Kisah Silicon Valley #56 – Perjuangan Panjang Penjual Komputer Legendaris Asia
“Hal yang paling penting dalam bisnis adalah: mempunyai tim berpengaruh yang terdiri atas orang-orang yang sanggup Anda percaya dan andalkan, bukannya hanya memenangkan satu atau dua deal bisnis,” Ujar Liu Chuanzhi, taipan Tiongkok pendiri Lenovo ketika seseorang menanyakan kunci kesuksesan perusahaannya yang sudah satu dekade ini rutin bersaing di empat besar penjualan PC terbanyak di seluruh dunia (beberapa kali sempat di nomor satu). “Saya beruntung sanggup menyebarkan tim rekan kerja yang sangat kuat, ibarat Yang Yuanqing, Guo Wei, dan lainnya. Mereka mempunyai dampak jangka panjang terhadap masa depan perkembangan Legend ini.”
PS: Liu Chuanzhi masih sering menyebut nama perusahaannya sebagai ‘Legend’. Sebelum berganti nama menjadi Lenovo pada tahun 2003, manufaktur dengan penjualan dahsyat di seluruh dunia ini berjulukan Legend Computers. Mungkin alasannya yaitu 20 tahun menyandang nama tersebut, Liu Chuanzhi masih sering terpeleset menyebut nama usang dari perusahaannya. Ada kilasan nostalgia setiap kali beliau mengucap nama tersebut.
Berawal dari Unit Usaha Kecil

Liu Chuanzhi mendirikan Legend Computers pada tahun 1984. Dia memanfaatkan subsidi dari pemerintah dan berhasil meyakinkan 10 orang engineer sebagai tim pertamanya dengan anggaran sekitar 200.000 yuan. Jika dirupiahkan yaitu sekitar 500 juta rupiah – termasuk kecil untuk skala bisnis yang diincarnya: manufaktur komputer. Perusahaan ini mempunyai awal yang sangat sederhana, berkantor di sebuah bangunan satu lantai di Beijing. Pada awalnya Legend Computers menghasilkan uang dengan cara mendistribusikan komputer dari luar negeri (sebagian besar AS tentu saja) dan mendistribusikannya ke rumah tangga di Tiongkok, memasangkan, serta menawarkan servis dan layanan seputar komputer.
Karena jumlah tenaga kerja yang terbatas, sepuluh orang karyawan pertama Legend Computers ini menjadi all-rounder. Mereka semua bisa merakit komputer, servis, dan bahkan bertindak sebagai kurir – mengantarkan komputer yang dijual oleh Legend Computer dengan sepeda (karena ketika itu mereka belum mempunyai kendaraan mesin sebagai inventaris perusahaan).
Bisnis Legend Computers tidak berjalan dengan mulus. Pada awalnya Liu berusaha meningkatkan pemasukan bisnis dengan berjualan televisi dan jam digital yang sebagian besar diimpor dari Jepang. Kedua upaya ini flop dan justru malah mendatangkan kerugian.

Pada tahun 1989, Yang Yuanqing bergabung dengan Lenovo. Pemuda berusia 25 tahun ini mempunyai bakat dan kegigihan yang luar biasa. Tugasnya ketika itu yaitu bertemu dengan biro di seluruh Tiongkok. Pemuda ini berhasil memakai latar belakang pengetahuan teknisnya untuk mencatatkan rekor penjualan yang kuat. Yang Yuanqing mendapat perhatian Liu Yuanzhi yang mempromosikannya sebagai kepala bisnis PC Legend Computers. Sebagai kepala bisnis, kiprah Yang Yuanqing yaitu mengajukan penawaran kepada IBM untuk menimbulkan Legend Computers sebagai reseller. Mereka sukses dalam bidding tersebut. Namun yang unik, belakangan setelah deal ditandatangani, Yang Yuanqing gres menyadari bahwa kesuksesan mereka bukan alasannya yaitu keahlian negosiasinya, tapi alasannya yaitu nilai proposal Legend Computers lebih dari dua kali lipat kompetitor yang lain, padahal Yang Yuanqing tidak bermaksud demikian (di sisi lain IBM malah respek dan menganggap Legend Computers sebagai calon kawan paling serius jawaban tawarna itu). Karena merasa aib akan hal ini, Yang minta izin pada Liu Chuanzhi untuk mencar ilmu bahasa Inggris lebih mendalam dan mengambil pendidikan ke Amerika. Yang meyakini bahwa dengan memahami kultur dan praktik bisnis Amerika, maka beliau akan sanggup kembali untuk menyebarkan Legend Computers. Meskipun sempat menyerah pada impian anak buah kesayangannya tersebut, Liu Chuanzhi kesudahannya memanggil pulang Yang Yuanqing ketika pendidikannya gres menjelang dua tahun berjalan alasannya yaitu kesibukan di Legend Computers yang tidak sanggup diatasinya seorang diri.
Setelah penandatanganan kerjasama, keberuntungan Legend Computers mulai bersinar ketika IBM mempercayakan perakitan komponen komputernya kepada mereka. Setelah relasi bisnis yang cukup sukses di tahun awal kerjasama, IBM mulai mengirimkan satu tim teknisi untuk melaksanakan transfer teknologi sehingga bukan saja Legend Computers merakit komputer untuk pangsa pasar Tiongkok, tapi juga untuk dijual ke seluruh dunia!

Transfer teknologi tersebut berjalan dengan saling menguntungkan kedua belah pihak. IBM sanggup menjual produknya ke negara Tiongkok yang pada final 80-an tersebut sedang gandrung teknologi dan berupaya untuk menyerap aspirasi teknologi dunia barat, sementara Legend Computers berbekal ilmu yang didapat dari IBM, kesudahannya memproduksi komputer sendiri dengan merek Legend. Penjualan IBM sama sekali tidak terganggu oleh produk Legend tersebut alasannya yaitu IBM sudah mempunyai gambaran yang sangat kuat. Sepanjang dekade 90-an, Thinkpad menjadi merek andalan untuk komputer portabel yang berfokus pada pengguna bisnis secara keseluruhan.
Liu Chuanzhi selalu ingin biar perusahaannya dilihat sebagai perusahaan global dan bukan merupakan ‘perusahaan Tiongkok’. Setelah bertahun-tahun membukukan penjualan yang sukses dan berhasil mendukung IBM untuk menjual produknya ke seluruh dunia, pada tahun 2003, Liu Chuanzhi mengubah nama perusahaannya menjadi Lenovo. Kata ini berasal dari ‘Le’ (mengacu pada Legend Computers) dan ‘novo’ (yang berasal dari bahasa Latin berarti ‘baru’). Dengan demikian Lenovo juga sanggup diartikan sebagai ‘Legend Computers yang Baru’.
Tahun 2005, Lenovo menciptakan geger dunia alasannya yaitu perusahaan asal Tiongkok ini membeli divisi komputer dan layanan IBM!
‘Membeli’ IBM
Embed from Getty Images
Hubungan antara Legend Computers dan IBM memang selalu mesra. Legend Computers sebagai kawan sukses memperlihatkan bahwa mereka bisa menangani banyak sekali urusan bisnis dan kiprah IBM dengan baik. Lebih dari itu, Legend Computers selalu memperlihatkan respek terhadap perusahaan Amerika tersebut. Ketika banyak terjadi skandal dalam proses alih teknologi dunia barat ke Tiongkok, secara umum dengan proteksi pemerintah, perusahaan-perusahaan Tiongkok selalu menciptakan ‘produk tiruan’ dari perusahaan yang menawarkan teknologi kepada mereka, Legend Computers tetap kukuh menghormati perjanjian yang mereka buat dengan IBM. Produk yang dibentuk dengan teknologi IBM selalu dibayarkan lisensinya dan mereka juga tidak pernah membocorkan rahasia-rahasia IBM dalam banyak sekali lini produknya. Ini menimbulkan IBM sangat mencintai kawan Tiongkoknya itu. Bahkan disebut-sebut bahwa Lenovo yaitu rujukan untuk kerjasama terbaik antara tim teknologi Barat dan Timur.
IBM selama bertahun-tahun menikmati profit optimal dengan murahnya tenaga kerja dan biaya perakitan dari Legend Computers. Meskipun demikian, mereka diresahkan oleh pajak dan banyak sekali kewajiban finansial lain alasannya yaitu status mereka sebagai ‘produsen’. Seiring dengan perubahan visi IBM yang melihat teknologi cloud dan layanan server sebagai masa depan bisnis yang lebih cerah dengan profit tinggi dan biaya murah, IBM mulai mempertimbangkan untuk melepaskan divisi komputer dan layanannya saja. Toh interaksi mereka tidak begitu tinggi alasannya yaitu segala proses produksi dari hulu ke hilir sudah ditangani oleh Lenovo. Steve Ward, Chief Information Officer IBM, mulai melaksanakan kalkulasi untuk kemungkinan melepas bisnis komputer IBM kepada Lenovo.
Liu Chuanzhi pun bersemangat atas prospek bisnis ini. Untuk orang yang selalu melihat perusahaannya sebagai sebuah perusahaan global, ini sebuah titik balik yang luar biasa. Untuk pertama kalinya ada sebuah perusahaan Tiongkok yang mengakuisisi perusahaan elit Amerika di bidang komputer. Liu Chuanzhi mati-matian meyakinkan direksi IBM bahwa visi IBM di bidang komputer akan terus dikembangkan. Inovasi akan menjadi ‘nyawa’ Lenovo. Mereka akan mempertaruhkan segalanya untuk menempatkan produk IBM-Lenovo selanjutnya sebagai produk terbaik sebagaimana yang dilakukan oleh IBM selama ini, utamanya dengan lini Thinkpad-nya yang sangat populer.
Akuisisi ini tentu saja melibatkan dana yang tidak sedikit. Namun Liu Chuanzhi juga berhasil meyakinkan pemerintah Tiongkok untuk mendukungnya. Liu berargumen bahwa ini bukan saja merupakan laba bagi perusahaannya sendiri, tapi sebuah prestise bagi Tiongkok secara keseluruhan. Toh nantinya Liu Chuanzhi akan mengembalikan dana yang dipinjamnya dari pemerintah untuk menyukseskan akuisisi ini. Gayung bersambut, Pemerintah menawarkan pertolongan penuh, bahkan bank-bank nasional Tiongkok antre untuk menawarkan pinjaman lunak bagi Liu Chuanzhi dalam proyek akuisisi tersebut.
Desember 2003, Lenovo kesudahannya resmi menyelesaikan akuisisi divisi komputer IBM. Steve Ward yang berperan besar dalam perundingan tersebut mendapat ganjaran sebagai CEO Lenovo menggantikan Yan Yuanqing, CEO kedua Lenovo yang menjabat sesudah Liu Chuanzhi mengundurkan diri sebagai CEO dan mengambil posisi sebagai owner dan chairman.

Lenovo memang sukses di bidang PC. Bagaimana usaha mereka di ranah seluler? Baca cerita selanjutnya di Silicon Valley #57 – Akuisisi Motorola, Wujud Ambisi Lenovo. Oya, ingin tau perihal detail akuisisi IBM oleh Lenovo? Kamu bisa membaca Kisah Silicon Valley #31 – Kejatuhan Kerajaan PC IBM.
Referensi
Bajarin, Tim. (2015). How a Chinese Company Became a Global PC Powerhouse. Time.
Chen, George. (2015). At 71, Lenovo’s Liu Chuanzhi is still a legend in the world of Chinese business. South China Morning Post.
Dunn, Jeff. (2017). Here are the companies that sell the most PCs worldwide. Business Insider.
Success Story. Lenovo Story.
Success Story. Liu Chuanzhi Story.
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #56 – Perjuangan Panjang Penjual Komputer Legendaris Asia"
Post a Comment