Kisah Silicon Valley #43 – Benarkah Elop Sengaja Disusupkan ke Nokia?

Saat Stephen Elop diumumkan sebagai CEO gres Nokia, formasi wartawan yang berada di baris depan konferensi pers berebut bertanya, namun ternyata pertanyaan mereka semua sama: “Apakah Microsoft akan membeli Nokia?”
Itu merupakan pertanyaan yang masuk akal mengingat sejarah Elop di Microsoft. Pertanyaan mengenai terpilihnya Elop sebagai CEO tersebut kemudian disusul hadirnya banyak misteri yang mana chairman Nokia, Jorma Ollila, menolak untuk menjawabnya: Mengapa orang luar dari Finlandia tersebut dipilih sebagai CEO gres Nokia? Apakah alasan logis menggunakan operating system untuk smartphone di luar Nokia? Mengapa mengabaikan MeeGo atau Platform Android? Mengapa talenta-talenta Nokia kemudian menghilang?
Setelah 30 Tahun

Saat itu 10 September 2010. Mayoritas staf Kauppalehti, surat kabar bisnis terkemuka di Finlandia sedang menghadiri sebuah seminar pagi di sentra kota Helsinki. Mereka yang tidak ikut hadir di seminar membantu produksi info online pagi dan merencanakan koran hari selanjutnya. Lalu sebuah press release melintas di layar editor Niko Ranta. Judul rilisan resmi itu begitu mengejutkan sehingga tanpa sadar Ranta berteriak membaca judulnya. Spontan suasana kantor hiruk pikuk. Seakan diguncangkan oleh kekuatan maha dahsyat, staff surat kabar yang mengikuti seminar berlarian pulang menuju ke kantor. Mirjami Saarinen, salah seorang staf yang tadinya mengikuti seminar masih mengingat momen tersebut dengan jelas. Saat itu hari Jumat, Kauppalehti umumnya akan menerbitkan press release yang diterimanya ketika itu pada hari Senin. Namun info itu begitu penting sehingga Saarinen jadinya memanggil semua editor untuk mengerjakan info tersebut kini juga. Berita online harus diterbitkan ketika itu juga, sementara versi surat kabarnya bisa menyusul Senin besok. Press Release tersebut yaitu perihal dipecatnya CEO Nokia, Olli-Pekka Kallasvuo!
Meskipun resmi menjabat sebagai CEO semenjak 2006, Kallasvuo sudah bekerja di Nokia semenjak 1980. Waktu yang cukup untuk menyampaikan bahwa Kallasvuo yaitu wajah Nokia itu sendiri! Sepanjang jabatannya sebagai direktur Nokia, Kallasvuo dikenal sebagai ‘orang kuat’ dan ‘tak mungkin dilengserkan’. Apalagi Nokia yaitu sebuah perusahaan yang secara tradisional mempunyai imbas besar pada Finlandia, antara diagungkan dan ditakuti. Tidak ada satu pun media yang boleh mengkritik perusahaan ini.
Karena itu sangat mengejutkan bagi pers setempat bahwa alih-alih menunjuk Anssi Vanjoki, figur berpengaruh di Nokia lainnya, perusahaan ini malah menunjuk orang Kanada yang ‘tidak dikenal’ oleh masyarakat Finlandia: Stephen Elop!
Sebuah Pergeseran Rencana

via Miltton
Jorma Ollila, chairman Nokia ketika itu memperkenalkan Elop dan menekankan ‘sensitivitas’ Elop terhadap perbedaan kebudayaan, kemampuannya memahami tradisi Nokia dan esensi ‘mental Finlandia’ dalam diri perusahaan. Lalu tibalah giliran sang CEO gres berbicara. Sang laki-laki Kanada melangkah pelan, meletakkan gelas kristal minumannya, kemudian menjabat dekat tangan Ollila. Saat Elop mulai berbicara, hanya butuh beberapa detik bagi para jurnalis yang memenuhi konferensi pers tersebut untuk menyadari: Pria ini yaitu pembicara kelas atas! Master dalam menyusun kata-kata! Bahasa Inggrisnya sangat fasih dan lancar (Tidak ibarat Olli-Pekka Kalasvuo), intonasi, nada suara, dan pilihan katanya sangat meyakinkan.
Elop memulai dengan menekankan bahwa duduk masalah yang dihadapi oleh Nokia ini merupakan peluang besar. Nokia mempunyai kekuatan yang luar biasa, khususnya terletak pada sumber daya manusianya yang tiada banding. Elop meyakinkan bahwa beliau akan mendengarkan para karyawan dan pelanggan dengan sangat cermat. Tak lupa juga beliau meyakinkan para pendengarnya betapa bahwa beliau yaitu penggemar Nokia semenjak dulu kala, bahkan merasa berdarah Finlandia saking terinspirasinya beliau pada etos kerja masyarakat di sini. Seorang wartawan menggambarkan bahwa dengan kemampuannya berbicara, mungkin Elop bisa masuk ke perkemahan Osama bin Laden dengan santai kemudian mengajaknya pindah agama.
Saat sesi tanya jawab dan ditanya planning Nokia selanjutnya, Elop juga bisa menjelaskan poin-poin utama secara gamblang dan mengalir. Semua orang di ruangan tersebut merasa yakin bahwa Nokia akan selamat! Nokia berada di tangan yang benar!
Penelusuran soal Terpilihnya Elop

Beberapa hari kemudian, Bloomberg Businessweek mengulas tuntas profil Stephen Elop. Disebutkan bahwa CV laki-laki Kanada tersebut telah mengesankan Ollila yang ketika itu memimpin dewan direksi. Elop pernah memimpin bisnis Microsoft Office senilai USD 19 miliar, salah satu bisnis yang paling menguntungkan di dunia. Elop juga mempunyai reputasi sanggup menahan tekanan dan sanggup mengatasi konflik internal.
Pertama kali Stephen Elop berjumpa dengan para pimpinan Nokia yaitu pada tahun 2009, ketika Nokia dan Microsoft sedang dalam perundingan untuk pengadaan aplikasi Microsoft Office bagi smartphone produk Nokia. Negosiasi tersebut berjalan sangat alot. Nokia ketika itu sedang di puncak kejayaannya, sementara Microsoft sudah populer kaku dalam berunding dan hobi memakai ‘otot’-nya untuk menggertak dan mengintimidasi lawan. Masalah itu sudah tampak dari awal ketika para direktur Nokia mengajukan kontrak tebal dalam kertas yang ditulis secara tradisional – Sesuatu yang tentu saja dibenci oleh pengacara-pengacara Microsoft yang merasa lebih berbudaya modern. Perundingan macet selama berbulan-bulan.
Baru ketika April, direktur Nokia Kai Oistamo dan timnya bertemu tim perundingan Microsoft yang baru. Mereka dipimpin oleh Stephen Elop, seseorang yang pribadi membuat kesan yang baik di kalangan tim Nokia alasannya yaitu keterbukaan dan niatnya yang terperinci bahwa beliau ada untuk ‘membantu mengatasi masalah’ – bukan untuk mencari keuntungan. Pada bulan Mei, Nokia bersedia menandatangani perjanjian dengan Microsoft!
Meskipun beberapa surat kabar optimis terhadap penunjukan Elop, banyak juga yang skeptis. Kaleva, sebuah koran dari Oulu bertanya-tanya perihal apa yang akan terjadi terhadap fungsi Nokia di Finlandia bila orang Kanada mengepalainya: “Apa yang akan terjadi pada pabrik Nokia di Salo dan Oulu?” demikian tajuk yang ditulis Kaleva.
Frankfurter Allgemeine Zeitung, sebuah koran Jerman menganalisis bahwa Elop yaitu peluang terakhir Nokia. Financial Times dari Inggris memuat wawancara dengan Elop dan Ollila yang menekankan bahwa Nokia bukannya mengabaikan operating system miliknya. Ollila bahkan menekankan bahwa Elop bukan dipekerjakan untuk memperbarui seni administrasi Nokia.
Media-media Amerika bahkan hampir semuanya mewaspadai Elop. Seattle Times mengulas bahwa Elop memang seorang yang berbakat, tapi nyaris mustahil menjadi CEO Microsoft. “Siapa pun yang dipekerjakan Nokia, bila bukan Steve Jobs, maka tidak akan mungkin menyelamatkan perusahaan itu dari ‘ketidakjelasan’. Tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke pasar ponsel. Masalah terbesar Nokia yaitu bahwa perusahaan tersebut tidak berada dalam radar demografi AS yang merupakan pasar terbesar ponsel.” Demikian ulasan CNBC mengenai Elop.
Wall Street Journal meyakini bahwa kiprah utama Elop di Nokia yaitu mengakibatkan perusahaan ini sebagai rival utama bagi iPhone milik Apple – Sesuatu yang dianggap gagal dilakukan oleh Kallasvuo. Elop dikenal sebagai pemimpin yang pragmatis, yang sanggup mengubah sebuah entitas besar menjadi bagian-bagian kecil yang gampang dikelola. Dengan kata lain, Elop diyakini bisa mengarahkan Nokia untuk mendapat fokus gres guna bersaing kembali di pasar ponsel.
New York Times memiliki ulasan yang lebih realistis. Koran ini menulis bahwa terpilihnya Elop menyampaikan bahwa kerjasama Nokia dan Microsoft akan lebih dekat dari sebelumnya. Nokia pada tahun 2010 masih belum bisa menembus pasar AS, sementara Microsoft sudah mempunyai ‘jalan tol’ dengan tidak mengecewakan larisnya Windows Mobile di Amerika. Microsoft juga mempunyai kekerabatan baik dengan empat penyedia layanan telepon seluler Amerika yang melayani nyaris 90% ponsel di seluruh AS.
Situasi Nokia pada ketika Elop Masuk

Telah terperinci bahwa bisnis ponsel yang mulai menurun yaitu alasan Kallasvuo dipecat. Nokia mempunyai dua bisnis utama yang memanjakan Finlandia – serta sebagian besar Eropa: Bisnis ponsel dan jaringan telekomunikasi. Setelah sebelumnya ponsel meraja, dan jaringan telekomunikasi ikut menikmati ramainya layanan berlangganan dengan memanfaatkan ponsel Nokia, mereka perlahan-lahan ditekan oleh kompetitor yang gres muncul: iPhone!
Popularitas iPhone mulai meroket pada tahun 2009. Pada tahun 2010, iPhone sudah menjadi pesaing utama Nokia di Eropa! Perlahan-lahan Nokia kehilangan pangsa pasarnya. Menurut Strategy Analytics, pangsa pasar Nokia menyusut sampai 34,4% pada animo panas 2010, sehabis sebelumnya mempunyai 38% pangsa pasar. Nokia memang berhasil menjual 26,5 juta smartphone di pasar, meningkat 61% dari tahun sebelumnya. Akan tetapi bila melihat tingkat adopsi smartphone pada masa itu, maka ‘kue bagian’ Nokia sangat kecil. Pangsa pasar smartphone sedang naik pesat dan penjualan perangkat berakal itu pun meroket!
Apa penyebab semua ini? Elop menunjuk pada sebuah survei pasar: Symbian OS tidak fleksibel dan tidak diminati oleh developer yang sedang tertarik oleh tren iOS dan Android! Para programmer di Silicon Valley lebih peka dalam menangkap tren terkini dalam pengembangan software. Google dan Apple saling bersaing dalam hal ini. Sedangkan Symbian milik Nokia jadi terlihat ibarat sebuah kesalahan besar. Kesimpulan: Tinggalkanlah kapal!
Berpeganganlah! Arc tentang Nokia ini bakal sangat panjang. Kisah Silicon Valley selanjutnya akan mengulas alasan mengapa Nokia harus menentukan Windows Phone dan mengabaikan OS lain. Baca ahad depan di Kisah Silicon Valley #44 – Alasan-Alasan (Elop) Mengapa Nokia Memilih Windows Phone.
Referensi:
Nykanen, Pekka & Salminen, Merina. (2015). Operatioo Elop. Nokian matkapuhelinten viimeiset vuodet.
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #43 – Benarkah Elop Sengaja Disusupkan ke Nokia?"
Post a Comment