Kisah Silicon Valley #92 – Dari ‘Bukan Siapa-Siapa’ Hingga Tony Stark Dunia Nyata

Pertanyaan ini dilontarkan Elon Musk sehabis sebuah makan malam di sebuah restoran seafood Kisah Silicon Valley #92 – Dari ‘Bukan Siapa-Siapa’ Hingga Tony Stark Dunia Nyata
via New York Times

MENURUTMU AKU GILA?

Pertanyaan ini dilontarkan Elon Musk sehabis sebuah makan malam di sebuah restoran seafood kelas atas di Silicon Valley. Ashlee Vance, penulis biografi Elon Musk mengenang bahwa dikala itu laki-laki yang disebut-sebut ‘revolusioner’ itu tiba terlambat, mengenakan sepatu kulit, celana jins dan kaus polos. Tingginya bahwasanya hanya sekitar 170 cm, namun orang-orang setuju bahwa kesan yang ditimbulkan oleh kharismanya menyebabkan ia nampak lebih besar daripada itu. Pada makan malam ini, Musk sekaligus menyetujui Vance untuk menuliskan biografi dirinya sehabis beberapa tahun Vance melaksanakan penelitian ihwal laki-laki ini dan meminta izin kepadanya untuk melaksanakan wawancara pribadi semoga dunia lebih memahami keunikannya. Makan malam yang akan dikenang oleh Vance selamanya.

 

Bocah Ajaib dari Afrika Selatan

Pertanyaan ini dilontarkan Elon Musk sehabis sebuah makan malam di sebuah restoran seafood Kisah Silicon Valley #92 – Dari ‘Bukan Siapa-Siapa’ Hingga Tony Stark Dunia Nyata
via Business Insider

Mungkin pertama kali dunia mengenal nama Elon Reeve Musk – dalam kaitannya dengan teknologi – yakni pada tahun 1984. PC and Office Technology sebuah forum publikasi perdagangan Afrika Selatan, menerbitkan source code untuk video game dengan nama Blastar. Ini merupakan game sederhana di mana pemain harus menghancurkan pesawat alien yang membawa bom hidrogen dan mesin beam. Penulis source code tersebut yakni Elon Musk. Ini yakni zaman di mana PC masih dijalankan dengan DOS dan rangkaian command prompt. Kualitas Kode yang ditulis Elon Musk tersebut biasa saja, tidak menakjubkan, tidak mengherankan – kecuali satu hal: penulisnya masih berusia 12 tahun!

Lembaga penerbit majalah teknologi tersebut memperlihatkan upah USD 500 untuk sang penulis. Inilah hal yang menyebabkan bocah kecil tersebut mulai berpikir: ternyata programming menghasilkan uang. Nampaknya ‘kesuksesan’ inilah yang menyebabkan Musk kecanduan akan ‘kesuksesan’ serupa. Mendapatkan uang dari teknologi!

Game itu sendiri menggambarkan bagaimana Elon Musk hidup dalam khayalan-khayalan unik. Dia menyukai cerita-cerita pahlawan antariksa, superhero, dan bahkan bercita-cita untuk sanggup menemukan energi ‘bersih’ yang sanggup menghidupkan bumi kembali dari segala kerusakannya. “Mungkin saya membaca terlalu banyak komik dikala anak-anak,” ujar Musk dalam wawancaranya. “Dalam komik, tokoh-tokohnya selalu mencoba menyelamatkan dunia. Saya jadi yakin bahwa seseorang harus mencoba menyebabkan dunia ini sebagai daerah yang lebih baik sebab mustahil kita memutar roda waktu untuk menghentikan kerusakan bumi.”

Pada umur 14 tahun, Musk menghadapi krisis pencarian identitas yang cukup merisaukan. Musk lahir pada tahun 1971 di Pretoria, Afrika Selatan. Dia tumbuh besar di lingkungan yang religius, sementara ia mempunyai banyak sekali pertanyaan ihwal dunia, luar angkasa, galaktika, bagaimana bumi bekerja, yang kesemuanya itu biasanya oleh lingkungannya ‘diserahkan’ pada kuasa Tuhan. Seperti halnya Steve Jobs dan para geek lain, Musk mulai membaca karya Douglas Adam: The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy. Buku ini memperlihatkan wangsit tersendiri bagi Musk. “Dari buku itu saya berguru bahwa hal yang paling susah adalah menemukan pertanyaan yang tepat. Setelah menemukan pertanyaan tersebut, maka jawabannya akan relatif lebih mudah. Saya hingga pada kesimpulan bahwa kita harus mempunyai tahapan kesadaran diri tertentu untuk menemukan pertanyaan yang sempurna untuk ditanyakan pada diri sendiri.”

Lambat laun, Musk menyadari bahwa lingkungannya dikala ini bukanlah lingkungan yang sempurna untuk orang ibarat dirinya. Meskipun sebagai orang kulit putih di Afrika Selatan, Musk mempunyai banyak hak istimewa, akan tetapi ia menyadari bahwa ia harus ke daerah lain kalau menginginkan pendidikan, ilmu pengetahuan, jawaban-jawaban atas pertanyaan filosofisnya, dan mungkin lebih lanjut: menggapai cita-citanya untuk ‘menyelamatkan dunia’ dan ‘menjadikan bumi sebagai daerah yang lebih baik’.

 

‘Memulai Hidup’ di Kanada

Pertanyaan ini dilontarkan Elon Musk sehabis sebuah makan malam di sebuah restoran seafood Kisah Silicon Valley #92 – Dari ‘Bukan Siapa-Siapa’ Hingga Tony Stark Dunia Nyata

Tekad berpengaruh untuk mencapai impian ‘menyelamatkan dunia’ tersebut menyebabkan Elon semakin menggebu dan bersemangat untuk keluar dari Afrika. Terlebih lagi masa-masa Sekolah Menengan Atas merupakan masa yang suram baginya. Elon bersekolah di Pretoria Boys High School. Sebagai anak dengan banyak impian dan imajinasi tinggi, ia pribadi menjadi sasaran bully teman-teman lainnya. Sebagai sekolah khusus laki-laki, olahraga dan maskulinitas sangat dipuja di Sekolah Menengan Atas tersebut. Elon yang cenderung geek dan penyendiri tentu saja dianggap absurd dan pribadi jadi sasaran bully. Masa Sekolah Menengan Atas yang kelam itu menjadikannya makin ingin pergi. Kanada yakni daerah tujuan yang realistis baginya (sekaligus tentu saja kerikil loncatan untuk menuju ke Amerika Serikat, tanah impian bagi banyak orang). Kenapa Kanada? Jika dirunut silsilahnya, kakek Elon Musk berdarah Jerman, namun mempunyai kewarganegaraan Kanada. Ibu Elon sendiri, sebelum menikah dengan Errol Musk, ayah Elon, tercatat sebagai warga negara Kanada. Ternyata kewarganegaraan tersebut sanggup diwariskan kepada keturunannya. Makara Elon mempunyai hak untuk mengklaim kewarganegaraan kalau ia menginginkan.

Kemungkinan tersebut menyebabkan Elon bersemangat. Belum lagi fakta bahwa ia sangat mengagumi Amerika Serikat, Silicon Valley dengan segala kebesarannya. Tentu saja semua itu sanggup dicapai dengan gampang kalau ia berada di Kanada. Elon mengambil jalan yang nekad. Di usia tujuh belas tahun, sehabis lulus dari Pretoria Boys High School, ia mengambil kerja sambilan untuk menabung uang. Sementara itu, ia juga mengajukan paspor Kanada ke Kedutaan Kanada di Afrika Selatan. Di Afrika Selatan, ada kewajiban bagi para cowok untuk mengikuti wajib militer. Elon bersemangat untuk pindah sekaligus dengan niatan untuk menghindari kewajiban tersebut. Saat paspor dan visanya keluar, uang tabungan Elon hanya cukup untuk membeli tiket sekali jalan ke Kanada. Tanpa membuang waktu, ia pribadi berangkat!

Kepergian Elon yang tanpa izin orangtuanya ini tentu saja tidak dipikirkan dengan matang dan modal nekat belaka. Saat itu bulan Juni 1989, Musk tiba di Montreal dan berupaya menghubungi pamannya yang tinggal di Montreal. Terkejutlah ia sebab ternyata sang paman sudah pindah ke Minnesota. Hanya dengan bermodal tas berisi pakaian seadanya, Elon Musk berkeliling kota dan berupaya mencari anggota keluarga yang masih tinggal di sana. Untunglah salah seorang sepupunya bersedia menampung pelarian dari Afrika ini.

Selanjutnya Musk menghabiskan waktu di Kanada selama setahun berganti-ganti pekerjaan yang semuanya tidak bekerjasama dengan teknologi. Dia sempat bekerja di toko sayuran, menebang kayu, menjadi buruh tani, dan bekerja serabutan di sebuah kota kecil, Waldeck. Untunglah pendidikannya tidak berhenti. Ibu dan saudara-saudaranya kemudian menyusul ke Kanada seraya meminta maaf kepada keluarga yang direpotkan di sana. Maye Musk, ibu Elon, kemudian tetapkan untuk tinggal di Kanada semoga sanggup menjamin pendidikan kedua putranya. Kimbal, saudara Elon, karenanya juga ikut bersekolah di Kanada. Elon kemudian mendaftar kuliah di Queen’s University di Kingston, Ontario, pada tahun 1989. Saat itu bahwasanya ia lulus tes di Queen’s University dan University of Waterloo. Dia menentukan Queen’s dengan alasan sederhana: Lebih banyak cewek anggun di Queen’s (Tapi terbukti di kemudian hari, di sini memang ia bertemu dengan Justine, perempuan yang nantinya ia nikahi).

Pertanyaan ini dilontarkan Elon Musk sehabis sebuah makan malam di sebuah restoran seafood Kisah Silicon Valley #92 – Dari ‘Bukan Siapa-Siapa’ Hingga Tony Stark Dunia Nyata
Elon dan Justine, via Dailymail

Pada ekspresi dominan panas 1994, Elon dan saudara laki-lakinya, Kimbal, melaksanakan semacam petualangan ke Amerika. Mereka mengendarai kendaraan beroda empat BMW 320i menuju ke San Francisco. Saat itu web browser gres saja menjadi sesuatu yang terkenal dan Yahoo! sedang naik daun. San Francisco semakin kukuh menjadi kiblat dunia teknologi. Perjalanan mereka itu awalnya hanya sekedar ‘jalan-jalan’. Tapi ibarat biasa, Elon tidak sanggup menahan dirinya untuk ‘lebih bersahabat dengan impian’. Dia melamar untuk menjadi karyawan magang di beberapa startup di Silicon Valley. Kimbal panik dan meminta Elon untuk membatalkan niatnya tersebut dan ikut pulang dengannya ke Kanada. Tapi ibarat biasa, kepala kerikil Elon menang. Dia mendapat kesempatan bekerja di Pinnacle Research Institute di Los Gatos. Musk diminta untuk ‘bantu-bantu’ oleh kelompok ilmuwan yang meneliti ultracapacitor. Imajinasi Elon membumbung tinggi di sini. Ketika para ilmuwan tersebut berfokus untuk menjadikan ultracapacitor mendukung komputer semoga berjalan lebih cepat, Musk bahkan sudah membayangkan untuk menciptakan pedang laser, pistol laser, kendaraan hybrid, atau pendukung administrasi listrik dengan ultracapacitor. Musk jatuh cinta pada pekerjaannya di Pinnacle dan ia banyak memikirkan bisnis di masa depan berkat pengalamannya di Pinnacle.

Selain di Pinnacle, Musk juga ‘nyambi’ bekerja paruh waktu di Rocket Science Games, sebuah startup yang terletak di Palo Alto. Perusahaan kecil ini merancang video game, termasuk juga hardware ibarat cartridge dan CD. Elon menyukai startup ini sebab di sini ia sanggup berguru bagaimana komponen-komponen kecil berpadu menyusun sesuatu yang besar (meskipun dalam hal ini konteksnya yakni video game). Di Rocket Science Games, Elon diminta untuk menulis driver untuk menyebabkan joystick dan mouse berkomunikasi dengan banyak sekali komputer dan game. “Pada dasarnya, pekerjaan saya yakni mencari tahu bagaimana melaksanakan multi-tasking dengan peralatan yang disediakan, jadi Anda sanggup membaca video dari CD sambil menjalankan game di dikala yang sama. Ini pemrograman yang rumit, tapi benar-benar melatih saya.”

Pertanyaan ini dilontarkan Elon Musk sehabis sebuah makan malam di sebuah restoran seafood Kisah Silicon Valley #92 – Dari ‘Bukan Siapa-Siapa’ Hingga Tony Stark Dunia Nyata
Bruce Leak via Alchetron

Di Rocket Science Games, Musk mendapat bimbingan dari Bruce Leak, ini yakni salah satu programmer legendaris yang ikut serta merancang QuickTime di Apple. “Dia punya energi yang tidak terbatas,” ujar Leak ihwal Elon Musk. “Anak zaman kini tidak tahu problem hardware atau bagaimana peralatan komputer bekerja, tapi ia punya latar belakang hacker dan tidak takut untuk mencari tahu. Ini hal yang penting!”


Berikutnya Elon Musk akan menjadi boss mafia. Tapi bukan berandal sembarangan. Ikuti perjuangannya di Kisah Silicon Valley #93 – Boss PayPal Mafia.

 

 

 

 

Referensi

Loudenback, Tanza. (2018). Elon Musk is worth about $23 billion and has never taken a paycheck from Tesla — here’s how the notorious workaholic and father of 5 makes and spends his fortune. Business Insider.

Vance, Ashlee. (2017). Elon Musk, Tesla, SpaceX and the Quest for a Fantastic Future

Weinberger, Matt. (2017). The incredible story of Elon Musk, from getting bullied in school to the most interesting man in tech. Business Insider


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #92 – Dari ‘Bukan Siapa-Siapa’ Hingga Tony Stark Dunia Nyata"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel