Kisah Silicon Valley #62 – Tos-Tosan Koin Membuka Perusahaan Penjual Komputer Tingkat Dunia

Pada tahun gres 1939, David Packard dan William R. Hewlett menyatukan tekad untuk mendirikan sebuah startup IT di garasi rumah mereka yang terletak di Palo Alto. Mereka sepakat untuk memakai adonan nama mereka sebagai nama perusahaan. Masalah yang timbul: Nama siapa yang bakal ditulis terlebih dahulu? David menghela napas memandang sahabatnya, “Ayo kita undi dengan koin. Siapa pun yang kalah, dihentikan sakit hati dengan penulisan nama perusahaan.” Bill (panggilan dekat William R. Hewlett) mengangguk baiklah dengan seruan sahabatnya. David pun melempar koin ke udara, kemudian menangkapnya dengan telapak tangannya. Kamu niscaya bisa menebak siapa yang kalah dalam undian koin itu dengan melihat nama perusahaan mereka sekarang.
Melawan Depresi Ekonomi

Ketika dua sobat lulusan Stanford University tersebut memulai startupnya, Amerika sedang mengalami kemunduran ekonomi yang populer dengan sebutan The Great Depression. Namun justru adanya kesulitan ekonomi yang melanda negara tersebutlah yang menyebabkan mereka berdua terinspirasi untuk menyebarkan sebuah startup. “Bill dan saya sudah sepakat, bahwa jikalau kami tidak bisa mendapatkan pekerjaan, maka kami harus memulai mendirikan perusahaan sendiri. Fred mendukung kami untuk melaksanakan itu.” Fred yang dimaksud oleh David yakni dosen mereka di program Radio Engineering Stanford University, daerah mereka berdua kuliah.
Produk pertama perusahaan mereka yakni sebuah perangkat indikator otomatis yang memilih ‘foul’ pada permainan bowling. Produk ini bekerja dengan sangat baik. Bill dan David sangat menaruh keinginan pada perangkat unik ini. Namun nyatanya, mereka gagal total. Tidak ada yang membeli perangkat itu sama sekali. Kedua sobat ini pantang menyerah. Produk berikutnya dibentuk menurut tesis gelar master Bill, yaitu sebuah oscillator audio, yang kemudian diberi nama HP200A. Penamaan ini juga mempunyai perhitungan tersendiri. Tadinya Bill ingin memberinya nama dengan angka satu digit, menunjukan bahwa ini produk kedua mereka, namun David tidak setuju. Jika mereka memberinya nama HP2A ibarat yang disarankan Bill, maka orang akan menduga mereka perusahaan yang gres bangkit dan tidak berpengalaman (meskipun memang demikian). Angka 200 tersebut memberi kesan bahwa produk mereka sudah cukup banyak. HP200A ini dirancang untuk menguji peralatan bunyi dan juga menyetel harmonika. Kemampuannya sebagai alat uji menarik minat Disney yang ketika itu sedang mengerjakan film “Fantasia”. Disney membeli delapan perangkat tersebut.

Terinspirasi oleh kesuksesan penjualannya ke Disney, Hewlett-Packard kemudian mencoba untuk menjual produknya melalui surat pesanan. Praktiknya, mereka mengirimkan surat penawaran ke perusahaan-perusahaan, sebagian besar juga ke laboratorium universitas untuk memperlihatkan produk-produknya. “Kami mendapati bahwa banyak orang memerlukan HP200A untuk menguji dan mengukur audio,” terang Bill dalam sebuah wawancara dengan Electronic News.
Selama Perang Dunia II, Hewlett-Packard justru makin berkembang alasannya mereka mendapatkan order dari militer AS. Banyak peralatan unik yang diminta oleh militer, sebagian besar dimanfaatkan untuk penunjang perang. Hewlett-Packard tidak sendirian. Pada masa itu, IBM juga ikut serta dalam Perang Dunia II sebagai penyedia peralatan komunikasi dan komputasi yang terbukti bisa mendukung AS memenangkan perang. Pada tahun 1943, penjualan perusahaan Hewlett-Packard mencapai USD 1 juta. Sebuah jumlah yang sangat besar pada masa itu. HP juga populer alasannya konsep kerjanya: The HP Way, ini merupakan seperangkat praktik dan kebijakan yang memperlihatkan laba bagi para pekerja pada masa itu. HP merupakan sedikit di antara perusahaan yang pertama kali memperlihatkan asuransi medis, kompensasi saham, liburan, dan banyak kemudahan lain yang selama periode waktu itu belum banyak ditawarkan oleh pelaku bisnis.
Pasca Perang Dunia II, pesanan menurun drastis, namun kedua sobat ini sudah cukup bahagia menyambut masa-masa tenang (lagipula rekening mereka sudah penuh terisi keuntungan). Tak diduga, perkembangan elektronik segera mengisi kekosongan tersebut. Seiring dengan makin mapannya Amerika, HP kemudian tetapkan untuk Go Public pada tahun 1957. HP Way tetap menjadi landasan kebijakan mereka. Ini menjadi sebuah filosofi administrasi yang terkenal. Ekonom populer Peter Drucker, bahkan hingga melaksanakan penelitian dan wawancara khusus di perusahaan ini demi merumuskan administrasi ekonomi sebagai sebuah ilmu (pada ketika itu ilmu administrasi belum dikenal. Drucker yakni orang angkatan pertama yang merumuskan konsep ini).
Banyak penemuan yang dilakukan oleh kedua sobat ini dalam ‘memanusiakan’ karyawannya. Misalnya, HP memperlihatkan jam yang fleksibel untuk para pekerjanya. Ini membantu para ibu rumah tangga yang mempunyai kewajiban untuk menyiapkan makan malam bagi keluarga. Mereka juga memperkenalkan profit-sharing bagi seluruh karyawan dan juga sistem kantor yang terbuka. HP menjadi pola perusahaan di AS yang terdepan dalam hal manajemen.
Seiring dengan berkembangnya jumlah karyawan menjadi ribuan, untuk mempertahankan atmosfir ‘bisnis kecil’, HP memecah perusahaannya sesuai dengan tipe produk dan fungsi. Misalnya, penelitian dan pengembangan, dijadikan perusahaan tersendiri dengan sasaran dan sistem yang berbeda dengan unit perjuangan HP lainnya, contohnya bab penjualan dan pemasaran. Sistem ini terbukti menyebabkan setiap divisi lebih luwes dalam melaksanakan penemuan dan justru malah saling bersinergi dalam meningkatkan profit perusahaan.
Terjun dalam Bisnis Komputer

Pada tahun 1957, seiring dengan mulainya HP Go Public di lantai saham, perusahaan ini melirik sasaran baru: Komputer! Jenis bisnis ini sedang berkembang dengan IBM yang aktif membuat chip processor sebagai ‘raja’-nya. Perpindahan ke bisnis komputer ini dikerjakan secara berhati-hati oleh Bill dan David. “Jika Anda ingin memiliki processor baru, maka Anda harus menyiapkan terminal dan disk yang beroperasi dengannya.” Jelas Bill pada harian Industry Week. HP juga tetap mementingkan otonomi antar divisi sebagaimana yang mereka canangkan semenjak awal perusahaan ini berdiri. Contohnya, alih-alih meminta divisi produksi disk untuk menciptakan tipe disk tertentu, Bill dan David hanya akan mengatakan citra umum wacana disk yang mereka inginkan, dan meminta divisi tersebut untuk menciptakan disk secara inovatif.
Untuk memfasilitasi bisnis komputer ini, HP mendirikan sentra penelitian dan pabrik di Jenewa, Swiss, juga di Boblingen, Jerman. Pada tahun 1966, HP Laboratory dikenal sebagai laboratorium dengan teknologi paling canggih di dunia. Produk komputer pertama HP yang dijual untuk umum juga diproduksi pada tahun ini!
Ketika krisis ekonomi kembali melanda Amerika pada tahun 1970-an, HP kembali memperlihatkan penemuan administrasi yang menarik. Alih-alih mengurangi karyawan, Bill dan David meminta karyawannya untuk bersedia semoga dipotong gajinya serta menambah jam kerja. Penghematan dibutuhkan demi mempertahankan perusahaan. Jika krisis ekonomi usai, Bill dan David berjanji untuk kembali menaikkan honor para karyawannya. Kebijakan ini diterima nyaris tanpa resistensi. Semua orang menyimpan respek yang sangat dalam pada bossnya ini, dan mereka sadar bahwa hanya dengan mendapatkan pemotongan gaji, maka tidak perlu ada karyawan yang dikorbankan dengan cara dipecat. Ketika perusahaan lain banyak ‘merumahkan’ karyawannya, HP bisa bertahan dan bahkan tetap menghasilkan laba selama masa krisis.

Pada dekade 70-an tersebut, HP dikenal dengan produknya, kalkulator genggam HP-35 dan mini komputer HP 3000. Dua produk ini bisa menjadi produk yang mempertahankan ‘nyawa’ perusahaan selama masa krisis.

Tahun 1977, HP bisa membukukan penjualan sebesar USD 1 miliar! Bill dan David menepati kesepakatan dengan mengembalikan honor karyawan-karyawannya ibarat semula meskipun krisis di AS belum berlalu. HP menjadi satu-satunya perusahaan yang seakan ‘kebal krisis’ pada masa tersebut!
Meskipun terjadi pergantian kepemimpinan, HP tetap bisa memperlihatkan jatidiri sebagai salah satu perusahaan tersukses AS. Bagaimana dengan perjalanan Hewlett-Packard di masa komputer 80-an dan modern yang penuh gejolak dengan hadirnya dua raksasa baru: Apple dan Microsoft? Simak cerita selanjutnya di Kisah Silicon Valley #63 – Upaya Menguasai Dunia Komputer Modern.
Referensi
Silicon Valley Historical Association, Hewlett-Packard, Silicon Valley Historical
Managers, Maverick. (2008). William Hewlett & David Packard. Entrepreneur.
Michelle. David Packard. MyHero.
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #62 – Tos-Tosan Koin Membuka Perusahaan Penjual Komputer Tingkat Dunia"
Post a Comment