Kisah Silicon Valley #58 – Sukses Karena Berhasil ‘Menebak’ Selera Penggemar Musik

 bahwa kita di sini membuat sesuatu yang unik Kisah Silicon Valley #58 – Sukses Karena Berhasil ‘Menebak’ Selera Penggemar Musik
via Glassdoor

Kita semua tahu, bahwa kita di sini membuat sesuatu yang unik, dan ini akan memecahkan sebuah problem raksasa. Tiada satu pun orang di bumi yang akan melaksanakan hal yang kita lakukan, dan dikala kalian semua memakai produk ini, kita bersama akan tahu betapa ajaibnya itu. Produk ini akan menemukan ‘rumah’-nya. Semua orang di planet ini menyukai musik. Ada jutaan musisi yang menghasilkan musik ahli dan mereka tidak sanggup saling menemukan satu sama lain. Saat hal ini balasannya menemukan rumahnya, maka ini akan mengubah budaya! Berapa kali dalam hidup kalian akan melaksanakan hal menyerupai ini?

Pidato Tim Westergren tersebut mungkin terdengar muluk. Namun memang visinya terlalu jauh ke depan sehingga tidak banyak orang yang akan mempercayai apa yang dikatakannya. 50 orang mempercayai ucapan tersebut dan balasannya bersedia bekerja tanpa digaji selama dua tahun (sampai balasannya produk itu sukses) untuk menyukseskan sebuah produk: Pandora!

 

Maniak Musik

 bahwa kita di sini membuat sesuatu yang unik Kisah Silicon Valley #58 – Sukses Karena Berhasil ‘Menebak’ Selera Penggemar Musik
via Dazeinfo

Tim Westergren semenjak kecil merupakan maniak musik. Dia mengejar gelar Ilmu Politik di Stanford University alasannya yakni alasan yang agak konyol, “Itu yakni satu-satunya jurusan dengan waktu tempuh paling singkat di Universitas,” Tim tertawa. Dia kemudian menjabarkan bahwa memang ia berniat menuntaskan kuliah secepat mungkin untuk menyenangkan kedua orangtuanya yang menginginkan putranya tersebut mempunyai gelar sarjana, namun ia menentukan waktu kuliah yang cepat semoga sanggup mengejar passion-nya di dunia musik.

Setelah lulus dari Stanford, ia bekerja dengan aneka macam musisi profesional dan grup band rock yang mengharuskannya berkeliling ke seluruh AS. Dari sini ia menemukan hal yang menginspirasinya untuk mendirikan Pandora. “Saya menjumpai lautan talenta yang belum ditemukan!” Ujarnya dengan berbinar-binar.

Westergren bekerja dengan artis dari seluruh negara yang mempunyai musikalitas luar biasa dan potensi untuk masuk ke musik mainstream, namun mereka tidak punya cara untuk ‘ditemukan’.

Setelah menjadi pendukung musisi selama bertahun-tahun, Tim mendirikan studio sendiri dan mendapat banyak proyek sebagai komposer film dan manajer sound effect untuk film. Dengan puluhan CD sebagai tumpuan di setiap proyek, Westergren kemudian membangun “profil musikologis” menurut selera para sutradara. Tentu saja setiap sutradara yang sedang mengerjakan film mempunyai selera musik yang berbeda. Westergren sukses meresapi dan menerjemahkan keinginan para sutradara tersebut menurut preferensi musik mereka serta karya film yang dikerjakan. Setelah banyak terlibat dalam proyek ini, Tim mendapat sebuah ide yang revolusioner: Kenapa ia tidak membangun profil musikologis serupa dan menggabungkannya dengan musik-musik yang ‘belum ditemukan’ selama ini yang diketahuinya?

 

Cikal bakal Pandora

 bahwa kita di sini membuat sesuatu yang unik Kisah Silicon Valley #58 – Sukses Karena Berhasil ‘Menebak’ Selera Penggemar Musik
via mukeshbalani

Westergren menjelaskan idenya kepada Jon Kraft, seorang investor yang sudah mendirikan dan menjual perusahaan bernama Stanford Technology Group. Kraft eksklusif mengendus peluang untuk menyukseskan rencana ini. Dia bersedia mengucurkan dana untuk proyek ini dan mereka berdua setuju untuk menjalankan rencana bisnis ini. Pandora kemudian didirikan dengan dana awal USD 1,5 juta!

Tim pengembang Pandora ini bercita-cita untuk menyebarkan produk yang sanggup memformulasikan musik tepat bagi para penggunanya. Untuk hal ini, mereka mempekerjakan 75 musisi untuk mengategorikan 10.000 lagu dalam 450 kategori berbeda. Proyek ini diakhiri dengan hasil: spreadsheet Excel bertuliskan 10.000 musik dengan detail menit hingga 10.000 lagu!

Selanjutnya mereka mempekerjakan tim developer yang diberi kiprah untuk merancang sebuah algoritme yang sanggup memformulasikan lagu yang paling cocok untuk seseorang menurut pertanyaan atau pilihan mengenai selera musik seseorang. Setelah kerja keras, algoritme tersebut berhasil dibuat. Westergren mengujinya sendiri sebelum memperlihatkan cap Lulus pada algoritme tersebut. Mereka memberi nama algoritme itu: The Music Genome Project.

 

Saat-Saat Sulit Pandora

 bahwa kita di sini membuat sesuatu yang unik Kisah Silicon Valley #58 – Sukses Karena Berhasil ‘Menebak’ Selera Penggemar Musik
via Business Insider

Pada tahun 2001, Pandora dan Music Genome Project-nya berada di titik terbawah. Pandora sebagai unit perjuangan radio berinvestasi terlalu besar untuk Music Genome Project. Sedangkan sehabis ditutupnya Napster, tidak ada investor yang berminat pada startup musik, dan alasannya yakni itu pendanaan Pandora juga ikut tertahan. Mereka bahkan tidak bisa meluncurkan produknya sebelum berhasil membayar semua biaya yang dikeluarkan.

Westergren tidak mempunyai pilihan selain meminta 50 orang karyawannya untuk ‘menunda pembayaran’ honor mereka. Dalam saat-saat sulit itu, Westergren sudah mengeluarkan seluruh kemampuan finansialnya untuk bisa terus menjalankan usahanya tersebut. Tiap hari ia berangkat ke kantor paling pagi dan pulang sehabis karyawan terakhir meninggalkan daerah untuk meyakinkan para karyawannya bahwa ia tetap bertanggung jawab dan akan menunaikan kewajibannya. Dia juga tak henti-hentinya memotivasi para karyawannya bahwa yang mereka lakukan yakni sesuatu yang Istimewa dan akan berbuah pada akhirnya.

Dalam masa-masa itu, beberapa karyawannya bahkan menuntut Tim Westergren alasannya yakni menelantarkan karyawan dan memintanya membayar kewajiban. Dalam keadaan finansial yang minus, Westergren masih harus mengeluarkan lagi biaya pengacara untuk menangani aneka macam tuntutan tersebut. Namun di masa menyerupai ini, ia tak pernah kehilangan keyakinan bahwa usahanya tersebut akan sukses.

 

Titik Balik

 bahwa kita di sini membuat sesuatu yang unik Kisah Silicon Valley #58 – Sukses Karena Berhasil ‘Menebak’ Selera Penggemar Musik
via Heavy

Hampir menyerupai sebuah keajaiban, pada bulan Maret 2004, sehabis berkali-kali mengajukan Pandora untuk pendanaan, bahkan hingga 348 kali, Westergren berhasil menggalang USD 9 juta. Dengan dana itu, ia berhasil membayar semua honor karyawannya sebesar USD 2 juta dan menutup tuntutan 5 orang karyawan. Bahkan seminggu kemudian, sehabis membayar lunas honor karyawan tersebut, Westergren terus mendapat pelengkap dana sejumlah USD 2 juta lagi dan dibagikannya untuk bonus karyawan yang sudah setia bersamanya!

Pandora pun mengatur ulang taktik bisnisnya dan mewujudkan semua visinya yang tertunda. Pada November 2005, mereka meluncurkan layanan gratis untuk publik dan nilainya eksklusif meledak. Westergren juga sukses menunggangi revolusi smartphone, terutama dengan rilisnya iPhone pada 2007. Pandora yakni salah satu aplikasi generasi awal yang sanggup diakses melalui iPhone! Pandora pun memperlihatkan pengalaman mendengarkan musik yang berbeda bagi para penggemar musik dunia!

Keistimewaan aplikasi musik ini yakni berhasil menebak selera musik kita dengan tepat. Seperti sebuah radio, aplikasi ini akan memutarkan aneka lagu yang uniknya bakal pas dengan selera pengguna. Ini menyebabkan penggemar Pandora betah memutar layanan ini seharian dan merasa ‘dikejutkan’ oleh lagu-lagu gres yang belum pernah didengar sebelumnya, namun terasa cocok dengan selera mereka.

Setelah 17 tahun menangani Pandora, pada 27 Juni 2017, Tim Westergren mengundurkan diri dari bangku CEO, bahkan sekaligus juga keluar dari board of director. Westergren meyakini bahwa Pandora sekarang sudah siap untuk masuk ke babak berikutnya, sebuah babak yang tidak membutuhkan dirinya. Namun kisahnya yang bisa mengajak 50 orang untuk bekerja padanya tanpa honor terus menjadi legenda di kalangan Silicon Valley.

 

Retold Based on Saharsh Anand Post in Quora

 

Referensi:

Maloney, Patrick. (2015). Origin Story: The Founding of Pandora RadioStartupgrind.


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #58 – Sukses Karena Berhasil ‘Menebak’ Selera Penggemar Musik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel