Benarkah Sistem Pengembangan Windows 10 Cacat?

Kasus bug yang beberapa kali ini terus menghantui update terbaru Windows  Benarkah Sistem Pengembangan Windows 10 Cacat?

Kasus bug yang beberapa kali ini terus menghantui update terbaru Windows 10 menimbulkan banyak pengguna dan blogger tekno mempertanyakan sistem pengembangan Windows 10. Benarkah sistem pengembangan Windows 10 cacat?

 

Perubahan dalam sistem pengembangan Windows

Kasus bug yang beberapa kali ini terus menghantui update terbaru Windows  Benarkah Sistem Pengembangan Windows 10 Cacat?

Arstechnica, sebuah blog teknologi yang jadi panutan banyak penggemar tekno menulis sebuah artikel yang anggun perihal ini. Semua permasalahan tersebut berawal dari ambisi Microsoft dengan Windows 10 yang ternyata malah mengubah caranya menyebarkan Windows 10. Perusahaan yang bermarkas di Redmond ini ingin menanggapi pelanggan dan kebutuhan pasar lebih baik, serta tentu saja meletakkan fitur-fitur gres ke tangan pelanggan lebih cepat. Inti semua ini yakni bagaimana Windows 10 dirancang sebagai ‘versi Windows terakhir’, sehingga semua pengembangan dikirimkan kepada pengguna sebagai update terhadap Windows 10 dengan beberapa update besar yang dikirimkan beberapa kali setahun (umumnya dua kali setahun). Model pengembangan ini diberi brand sebagai “Windows as a Service”.

Microsoft memakai model gres untuk mengirimkan fitur-fitur gres yang bermanfaat kepada pengguna tanpa harus menimbulkan pengguna menunggu selama dua-tiga tahun menyerupai masa Windows sebelum Windows 10. Keuntungan model ini memang cukup besar. Konsumen senang alasannya yakni mendapatkan jadwal tetap untuk memperoleh fitur-fitur gres dari Microsoft. Tapi ada persoalan dengan model pengembangan ini: Kualitas!

Begitu banyak penggemar yang mengeluhkan kualitas Windows 10 sesudah penambahan fitur-fitur gres secara rutin tersebut. Ini tentu saja cukup mengguncangkan Redmond.

 

Bukan persoalan seberapa sering, tapi cara pengembangannya

Kasus bug yang beberapa kali ini terus menghantui update terbaru Windows  Benarkah Sistem Pengembangan Windows 10 Cacat?

Jika kita berkaca pada sistem pengembangan OS lain, dua update besar setahun ini sebetulnya lebih sering dibandingkan MacOS, iOS, dan Android. Kaprikornus terang bahwa memang Microsoft sudah bertindak berlebihan untuk mencapai hal tersebut.

Secara teknis, setiap update yang dibentuk pada sistem akan secara otomatis disebarkan ke server produksi begitu sukses melewati pengujian otomatis. Namun Windows berisi banyak komponen individu yang sangat besar dan terintegrasi. Ini menimbulkan pengembangan Windows menjadi sangat menantang. Dengan sasaran memperlihatkan dua update besar setiap tahun, pengembangannya menjadi cukup berat bagi developer.

Microsoft memang tidak secara detail mengungkap proses pengembangan Windows 10, akan tetapi karakteristik prosesnya sanggup kita amati, yaitu melalui cara fitur-fitur ini dikirimkan kepada insider, kemudian bagaimana laporan insider mengenai bug yang terdapat pada build, digabungkan dengan informasi dari sumber-sumber lain, tentu saja bukan merupakan cara memadai untuk menyebarkan sebuah software penting.

Pada masa sebelum Windows 10, ketika siklus rilis produk yakni dua sampai tiga tahun, Microsoft memecah proses menjadi beberapa fase: desain dan perencanaan, pengembangan fitur, integrasi, stabilisasi. Perkiraannya 4-6 bulan perencanaan dan desain, 6-8 ahad koding intensif, dan kemudian 4 bulan integrasi (setiap fitur akan dikembangkan ke cabangnya masing-masing sehingga semuanya sanggup dikonsolidasikan dan digabungkan bersamaan), dilanjutkan dengan stabilisasi (yaitu pengujian dan perbaikan bug). Siklus ini bahkan diulangi tiga atau empat kali untuk mendapatkan kualitas terbaik. Namun di masa Windows 10, hal tersebut harus dilakukan hanya dalam enam bulan!

Sebagaimana yang dijelaskan karyawan Microsoft, beberapa bulan pengembangan akan dibagi ke fase “tell“, disusul satu bulan fase “ask“. Dalam fase “ask“, hanya modifikasi penting yang diizinkan dengan mengabaikan banyak bug kecil. Contohnya, build pertama October Update (kode nama RS5) diperkenalkan kepada insider pada tanggal 14 Februari. Kemudian build stabil untuk April Update muncul dua bulan kemudian pada tanggal 16 April. RS5 tidak akan mendapatkan fitur yang signifikan sampai 7 Maret. Banyak fitur gres kemudian ditambahkan pada bulan Mei sampai Juli, sebelum diluncurkan (untuk pengujian insider) pada bulan Agustus dan September. Microsoft kemudian hanya melaksanakan sedikit modifikasi pada hal-hal yang paling penting. Dengan cara ini maka build tersebut akan siap pada September untuk dirilis bulan Oktober.

Selama fase integrasi dan perbaikan bug, Microsoft mengirimkan preview build kepada insider dengan peringatan bahwa “dalam siklus pengembangan awal, build ini mungkin berisi bug yang akan menyusahkan untuk beberapa orang, kalau Anda merasa tidak nyaman dengan ini, mungkin Anda ingin beralih ke Slow Ring yang mempunyai kualitas build lebih tinggi”.

Dari sini kita tahu hal fundamental terkait pengembangan Windows: Tidak dilakukan tes terhadap semua arahan ini secara memadai. Microsoft pribadi meneruskannya kepada insider dan berharap bahwa kelompok Enthusiast ini akan bersedia dengan gratis menuntaskan pekerjaan Microsoft menguji dan menyelidiki bug apa saja yang terdapat pada build yang dikirimkan. Tentu saja alasannya yakni diserahkan pada pengguna, maka Microsoft tidak sanggup mengharapkan kualitas pengujian yang tinggi.

Pengujian yang tidak memadai ini menimbulkan developer Windows tidak yakin terhadap arah pengembangan software tersebut. Mereka tidak yakin dengan situasi bug, dan tentu saja tidak mendapatkan laporan dengan kualitas memadai terkait bug tersebut. Ini mengakibatkan upaya perbaikan bug menjadi tambal sulam kalau tidak sanggup dibilang menebak-nebak arah perbaikan dengan analogi yang sama menyerupai menembak dalam gelap.

Meskipun demikian, Microsoft mempertahankan metode ini dengan alasan, sistem ini memungkinkan Microsoft mempunyai ribuan penguji yang memakai OS tersebut dalam situasi dunia nyata. Namun tentu saja Micorosft mengabaikan satu detail penting: kualitas pengujian. Jarang insider yang memperlihatkan kualitas pengujian sesuai dengan yang diharapkan. Pendekatan Microsoft terhadap bug yang muncul adalah: “gabungkan bug sekarang, perbaiki nanti”. Namun pada praktiknya, Microsoft tidak pernah sanggup menemukan bug dalam build rilisannya secara lengkap sehingga proses ini menjadi sebuah proses yang terus menerus.

Dibandingkan dengan masa pengembangan Windows 7 dan Windows 8, Microsoft dulu mempunyai sejumlah besar tester khusus, bahkan saking besar jumlahnya, Microsoft sanggup menugaskan tester khusus untuk menguji setiap fitur kecil. Kebanyakan tester ini tidak dipekerjakan lagi pada tahun 2014 sesudah Microsoft mendapati bahwa mengirimkan build pengujian kepada pengguna ternyata menghemat waktu dan biaya. Sayangnya, penghematan ini memakan korban yang lebih besar: kualitas!

 

Kesimpulan

Microsoft mempunyai celah besar dalam proses pengembangan Windows, dan ini seharusnya menjadi perhatian Microsoft kalau mereka memang ingin menjamin semoga konsumen mendapatkan OS dengan kualitas terbaik. Argumen di atas memperlihatkan bahwa ada yang salah dengan cara Microsoft menyebarkan OS-nya, utamanya pada belahan pengujian dan perbaikan. Jika ini berlanjut, maka kita sanggup ‘berharap’ untuk terus melihat bug yang menyebalkan menyerupai ‘ketidaksengajaan’ Windows 10 menghapus file pengguna sesudah October 2018 Update yang dirilis kemarin.

Bagaimana pendapat kau mengenai hal ini? Mungkinkah ada cara lain untuk mengatasi permasalahan dalam pengembangan Windows 10 milik Microsoft?

 


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Benarkah Sistem Pengembangan Windows 10 Cacat?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel