Kisah Silicon Valley #84 – Dropbox: Yang Terbaik Terus Maju Tanpa Gentar

 Mark Zuckerberg mengirimi Drew Houston pesan melalui Facebook Kisah Silicon Valley #84 – Dropbox: Yang Terbaik Terus Maju Tanpa Gentar

Sekitar tahun 2009, Mark Zuckerberg mengirimi Drew Houston pesan melalui Facebook. Perlu waktu usang bagi Houston untuk membalas pesan tersebut secara resmi lewat email, alasannya yakni ia mengira ada seseorang yang mencoba mengerjainya (Houston sudah meragukan tipu-tipu lewat media umum semenjak lama).

Meskipun agak usang berselang sesudah pesan dari Zuckerberg, kedua CEO muda ini makan malam bersama dengan daging bison yang konon diburu sendiri oleh Zuckerberg. Pendiri Facebook itu berupaya mengakrabkan diri dengan Houston, sambil merujuk bahwa mereka berdua punya kesamaan, yaitu sama-sama ditawar oleh perusahaan besar (Facebook pernah ditawar oleh Google, Yahoo, dan Microsoft, namun Zuckerberg menolak semua anjuran itu dengan alasan ingin membuatkan Facebook sendiri). Karena itu mereka perlu bersatu untuk bekerjasama. Pada akhirnya, Zuck menyatakan bahwa ia tertarik dengan bisnis Houston dan menyatakan bahwa Facebook juga mempunyai ‘dana yang cukup’ kalau Houston ingin ‘menjadi bab dari korporasi Facebook’.

Houston menolak dengan halus. Dia menyampaikan alasannya yakni mereka ‘sama’, niscaya Zuckerberg juga memahami bahwa ia ingin membuatkan Dropbox. Kesamaan umur dan pandangan di banyak hal mungkin menjadikan pertemuan dengan Zuckerberg sangat berbeda dengan Steve Jobs, berlangsung dengan nyaris tanpa ketegangan. Zuckerberg bisa mendapatkan argumen Houston dan mereka tetapkan untuk berafiliasi di bidang-bidang yang memungkinkan.

Saat keluar dari rumah Zuckerberg, satu hal yang paling dikenang oleh Houston yakni pengamanannya. Mark Zuckerberg selalu mengesankan diri sebagai ‘pria biasa yang sederhana’, namun pengamanan terhadap aktivis aplikasi media umum dengan pengguna terbesar itu sangat masif. Ada banyak petugas keamanan yang berusaha untuk tidak terlihat mencolok kalau ada tamu, namun dari segi jumlah, tentu saja ini standar keamanan yang luar biasa. Ketika melangkah menuju mobilnya, bahkan Houston menyadari bahwa petugas keamanan yang menjaga mobilnya bangkit dengan posisi yang sama persis ibarat sebelum ia datang. “Saya tidak yakin bahwa saya ingin hidup ibarat itu,” ujar Houston mengisahkan pengalamannya bertemu Mark Zuckerberg.

 

iCloud: Bentuk Kemarahan Jobs pada Dropbox

 Mark Zuckerberg mengirimi Drew Houston pesan melalui Facebook Kisah Silicon Valley #84 – Dropbox: Yang Terbaik Terus Maju Tanpa Gentar
via Venturebeat

Dalam episode sebelumnya, dikisahkan Drew Houston menolak untuk menjual Dropbox ke Apple, juga menolak untuk ‘bergabung dengan jajaran elit developer Apple’ sebagai pribadi. Namun kelihatannya Jobs belum menyerah. Dia mengajak Houston untuk bertemu sekali lagi di kantor Dropbox di San Fransisco.

“Maaf, tapi sebaiknya kita bertemu di Silicon Valley. Saya tahu sebuah kawasan yang bagus,” ujar Houston dengan halus. Ini bukan tanpa alasan. Meskipun menolak semua minat Steve Jobs terhadap Dropbox, Drew Houston yakni pengagum berat Jobs. Dia tahu apa yang terjadi beberapa puluh tahun kemudian dikala Steve jobs ‘mengunjungi’ Xerox dan hasilnya menciptakan sebuah perangkat yang dipamerkan Xerox kepadanya: Mouse. (Bahkan Drew berkata pada teman-temannya, “Mengapa kita harus membiarkan musuh ‘mencicipi masakan kita’?”)

