Kisah Silicon Valley #97 – Berjuang demi masa depan lebih fantastik

Banyak orang yang menyamakan tingkat ambisi Elon Musk ibarat Steve Jobs dan Bill Gates Kisah Silicon Valley #97 – Berjuang demi masa depan lebih fantastik

Banyak orang yang menyamakan tingkat ambisi Elon Musk ibarat Steve Jobs dan Bill Gates. Steve Juvertson, investor Tesla yang mengenal Gates dengan baik dan pernah bekerja untuk Steve Jobs, menyatakan pendapatnya terkait perbandingan ini, “Elon mempunyai apresiasi mendalam terhadap teknologi, perilaku sebagai seorang visioner, dan determinasi untuk mengejar sesuatu dalam jangka panjang – ibarat halnya yang dimiliki oleh Jobs dan Gates. Dia mempunyai kepekaan terhadap citarasa konsumen ibarat halnya Jobs, namun mempunyai kemampuan untuk mempekerjakan orang-orang terbaik di area yang menimbulkan ia nyaman ibarat Bill. Anda akan merasa bahwa jikalau Bill dan Steve mempunyai anak dari persilangan genetika, maka ia ialah Elon Musk. Seperti Jobs, Elon tidak punya toleransi untuk pemain kelas C atau D. Tapi ia lebih ramah daripada Jobs, dan lebih cepat dalam melaksanakan perbaikan dibandingkan Bill Gates.”

Meskipun demikian, ada satu hal yang membedakan motif Elon dibandingkan kedua tokoh Silicon Valley tersebut. Elon terperinci menyukai uang. Namun terlihat dari semua keputusannya, bahwa uang ini merupakan sarana yang ia manfaatkan untuk mencapai sebuah tujuan yang lebih besar, lebih daripada menjual barang kepada konsumen. Dia ingin merevolusi dunia!

 

Mainan Baru Elon Musk: SolarCity

Banyak orang yang menyamakan tingkat ambisi Elon Musk ibarat Steve Jobs dan Bill Gates Kisah Silicon Valley #97 – Berjuang demi masa depan lebih fantastik

Rive bersaudara tumbuh di Afrika Selatan, sama halnya dengan sepupu mereka, Elon Musk. Mereka juga membuatkan harapan yang sama dengan sang sepupu untuk menimbulkan bumi ini lebih baik. Pada tahun 2004, Lyndon, Peter, dan Russ Rive sering bepergian bersama Elon ke Black Rock, sebuah padang pasir ternama di Amerika Utara. Mereka menikmati berkemah bersama sambil melaksanakan ‘brainstorming’ untuk penelitian teknologi atau bisnis mereka selanjutnya. Elon mengetahui bahwa sepupu-sepupunya ini mempunyai tujuan yang besar, namun ia tidak pernah mendorong mereka untuk membahasnya. Dia ingin biar mereka berupaya dengan maksimal terlebih dahulu dengan visi-visinya. Saat berada di padang pasir dengan sinar matahari yang menyengat bersama lautan pasir, Lyndon mencetuskan wangsit bahwa dengan panas ibarat ini seharusnya tempat ini bisa diubah menjadi kota dengan sinar matahari sebagai sumber daya.

Rive bersaudara risikonya memutuskan untuk menjadi hebat di bidang industri panel solar atau energi matahari. Mereka mempelajari bidang ini dan rajin mengikuti program konferensi Solar Power International. Mereka bukan saja ingin menjadi hebat di bidang energi sinar matahari, namun lebih dari itu mereka ingin berbisnis di bidang panel surya.

Di masa itu, tidaklah simpel untuk mendapat panel surya untuk rumah. Konsumen harus proaktif mencari panel surya dan meminta seseorang untuk memasangkannya. Ide dari Rive bersaudara ialah menimbulkan mekanisme ini lebih mudah, sehingga orang akan simpel menyediakan panel surya untuk kebutuhan rumah tangga. Pada tahun 2006, mereka kemudian mendirikan perusahaan yang diberi nama: SolarCity. Tidak mau bersusah payah mendirikan manufaktur panel surya, SolarCity justru membeli banyak panel surya dari produsen untuk kemudian dirakit dan ditawarkan kepada konsumen, dengan software dari mereka sendiri. Enam tahun kemudian, SolarCity menjadi perusahaan ‘tukang pasang’ panel surya terbesar di AS!

Dari mana dana awal untuk melaksanakan pembelian produk panel surya tersebut? Tidak mengherankan, dana terbesar mereka mengalir dari sepupunya sendiri, Elon Musk, yang memutuskan untuk menjadi investor utama perusahaan tersebut alasannya ialah visinya untuk membuat energi yang ramah lingkungan. Elon sependapat bahwa untuk ketika ini, energi matahari ialah yang paling sesuai untuk membantu bumi yang sudah terlalu usang mengeksploitasi materi bakar migas. Elon bahkan membiayai penelitian untuk menimbulkan pemanfaatan energi surya semakin efektif.

Pada tahun 2014, SolarCity mengakuisisi pembuat panel surya berjulukan Silevo sebesar USD200 juta. Bisa ditebak, Elon berada di balik pembelian ini. Dialah yang bernegosiasi eksklusif dengan Silevo sesudah mendengar kabar bahwa sel baterai buatan Silevo 18,5 persen lebih efisien dalam mengubah cahaya menjadi energi. Dengan mengakuisisi Silevo, SolarCity bisa memproduksi panel surya sendiri dan ini tentu saja menimbulkan perusahaan ini semakin kuat. Pada final 2015, tercatat bahwa SolarCity memasang solar panel yang menghasilkan daya sampai 2 gigawatt di seluruh Amerika Serikat.

 

Sistem Transportasi Sekejap

Banyak orang yang menyamakan tingkat ambisi Elon Musk ibarat Steve Jobs dan Bill Gates Kisah Silicon Valley #97 – Berjuang demi masa depan lebih fantastik
via nbc news

Pada tahun 2012, Elon benar-benar menjadi daya tarik Silicon Valley berkat ketiga perusahaan sukses yang dibidaninya: SpaceX, Tesla, dan SolarCity. Ketiganya masuk masa ‘panen’ sehingga Elon tinggal menikmati profit yang dihasilkan ketiga perusahaannya tersebut. Roket-roket yang diluncurkan oleh SpaceX, bahkan proteksi yang diberikannya kepada NASA menunjukan bahwa Elon Musk bukan pengusaha sembarangan. Dia bisa menuntaskan kiprah yang palingsulit sehingga orang-orang ramai ikut serta memperlihatkan investasi ketika Elon Musk memulai sebuah proyek atau memberi perhatian terhadap perusahaan tertentu. Dan ibarat biasa, Elon yang tidak pernah puas, kembali mencetuskan sesuatu yang menarik. Kali ini ia menjelaskan idenya mengenai sistem transportasi futuristik di masa depan yang sanggup mengirimkan insan melalui tabung berkecepatan ratusan mil per jam melalui jalur sebuah lorong panjang. Elon menyebut kendaraan transportasi massal ini sebagai Hyperloop.

Sistem Hyperloop ini dikerjakan oleh SpaceX. Elon memanfaatkan ilmuwan-ilmuwan jenius di SpaceX untuk melaksanakan penelitian untuk keperluan produksi Hyperloop. Masalah gres timbul: Siapa yang harus membuat infrastruktur untuk sistem Hyperloop ini? Tidak ada perusahaan di AS yang cukup absurd untuk mengikuti visi Elon dalam mengembangkan sebuah terowongan bagi Hyperloop ini. Apa yang dilakukan Elon? Seperti biasa, tidak sanggup menemukan perusahaan yang bersedia berafiliasi dengannya, Elon mendirikan perusahaan konstruksi yang tujuannya untuk membangun terowongan bagi Hyperloop. Nama perusahaan ini cukup unik: Boring Company

Proyek Boring Company ketika ini ialah membangun terowongan hyperloop dari Washington D.C ke New York. Entah bagaimana caranya, Elon berhasil meyakinkan para pemangku kekuasaan kedua negara potongan untuk memungkinkan proyeknya ini berhasil. Jika Hyperloop berhasil diselesaikan, maka orang bisa menempuh jarak dari Washington ke New York hanya dalam setengah jam!

 

Baterai Terbesar di Dunia

Banyak orang yang menyamakan tingkat ambisi Elon Musk ibarat Steve Jobs dan Bill Gates Kisah Silicon Valley #97 – Berjuang demi masa depan lebih fantastik
via reneweconomy

Tidak sanggup disangkal bahwa Elon ialah salah satu orang paling sibuk di dunia. Karena itu aktifnya Elon di medsos ialah sebuah anomali yang unik. Bukan sekedar twit omong kosong, suatu hari pendiri Atlassian Software, Mike Cannon-Brookes ‘menantang’ Elon untuk membuatkan baterai bagi Australia Selatan yang kekurangan energi bersih. Elon menjanjikan bahwa baterai sebesar 100 MW ini akan siap dalam 100 hari untuk dikirimkan kepada pemerintah Australia Selatan. Area tersebut mengalami kesulitan energi sesudah topan petir menghantam Queensland dan New South Wales, sehingga banyak sumber listrik yang mati dan tidak sanggup mengalirkan daya listrik.

Banyak orang yang menyamakan tingkat ambisi Elon Musk ibarat Steve Jobs dan Bill Gates Kisah Silicon Valley #97 – Berjuang demi masa depan lebih fantastik

Berawal dari twit yang terkesan omong kosong itu, Pemerintah Australia kini mempunyai baterai terbesar di dunia yang sanggup menghadirkan daya sampai 2500 megawatt untuk wilayah Australia Selatan. Ini merupakan kapasitas daya yang cukup untuk lebih dari 30.000 rumah!

Tesla sendiri memanfaatkan tindak amal tersebut sebagai promosi. “Selesainya baterai lithium-ion terbesar di dunia ini dalam jangka waktu yang singkat memperlihatkan bahwa solusi energi yang efektif dan berkelanjutan sangatlah memungkinkan!


Elon Musk sampai kini masih melanjutkan ‘hidup di dalam mimpi-mimpi’-nya. Namun bedanya, ia bukan seseorang yang sekedar bermimpi. Dia mewujudkannya. Perusahaan-perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah merupakan perwujudan visi dan kecintaannya terhadap upaya untuk menemukan energi higienis dan kemungkinan untuk menjelajahi antariksa di masa mendatang!

 

 

Referensi

Loudenback, Tanza. (2018). Elon Musk is worth about $23 billion and has never taken a paycheck from Tesla — here’s how the notorious workaholic and father of 5 makes and spends his fortune. Business Insider.

Vance, Ashlee. (2017). Elon Musk, Tesla, SpaceX and the Quest for a Fantastic Future

Weinberger, Matt. (2017). The incredible story of Elon Musk, from getting bullied in school to the most interesting man in tech. Business Insider


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #97 – Berjuang demi masa depan lebih fantastik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel