praktik pemasaran Delmonico secara sedikit demi sedikit menjauh dari tujuan jangka panjang Sony. Akio Morita ingin meningkatkan penjualan di seluruh AS, tapi Delmonico, yang berbasis di New York, nampaknya sudah merasa nyaman dengan penjualan dan laba di area New York dan kurang antusias untuk menyebarkan pasar lebih lanjut. Selain itu, Delmonico hanya bersedia mendapatkan produk yang mereka yakin sanggup menjualnya. Lebih jelek lagi, memaksa Sony untuk memproduksi radio yang lebih murah. Ini benar-benar tidak sesuai dengan kebijakan Sony. Ketegangan memuncak, dan alhasil berujung pada pelanggaran kontrak yang dilakukan Delmonico.
Pada bulan Januari 1960, Morita mengunjungi New York ditemani oleh Masayoshi Suzuki yang gres saja bergabung dengan Sony setahun sebelumnya. Suzuki tadinya ialah sahabat sekelas Morita di Sekolah Menengan Atas dan diundang untuk bergabung Sony untuk menyumbangkan pengalamannya dalam bidang ekspor impor.
Pada dikala kedatangan mereka, situasi dengan Delmonico ‘meledak’. Delmonico mengumumkan kepada peritel bahwa mereka akan menangani TV8-301, televisi transistor non-proyeksi pertama. Mereka bahkan sudah mengumumkan harga spesifik dan mendapatkan pesanan – semua tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan Morita.
Morita pada awalnya bersabar menghadapi perlakuan Delmonico yang sudah menyinggungnya. Sebulan sebelumnya, memang Sony sudah mengumumkan selesainya proyek TV8-301 di Jepang, tapi belum menyebutkan tanggal peluncuran. Bahkan Sony masih belum menciptakan pengumuman apa pun di AS dan belum menetapkan harga. Namun Delmonico sudah melangkahi Sony dengan mengumumkan harga, lebih lagi, Delmonico tidak berwenang untuk menjual televisi menurut kontrak mereka. Perundingan dengan Delmonico menemui jalan buntu sehingga Morita alhasil menetapkan untuk memutus kontrak Delmonico.
Berpisah dengan Delmonico memang merupakan sebuah perjudian, namun Morita melihat peluang bagi Sony untuk menyebarkan sistem distribusinya sendiri di AS. Morita menceritakan rencananya seraya mengungkapkan pelanggaran yang dilakukan Delmonico kepada Ibuka. Sobat Morita itu tanpa ragu mengungkapkan dukungan dan meminta Morita melaksanakan semua tindakan yang diharapkan tanpa ragu.
Morita pun kemudian menunjuk sahabat lamanya, Edward Rosiny sebagai pengacara untuk Sony. Delmonico bersedia mendapatkan pemutusan kontrak, tapi mereka meminta kompensasi yang besar. Morita murka besar. Dia merasa semua ini tidak akan terjadi kalau Delmonico tidak lancang melangkahi Sony dengan menetapkan harga mendahului Sony untuk produk yang belum niscaya akan dijual oleh Sony. Melalui negosiasi yang sangat keras dan alot, alhasil Sony bersedia membayar seperempat jumlah yang pada awalnya diajukan oleh Delmonico. Setelah mengatasi banyak sekali problem lain, ibarat sisa barang Sony yang berada di gudang Delmonico, alhasil Sony mulai membuka jalur distribusi sendiri di Amerika.
Dukungan Pemerintah Jepang untuk Sony

Di Jepang, Sony juga terus meningkatkan diri. Mereka membangun pabrik di Atsugi dan laboratorium penelitian yang lebih canggih untuk memastikan Sony sanggup mengikuti tren teknologi terkini. Karena harus menangani penjualan di Jepang dan Amerika Serikat, Pemerintah jepang kemudian memperlihatkan izin khusus kepada Sony untuk menerbitkan saham ADR (American Depositary Recept). Ini ialah pertama kalinya pemerintah memperlihatkan keistimewaan semacam itu kepada sebuah perusahaan.
Sederhananya, ADR ialah sistem di mana saham Jepang sanggup diperjual belikan di pasar sekuritas Amerika. Status ini memungkinkan Sony juga menarik permodalan dari investor Amerika Serikat. Masalah yang menyertai penjualan saham gila antara lain rentan terhadap pencurian, fluktuasi nilai, dan risiko valuta gila selama perpindahan saham. Masalah lainnya ialah kesulitan untuk mengusut autentikasi saham Jepang. Pembayaran kepada pemegang saham di Amerika Serikat juga lebih sulit. Meskipun demikian, ini tidak menyurutkan minat investor di AS, alasannya ialah Sony merupakan perusahaan yang berkembang pesat di negara tersebut. Sony juga bisa menjual sahamnya di New York Stock Exchange (NYSE) yang memperlihatkan betapa prestisiusnya perusahaan ini. Penerbitan saham ADR Sony ini resmi dan berhasil mendapatkan investasi senilai 2,1 miliar yen.
Transistor yang Merevolusi Televisi

Setelah radio dan tape recorder menjadi produk paling laku untuk Sony, televisi menjadi sasaran berikutnya. Seperti yang diungkap sebelumnya, Sony berhasil memproduksi televisi dengan berbasis transistor ibarat produk-produk awalnya. Pembuatan pabrik gres dan laboratorium penelitian Sony memudahkan mereka untuk merancang sebuah produk yang revolusioner.
Departemen Semikonduktor menjalankan serangkaian produksi tabung sinar katode secara rahasia. Ini kemudian menghasilkan sebuah televisi yang mempunyai sudut defleksi 70°. Ini tingkatan gres yang belum pernah dicapai oleh sebuah televisi sebelumnya. Sony memulai produksi massal pada November 1961 sesudah puas dengan hasil prototype miliknya. Beberapa problem sempat timbul, antara lain perbedaan kualitas gambar antara malam hari dan siang hari yang diakibatkan oleh sinkronisasi tabung. Namun kerja keras tim produksi alhasil bisa mengatasi problem ini.
Situasi yang unik sempat terjadi pada persiapan produksi televisi ini. Kaisar dan Permaisuri Jepang yang mengunjungi Sony ingin melihat calon produk pujian Jepang ini. Morita dan Ibuka memandu Kaisar untuk menyaksikan televisi mungil produk mereka dan dengan hati-hati memohon kepada Kaisar untuk tidak menceritakan detail televisi ini kepada publik alasannya ialah nantinya akan menimbulkan para pesaing ‘terinspirasi’ untuk memakai teknologi serupa. Kaisar yang juga merasa besar hati atas prestasi Sony selama ini tidak keberatan. Namun wartawan yang mengikuti kunjungan Kaisar dengan kreatif menciptakan tajuk gosip yang booming di kemudian hari, “Kaisar Diminta Diam!” Salah satu bab artikel mengungkapkan, “Televisi Sony yang seukuran kartu pos, diproduksi dalam kondisi sangat rahasia, dipamerkan kepada Kaisar dan Permaisuri sebagai tamu istimewa. Kaisar diminta untuk menjaga kerahasiaannya.” Publik pun makin dibentuk bertanya-tanya oleh keistimewaan produk Sony ini. Akhirnya pada 17 April, TV5-303, televisi berwarna paling ringan di dunia, diumumkan kepada publik!
Berita perihal televisi ini menghias banyak sekali koran dan media. Publik ramai mempercakapkan televisi yang disebut-sebut sebagai ‘paling canggih di dunia’ di masa tersebut. Frank Sinatra, penyanyi kenamaan di tahun 60-an sangat terkesan oleh produk Sony ini. Pada dikala TV5-303 dirilis, Sinatra sedang berada di Jepang. Produk ini belum dijual di Amerika, dan Sinatra selama berada di Jepang sangat menikmati kecanggihan televisi ini. Sinatra kemudian menelepon Ibuka secara khusus menyatakan apresiasinya. Sinatra bercerita bahwa ia sangat menyukai televisi Sony. Sinatra meminta untuk bisa mendapatkan produk yang bisa dibawanya ke Amerika Serikat dengan spesifikasi yang tentu saja sanggup diputar di Amerika nantinya. Berhadapan dengan bintang dunia ini, Ibuka tidak sanggup menolak. Dia berjanji untuk menyiapkan TV5-303 yang sudah di-setting khusus untuk Amerika Serikat. Memang perlu waktu agak usang bagi Sony untuk mempersiapkan televisi ini. Namun kemudian, Ibuka sendiri berangkat ke Amerika Serikat untuk menyerahkan televisi tersebut ke Paramount Pictures, kawasan Sinatra sedang syuting sebuah film.
Pada dikala itu, TV5-303 belum dijual di Amerika. Sinatra dengan besar hati memamerkan perangkat televisi itu kepada teman-teman wartawannya dan menyebut Ibuka sebagai ‘sahabat’-nya yang telah memungkinkan semua ini. Amerika heboh. Pemberitaan perihal televisi Sony meledak di mana-mana. Sony sendiri mulai menjual TV5-303 pada 1 Oktober 1962. Karena sebelumnya sudah terkenal lewat Sinatra dan disebut-sebut sebagai televisi terbaik di dunia, Showroom Sony di 5th Avenue ramai dipadati oleh orang-orang yang antre membeli televisi tersebut!

Dalam waktu singkat micro-TV meledak di AS. Ini kesuksesan yang begitu dahsyat sampai bahkan Morita dan Ibuka, serta seluruh staf Sony lainnya tak pernah menduganya. Tokyo mengirimkan televisi ke New York dengan susah payah alasannya ialah volume pesanan begitu besar. Kesuksesan ini bahkan alhasil membuka bisnis baru. Sony bekerja sama dengan Pan American, perusahaan penerbangan raksasa Amerika untuk mengirimkan produk-produk Sony! Televisi Sony mendominasi pasar Amerika dengan dahsyat!
Bagaimana usaha Sony untuk mempertahankan kesuksesan di Amerika? Perjuangan Sony di masa modern akan dibahas di episode berikutnya Kisah Silicon Valley #73 – Sony di Era Pertumbuhan Teknologi Amerika.
Referensi
Hayashi, Nobuyuki. 2014. The tales of Steve Jobs & Japan: Casual friendship with Sony. Nobi.
Kahney, Leander. 2010. Steve Jobs’ Sony Envy [Sculley Interview]. CultofMac.
Sony Corporate Info. Sony.
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #72 – Dominasi Baru di Amerika"
Post a Comment