Firasat Houston tepat. Bulan Juni 2011, Steve Jobs naik ke panggung dan memperkenalkan iCloud. Pendiri Apple ini bahkan sempat banyaomong dan menyinggung Dropbox sebagai ‘upaya setengah-setengah’ untuk memecahkan dilema kekacauan internet: Bagaimana kita mendapatkan semua file kita, dari semua perangkat kita, dan menyatukannya dalam satu tempat.

Ketika menyaksikan presentasi Jobs, hanya satu kata yang terbersit dari bibir Houston, “Oh, shit!”

Houston tahu bahwa ini tidak sanggup dipandang remeh. Besoknya ia eksklusif mengumpulkan stafnya seolah menghadapi sebuah pertempuran. “Kita yakni salah satu perusahaan dengan pertumbuhan paling cepat di dunia, jadi kita akan menerangkan itu!”

 

Mempertahankan Dropbox

 Mark Zuckerberg mengirimi Drew Houston pesan melalui Facebook Kisah Silicon Valley #84 – Dropbox: Yang Terbaik Terus Maju Tanpa Gentar
Kantor Dropbox di San Francisco via Assets.Yellowtrace

Dropbox hanya berfokus pada hal-hal sederhana. Meningkatkan support pada semua perangkat, memastikan aplikasi yang dirilisnya minim bug, serta memastikan sistem bekerja ibarat yang diinginkan. Fitur dan kemampuan-kemampuan gres ditambahkan sesuai kebutuhan pemakaian dunia modern yang terhubung dengan internet. Perkembangan Dropbox sungguh mencengangkan. Tahun berikutnya mereka berhasil mencapai 50 juta pengguna, tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Semakin banyak orang yang ingin mendapatkan ‘hadiah’ dari layanan freemium khas Dropbox. Hal yang unik, pendapatan Dropbox pada selesai 2011 mencapai USD 240 juta, padahal 96% penggunanya yakni pengguna gratisan. 4% pengguna berbayar Dropbox saja sudah menunjukkan pendapatan sebesar itu, ini merupakan fakta yang sangat mengejutkan. Lebih mencengangkan lagi, pada dikala itu staf Dropbox hanya 70 orang dan sebagian besar adalah engineer. Setelah kesuksesan besar tahun 2011 itulah gres Houston mempertimbangkan untuk merekrut pegawai baru.

Tahun berikutnya, terjadi perkembangan yang lebih spektakuler. 96% pengguna yang tidak berbayar tersebut ‘kecanduan’ menyimpan file-filenya di Dropbox sehingga hasilnya mereka bersedia membayar langganan dengan bagan USD 10 per bulan untuk 50 giga dan USD 20 per bulan untuk 100 giga. Meskipun pada tahun 2012 pengguna Dropbox tidak banyak bertambah, namun penjualannya meningkat dua kali lipat.

Popularitas Dropbox bahkan menjadikan kata “Dropbox” menjadi sebuah kata kerja (seperti halnya “googling”). Para pengguna (yang didominasi kaum muda), biasa mengucapkan ke teman-temannya, “Dropbox saja file itu ke aku”. Ini tentu saja menjadikan Dropbox sebagai sentra perhatian di Silicon Valley. Investor mulai berbondong-bondong berebut ingin menanamkan uang ke perusahaan yang sedang ‘hot’ ini.

 

 

Alasan Kesuksesan Dropbox

 Mark Zuckerberg mengirimi Drew Houston pesan melalui Facebook Kisah Silicon Valley #84 – Dropbox: Yang Terbaik Terus Maju Tanpa Gentar

Para analis membahas bahwa ini dikarenakan Dropbox sukses menjawab sebuah permasalahan yang mendasar. Orang-orang mulai hobi membawa ponsel, tablet, dan bahkan beberapa perangkat mobile sekaligus. Namun tidak ada yang ‘telaten’ untuk memindah-mindahkan file dari satu perangkat ke perangkat lain memakai flashdisk atau fasilitas copy data ibarat ‘cara lama’. Dropbox menunjukkan solusi bagaimana file akan tersimpan di Cloud seakan menjadi bab dari storage perangkat itu sendiri. “Perangkat sekarang semakin cerdas, televisi Anda, kendaraan beroda empat Anda, dan ini berarti lebih banyak data yang tersebar.” ujar Houston. “Perlu ada ‘penjahit’ yang menghubungkan semua perangkat itu. Dan itulah yang kami lakukan.”

Setelah download aplikasi Dropbox, maka file orang tersebut yang berada di cloud akan sanggup dengan gampang diakses dari perangkat apa saja (berkat santunan Dropbox yang sangat luas dan kompatibel untuk semua OS dan perangkat). Bukan itu saja, orang-orang juga sanggup mengundang orang lain untuk mengambil atau men-download file tersebut. Update file di perangkat yang satu akan secara otomatis meng-update file di perangkat yang lain juga. Sebuah bagan yang menjadikan pemanfaatan file lintas perangkat sangat mudah!

Bagaimana pendapat pengguna wacana ini? Seorang mahasiswa aturan menulis di laman media sosialnya: “Tanpa Dropbox, saya mungkin akan gagal ujian universitas aturan saya dan tinggal di bawah jembatan.” – Sang mahasiswa menuturkan bahwa Dropbox menyelamatkan ketika terjadi kerusakan pada laptopnya yang menjadikan seluruh data tesisnya kandas. Untunglah data tersebut sudah tersimpan di Dropbox, sehingga ia sanggup melanjutkan mengerjakan tesis dan lulus dengan gemilang.

Sebuah perusahaan jam dari Venezia, Italian Soul, memakai Dropbox untuk menciptakan karya gres dengan seorang desainer Argentina. Kerjasama ini mengharuskan mereka bahu-membahu mengerjakan desain jam yang terdiri dari file 3D berukuran raksasa. Meskipun kedua desainer terpisah, satu di Italia dan satunya di Argentina, berkat Dropbox mereka dengan gampang mengerjakan file desain tersebut bahu-membahu dan hasilnya meraih kesuksesan.

Houston pun dengan gembira mempromosikan Dropbox sebagai “Fasilitas yang memungkinkan data Anda mengikuti.”

 

Pesaing tiba silih berganti, namun Dropbox tetap yang terbaik

Dalam menghadapi persaingan, Houston sanggup dengan cepat menyebut sebuah daftar panjang: “Apple, Google, Microsoft, Amazon, sudah usang bermain di bisnis ini, kemudian ada juga IDrive, YouSendIt, Box, belasan startup lain yang menjadi pesaing Dropbox. Bahkan mungkin juga pelanggan memakai beberapa penyimpanan cloud ini untuk memastikan datanya tersimpan dengan baik lintas perangkat.” Namun secara khusus, Houston menyampaikan bahwa iCloud-lah yang ia takuti. Siapa pun yang membeli iPhone, niscaya akan memakai iCloud. Sistem Apple juga ‘menarik’ orang-orang yang tadinya hanya mempunyai satu perangkat, kemudian membeli perangkat Apple lainnya ibarat iPod, iPad, dan Macbook, yang mana hasilnya menjadikan penggunaan iCloud sangat relevan alasannya yakni ini akan memudahkan mereka membuka data lintas perangkat. Houston juga menyebut wangsit Google (pada dikala itu) untuk merancang sebuah perangkat bernama Drive yang khusus bisa dipakai untuk menyimpan data baik offline dan online, merupakan wangsit brilian. Pada dikala Drew Houston menyampaikan ini, ada 1 miliar orang mengunjungi Google setiap bulan, dan 190 juta orang di seluruh dunia memakai Android (angka ini sudah berkembang di tahun 2018, dengan satu pengecualian kecil: Google batal merilis perangkat Drive yang direncanakannya).

Ketika ditanya visi Dropbox ke depannya, Houston mengungkap imajinasinya. Dia membayangkan bahwa data tidak hanya mengikuti kita di laptop, ponsel dan tablet. Data itu akan berada di mobil, kulkas, jam tangan dan banyak lagi. Di sinilah kiprah Dropbox, yaitu menautkan semua perangkat itu untuk sanggup mengakses data yang sama. Mungkin suatu hari layanan ibarat Dropbox akan ibarat layanan publik, infrastruktur dasar untuk data pervasif yang tidak banyak dilihat orang, tapi ada dan tidak tergantikan!

 

 

 

 

Referensi

Barret, Victoria. (2011). Dropbox: The Inside Story of Tech’s Hottest Startup. Forbes.

Bernard, Zoe. (2018). The rise of Dropbox CEO Drew Houston, who just made the Forbes 400 after taking his company publicBusiness Insider.

Wohlsen, Marcus. (2013). Inside Dropbox Quest to Burry the Hard Drive. Wired.

 

 


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #84 – Dropbox: Yang Terbaik Terus Maju Tanpa Gentar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel