Kisah Silicon Valley #69 – Bagaimana Perusahaan Teknologi Paling Inovatif di Jepang Berdiri

John Sculley, mantan CEO Apple pernah bercerita kepada para wartawan sebagai berikut:
Saya ingat Akio Morita pernah memberi Steve Jobs Sony Walkman generasi pertama. Pada ketika itu, kami belum pernah melihat benda menyerupai itu alasannya yaitu memang belum pernah ada produk menyerupai ini sebelumnya. Ini terjadi 25 tahun kemudian dan Steve terpesona olehnya. Hal pertama yang dilakukannya yaitu mempretelinya dan meneliti setiap bab komponennya. Steve mempelajari bagaimana produk ini dibuat dan diolah.
Steve sangat kagum oleh pabrik Sony. Kami kemudian mengunjunginya. Di sana ada beberapa orang dengan seragam yang berbeda. Beberapa orang mengenakan seragam warna merah, lainnya mengenakan seragam warna hijau, ada juga yang biru, bergantung pada fungsi karyawan tersebut. Semua hal di sana dipikirkan dengan cermat dan pabrik tersebut higienis tanpa noda. Hal ini benar-benar menawarkan kesan yang dalam bagi Steve.
Setelah itu Steve mulai menginginkan supaya pabrik Mac menyerupai itu. Memang karyawan tidak mempunyai seragam warna-warni menyerupai di Sony, tapi semua bab pabrik dibuat supaya sama elegannya dengan Sony. Steve benar-benar mengakibatkan Sony sebagai tumpuan pada ketika itu. Dia tidak ingin menjadi IBM, ia tidak ingin menjadi Microsoft. Dia ingin menjadi Sony!
Membangun Puing-Puing

Pada September 1945, Masaru Ibuka kembali ke Tokyo untuk mulai bekerja di kota yang hancur oleh perang tersebut. Sebuah kamar sempit dengan papan sirkuit telepon terletak di lantai ketiga Shirokiya Department Store di Nihombashi menjadi daerah bekerja gres bagi Ibuka dan kelompoknya. Pada bulan Oktober, Ibuka dan kelompoknya mendirikan kemudahan gres yang disebut Tokyo Tsushin Kenkyujo (Totsuken) atau sanggup diterjemahkan sebagai Institut Penelitian Telekomunikasi Tokyo. Seberapa berat mendirikan perusahaan teknologi di masa pasca-perang menyerupai ini? Ibuka harus merogoh kocek sendiri untuk membayar honor karyawannya, dan jumlah honor yang diberikan juga tidak seberapa.
Apa yang bisa dilakukan supaya mereka tetap bertahan di dunia bisnis (yang juga hancur alasannya yaitu perang)? Ibuka mendapat ide. Setelah perang, Jepang sangat lapar akan info di seluruh dunia. Banyak orang mempunyai radio yang rusak akhir perang, atau kalau tidak, hanya unit radio sederhana yang salurannya selalu diganggu oleh polisi militer yang berupaya mencegah supaya Jepang tidak tergoda propaganda dunia Barat. Pabrik milik Ibuka kemudian memperbaiki radio tersebut dan membuat converter gelombang pendek yang kemudian sanggup dengan simpel mengubahnya menjadi peserta gelombang sedang atau bahkan segala jenis gelombang.
Adaptor gelombang pendek milik Ibuka ini menarik perhatian banyak orang. Koran terkemuka di Jepang, Asahi Shimbun, mengulasnya dalam kolom terkenal miliknya. Sebagai akibatnya, undangan akan adaptor gelombang pendek tersebut melejit dan ini mengakibatkan pabrik Ibuka kebanjiran permintaan. Bukan hanya undangan yang datang, popularitas Ibuka dan adaptor gelombang pendek miliknya mengakibatkan Ibuka berjumpa kembali dengan sobatnya semasa kecil, Akio Morita. Catatan: Meskipun disebut ‘teman semasa kecil’, Ibuka lebih renta beberapa belas tahun dari Morita. Mereka berdua menjalankan bisnis radio ini bersama-sama.
Selain informasi, hal lain yang meresahkan Jepang pada masa itu yaitu persoalan pangan. Pabrik Ibuka kemudian secara kreatif berupaya memecahkan persoalan ini dengan sebuah pemasak nasi listrik. Ide ini diperoleh alasannya yaitu tutupnya banyak sekali pabrik penghasil peralatan perang, sehingga ketika itu Tokyo mempunyai cadangan daya listrik yang besar. Ibuka beropini bahwa banyak sekali peralatan dengan pemberian sumber daya listrik akan sanggup memajukan masyarakat. Meskipun demikian, proyek penanak nasi listrik ini menjadi kegagalan besar pertama Ibuka dan Morita. Nasi yang dihasilkan selalu kurang matang atau gosong, sehingga produk ini akhirnya tidak jadi dijual.
Meskipun demikian, perusahaan milik Ibuka dan Morita berada di jalur yang tepat. Visi mengenai listrik yang berlimpah sehingga memungkinkan peralatan teknologi listrik mengakibatkan perusahaan tersebut berupaya ‘menemukan’ alat-alat penunjang kebutuhan sehari-hari yang membutuhkan tenaga listrik. Melihat fenomena ekspresi dominan masbodoh di Jepang, yang mengakibatkan banyak orang kesusahan dan kedinginan, Ibuka dan Morita beserta timnya berupaya mengeksekusi inspirasi baru, yaitu sebuah alas penghangat untuk ekspresi dominan dingin. Produk sederhana ini laku luar biasa. Nyaris seluruh keluarga di Jepang membeli produk ini untuk persiapan ekspresi dominan dingin.
Sayangnya, keberhasilan ini tidak bertahan lama. Jepang tetapkan untuk lebih mementingkan pembangunan militer. Pabrik yang didirikan oleh Ibuka dan Morita diakuisisi untuk kepentingan militer. Kedua sahabat ini pun pindah ke Shinagawa. Berbekal penjualan truk milik Ibuka, mereka mendirikan kembali Totsuko, perusahaan mereka. Uniknya, pabrik yang terletak di Shinagawa ini nantinya merupakan lokasi yang sama dengan pabrik milik Sony Corp bertahun-tahun ke depan!
Produk yang Wajib Diproduksi

Iklim di Shinagawa tentu saja berbeda dengan Tokyo. Di Shinagawa, Totsuko tidak menemukan listrik yang melimpah menyerupai di Tokyo. Mereka kemudian beralih ke produksi perekam bunyi magnetik. Radio ketika itu sudah banyak diproduksi oleh perusahaan-perusahaan besar. Akio Morita dengan berilmu berfokus pada peralatan penunjang industri radio. Perekam berkabel merupakan salah satu fokus mereka. Ini akan menjadi perangkat penunjang yang anggun untuk acara mencari berita.
Dalam pencariannya untuk membuat alat perekam berkabel yang baik, insinyur di Totsuko secara ‘tidak sengaja’ menemukan mekanisme menarik untuk memutar pita kaset, termasuk mekanisme menggulung untuk mempercepat dan mengurangi track yang diputar pada pita kaset. Ini membuat perangkat yang mempunyai mekanisme putar sederhana dalam merekam bunyi kemudian memutarnya kembali. Setelah terciptanya produk gres tersebut, hal pertama yang direkam oleh Ibuka dan Morita yaitu siaran perenang Jepang, Hironoshin Furuhunashi yang mencatatkan rekor dunia dalam kejuaraan yang berlangsung di Los Angeles. Ini bukan hanya alat perekam, melainkan cikal bakal cassette recorder!
Meskipun sudah berada di jalur yang tepat, Totsuko masih harus menunggu lama. Pada tahun 1951, barulah mereka bisa memproduksi tape recorder yang disebutnya G-Type yang selain fungsional juga mempunyai bentuk yang menarik bagi konsumen!

Tape recorder ini segera menjadi produk favorit di Jepang. Orang Jepang memanfaatkan teknologi ini untuk merekam sekaligus juga untuk mendengarkan lagu dan siaran berita. Meskipun Totsuko tidak sanggup menjual produk ini dengan harga yang mahal mengingat kemampuan ekonomi jepang pada ketika itu, tetap saja mereka sukses luar biasa alasannya yaitu sesudah mendapat paten untuk perangkatnya, maka paten yang mereka miliki kemudian menjadi landasan monopoli bagi perangkat dengan tipe serupa. Artinya, kalau ada perusahaan lain yang memproduksi tape recorder dengan bentuk dan fungsi yang kurang lebih serupa, maka mereka harus membayar royalti kepada Totsuko. Ini merupakan hal yang tidak disangka-sangka bagi Ibuka dan Morita yang pada ketika itu masih awam dalam hal penjualan. Seakan uang tiba dengan sangat simpel berkat paten yang mereka miliki dari produk ini.
Pada tahun 1952, berkat kesuksesan inovasinya, Ibuka mendapat undangan untuk mengunjungi Amerika Serikat. Seiring dengan suksesnya tape recorder di Jepang, negara-negara barat mulai merasa ingin tau akan produk ini dan secara pribadi meminta pendapat orang yang terlibat dalam invensi perangkat ini mengenai masa depan teknologi di Amerika Serikat!
Seperti halnya sebuah perusahaan pada umumnya, Ibuka dan Morita dengan Totsuko miliknya menghadapi banyak tantangan. Minggu depan akan dibahas bagaimana Totsuko menjadi Sony dan mulai menghadapi banyak sekali tantangan di tingkat dunia. Baca di Kisah Silicon Valley #70 – Perusahaan Kecil yang Menggapai Dunia minggu depan.
Referensi
Hayashi, Nobuyuki. 2014. The tales of Steve Jobs & Japan: Casual friendship with Sony. Nobi.
Kahney, Leander. 2010. Steve Jobs’ Sony Envy [Sculley Interview]. CultofMac.
Sony Corporate Info. Sony.
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #69 – Bagaimana Perusahaan Teknologi Paling Inovatif di Jepang Berdiri"
Post a Comment