Kisah Silicon Valley #33 – Dari Baltik ke Silicon Valley

“Watson, kemarilah – saya ingin melihatmu.”
Itu ialah kalimat yang diucapkan Alexander Graham Bell ketika menelepon asistennya, Thomas Watson, untuk pertama kalinya sesudah ia membuat perangkat tersebut pada tanggal 10 Maret 1876. Sebuah pencapaian yang tercatat dalam sejarah.
127 tahun kemudian, seorang cowok asal Luksemburg tampil di podium dan berkata, “Ide membayar tagihan untuk telepon, ialah ide kala lalu. Software Skype memperlihatkan orang-orang ‘kekuatan’ gres untuk sanggup terhubung dengan teman-teman keluarga dengan mengambil laba dari investasi teknologi dan konektivitas.”
Publik bertepuk tangan. Niklas Zennstrom ketika itu meresmikan nama gres untuk softwarenya, KaZaA, yang diganti menjadi Skype. Ide dibalik nama gres itu sederhana. Software tersebut memakai sistem yang mereka sebut “Sky Peer to Peer” (hubungan antar sahabat lewat angkasa), jikalau dipendekkan menjadi “Skyper” – Sayangnya ketika itu nama domain “Skyper” sudah ada yang memiliki. Akhirnya mereka menggunakan: Skype.
Sesuai ucapan Zennstrom, Skype melahirkan sebuah revolusi gres di bidang komunikasi yang belum pernah dibayangkan insan sebelumnya.
Awal Milenium

“Saya tahu, semua sudah selesai ketika saya mengunduh Skype. Saat penemu KaZaA membagikan aktivitas kecil untuk berbicara dengan orang lain ini, dan kualitasnya fantastis, dan GRATIS – semua sudah selesai. Dunia akan berubah sekarang.”
Demikian ucapan Michael Powel, Chairman FCC (Komisi Komunikasi Federal AS), ketika menanggapi popularitas Skype di awal 2000-an. Pada masa itu, demam dot-com (pendirian perusahaan yang mencari laba lewat web dan aplikasi) sedang melanda Amerika. Berita-berita kesuksesan perusahaan semacam itu bergema hingga Eropa. Situasi di AS tersebut menarik perhatian dua orang yang bekerja di perusahaan telekomunikasi Swedia, Tele2, yaitu Niklas Zeenstrom dan Janus Friis. Mereka berdua melihat peluang bisnis gres menyaksikan tingkah polah pengguna teknologi di Amerika. Dari sering mengobrol santai, alhasil mereka membuat produk berjulukan KaZaA.
KaZaA ialah software membuatkan file dengan sistem P2P, yang mana memungkinkan sebuah file untuk ditransfer eksklusif dari satu komputer ke komputer yang lain tanpa memakai server perantara. Ini diilhami dari matinya napster, situs membuatkan mp3 yang eksklusif ‘tewas’ sesudah kebanjiran traffic. Ini tentu saja merupakan konsep yang revolusioner. Dalam mengembangkan aktivitas ini, mereka dibantu oleh Jaan Tallinn, seorang programmer berstatus freelancer yang banyak mengerjakan proyek dari Tele2.
Apa manfaat software semacam ini? Tentu saja ibarat yang kita bayangkan: membuatkan mp3, film, software bajakan, dan banyak lagi. Seiring popularitas KaZaA di dunia internet, maka ‘nama besar’ mereka eksklusif ‘mengundang perhatian’ para penegak hukum. Para pengguna KaZaA menghadapi tuntutan atas pembajakan dan pelanggaran hak cipta banyak sekali karya musik, film dan software. Apalagi pencurian musik merupakan hal yang mengundang perhatian serius bagi masyarakat AS.
Para pembuat KaZaA sendiri hidup dihantui ketakutan akan ditangkap polisi. “Saat seseorang mengetuk pintu, dan kita tidak yakin siapa itu, maka Niklas akan bersembunyi di bawah meja,” demikian salah seorang rekan programmer membuatkan cerita. Ketiga orang tersebut menjadi paranoid. Mereka mulai mengenkripsi semua korespondensi dan hard drive milik mereka. Email tidak disimpan selama lebih dari enam bulan. Zennstrom mengubah nomor teleponnya nyaris sesering ia berganti celana dalam.
Meskipun terperinci biang dilema bagi penegak hukum, bagi para pengguna internet, mereka dielu-elukan ibarat pahlawan. Karena berada di Eropa, tidak semudah itu para penegak aturan AS menjangkau mereka. Zennstrom dan Friis sendiri menghindari mengunjungi AS selama bertahun-tahun alasannya ialah ketakutan akan ditangkap sesampainya di sana. Karena tidak tenangnya kehidupan mereka, para pendiri KaZaA sempat menghubungi pengacara di AS untuk ‘mengajukan perdamaian’. Sayangnya perjuangan mereka tidak berhasil.
Lahirnya Skype
Karena merasa kehidupan mereka tidak tenang, para perintis KaZaA alhasil berupaya membuat aktivitas berbasis P2P gres lainnya yang sekiranya lebih kondusif dari dilema hukum. Karena akan sangat disayangkan jikalau paten teknologi KaZaA berakhir sia-sia. Awalnya mereka sering membahas hal ini di kafe favorit mereka, Valli Baar.

Bar tersebut tidak mempunyai Wi-Fi, sehingga Zennstrom dan Friis merencanakan untuk membuat aktivitas membuatkan Wi-Fi. Entah kenapa pembicaraan mereka berbelok dari membicarakan dilema ‘berbagi Wi-Fi’ jadi alhasil membahas sebuah ‘telepon lewat Wi-Fi’ dan berakhir dengan kesimpulan: Mereka harus mencoba sebuah software yang sanggup dipakai untuk menelepon, berkirim pesan, dan tetap membuatkan file secara P2P! Pada demam isu semi 2003, versi alpha Skype dikodekan dan dibagikan untuk testing kepada 20 orang.
Berbicara kepada komputer pada ketika itu terdengar konyol. Sama konyolnya dengan berbicara dengan ‘tangan’ ketika pertama kali ponsel muncul. Feedback terhadap versi awal Skype tidak memperlihatkan antusiasme. Suaranya penuh gangguan, dan banyak dilema lainnya. Tapi jikalau membayangkan bahwa kita sanggup berbicara dengan orang lain tanpa memandang batas jarak dan TANPA BIAYA, maka ini terasa revolusioner!
Skype tidak pernah dimaksudkan untuk ‘melanggar hukum’, namun sayangnya, pada awal popularitasnya berkembang, software ini banyak sekali dipakai oleh kriminal. Saling menelepon, memberi laporan, membuatkan file, tanpa adanya jejak rekaman yang sanggup ditelusuri ibarat halnya telepon, tentu saja merupakan hal yang menguntungkan! Polisi internasional pun menjadi gemas oleh software ini. Apalagi pada era berkembangnya carding (pencurian data kartu kredit yang kemudian dipakai untuk berbelanja melalui internet), Skype ialah salah satu alat utama untuk membuatkan file bagi para pelaku kejahatan internet tersebut. Karena sudah ingin ‘hidup lurus’ dan tidak lagi ingin diganggu tuntutan hukum, perusahaan yang didirikan Zennstrom dan Friis ini berupaya keras memerangi kejahatan internet, bahkan bekerja sama dengan kepolisian untuk membantu mengungkap kriminalitas internet yang memanfaatkan teknologi mereka.
Keberhasilan Skype mengakibatkan beberapa perusahaan telekomunikasi tertarik, kemudian mengembangkan software serupa. Misalnya perusahaan telekomunikasi Estonia, Elion, membuat software Netifon yang pada awalnya kelihatan lebih keren dari Skype. Sayangnya tidak berapa lama, aktivitas tersebut ditutup alasannya ialah ‘terlalu rumit bagi pengguna’. Skype sendiri mempunyai laba jikalau dibandingkan kompetitornya alasannya ialah sangat matang. Program ini sanggup menyelinap gampang melalui firewall, tidak meninggalkan jejak di internet, dan bahkan bunyi yang dikirimkan sudah mulai bening dengan interface yang gampang dioperasikan! Seorang programmer awal Skype, Lauri Tepandi, dengan gembira menyatakan, “Sejak awal, kami sudah menulis aktivitas tersebut semoga sederhana, gampang diinstal dan dipakai oleh ibu rumah tangga tanpa pengetahuan perihal firewall, IP Address, atau istilah teknologi lainnya.. Dan kami berhasil.”
Pada tahun 2003, Skype terdaftar secara resmi sebagai perusahaan dagang di Luksemburg. Hanya tujuh orang yang memegang saham perusahaan ini: Zennstrom, Friis, serta para programmer yang sudah malang melintang bersama mereka semenjak awal: Annus, Geoffrey Prentice, Tallinn. Setelah sempat mengalami pasang surut keuangan alasannya ialah harus membiayai infrastruktur (yang harus ditingkatkan terus menerus alasannya ialah jumlah pemakainya yang semakin melimpah), alhasil Zennstrom dan Friis memutuskan bahwa perusahaan ini harus go-public dan mendapatkan investasi!
Visi dan misi perusahaan yang jelas, serta produk yang unggul, mengakibatkan Skype sangat menarik di mata investor. Perusahaan ini ‘melantai’ di bursa saham untuk pertama kalinya pada 29 Agustus 2003. Uniknya, tim Skype yang ketika itu hanya berjumlah 20 orang, merayakan kesuksesan mereka dengan menonton Startup.com – sebuah film dokumenter tentang bubble teknologi (bangkrutnya perusahaan-perusahaan berbasis dot-com dan teknologi di awal 2000-an). Pada hari pertamanya, Skype diunduh oleh 10.000 orang. Hanya dalam beberapa bulan, Skype sudah mengumpulkan satu juta pengguna!
Skype semakin terkenal dan orang-orang bertanya-tanya hingga sejauh mana mereka sanggup sukses. Ikuti kisah penaklukan Skype terhadap dunia telekomunikasi selanjutnya dalam Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi
Referensi
Aman. (2011). Skype – The Success Story! [Infographic]. Technolism
Angelov, Bojan. Skype: Leading the VOIP Revolution. Case Study. Polytechnic University.
Jacob, Jijo. (2011). The rise and growth of Skype: A Baltic success saga. ibtimes.
Manzoor, Sarfraz. (2010). Why Skype has conquered the world. The Guardian.
Tanavsuu, Toivo. (2013). “How can they be so good”: Strange story of Skype. Arstechnica.
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #33 – Dari Baltik ke Silicon Valley"
Post a Comment