Kisah Silicon Valley #37 – Persidangan Antimonopoli Microsoft

 demikian jawab Bill Gates dikala ditanya apakah benar Office Kisah Silicon Valley #37 – Persidangan Antimonopoli Microsoft
via The New York Times

“Kami sudah bekerja super keras,” demikian jawab Bill Gates dikala ditanya apakah benar Office, khususnya Word, yakni upaya Microsoft melaksanakan monopoli software lain dengan memanfaatkan dominasi OS yang dimilikinya. “Itu (Office) yakni proyek yang paling menantang dan penuh cobaan yang pernah kami selesaikan.” Demikian pernyataan Bill Gates dikala seorang wartawan berusaha menggiringnya pada pertanyaan apakah benar Microsoft memanfaatkan dominasi OS untuk menjatuhkan para pesaingnya: antara lain WordPerfect dan Netscape!

 

Tekanan Dahsyat selama Persidangan

 demikian jawab Bill Gates dikala ditanya apakah benar Office Kisah Silicon Valley #37 – Persidangan Antimonopoli Microsoft
via CBS

Temuan fakta selama persidangan memperlihatkan bahwa Microsoft telah melaksanakan monopoli terhadap Operating System yang dijualnya. Microsoft bahkan bisa saja melaksanakan rekayasa sehingga harga lisensi tidak sanggup ditolak oleh siapa pun. Hakim Thomas Penfield Jackson yang memimpin persidangan merujuk pada sebuah bukti bahwa penetapan harga sebesar USD 49 untuk upgrade Windows 98 akan menghasilkan keuntungan investasi yang wajar, akan tetapi Microsoft memilih harga USD 89 yang cukup tinggi dan dalam hitungan ekonomi ini merupakan tindakan yang terlalu jauh. Permasalahannya adalah? Orang akan tetap membeli dengan harga tersebut alasannya yakni sudah terlalu tergantung pada ekosistem Windows. Mereka tidak sanggup menolak harga tersebut, dan inilah yang dianggap publik sebagai ‘memanfaatkan monopoli’.

Tindakan selanjutnya yang dianggap pemerintah ‘memanfaatkan monopoli’ dan ‘mematikan kompetitor’ yakni mewajibkan browser buatan Microsoft sendiri, yaitu Internet Explorer, sebagai upaya untuk mematikan Netscape. Sebagai bab dari upaya ini, Microsoft menolak kanal Netscape ke beberapa bab API Windows, dengan tujuan menawarkan keunggulan fitur pada Internet Explorer. Upaya yang dilakukan dengan sengaja ini tentu saja bertujuan untuk menghancurkan sang kompetitor dan menyalahi undang-undang antimonopoli.

Bersamaan dengan itu, sidang juga mengundang pihak-pihak yang pernah ‘ditekan’ oleh Microsoft sehingga alhasil perusahaannya merugi, antara lain Intel, Sun Microsystem, Real Networks, IBM – kesemua perusahaan ini pernah ditolak mendapat lisensi OEM Windows 95 hingga seperempat jam sebelum peluncuran resminya – Yang mana menimbulkan kehilangan potensi penjualan PC.

Apple juga hadir sebagai saksi kunci dalam persidangan ini. Secara khusus Apple pernah ditawari sebuah janji untuk berhenti berbagi sistem music player dan video player dan membiarkan Windows yang menanganinya memakai sistem DirectX. Jika Apple setuju, maka Microsoft akan berhenti menghambat QuickTime buatan Apple untuk beroperasi di platform Windows. Steve Jobs yang bernegosiasi dengan Microsoft secara pribadi pada waktu itu menolak ajuan tersebut alasannya yakni itu sanggup membatasi kemampuan pihak ketiga dalam berbagi konten yang akan beroperasi dalam Windows PC.

Di kemudian hari, keputusan Jobs menolak hal ini mungkin menjadi salah satu kesuksesan Apple. Karena dengan penolakan itu, Microsoft tidak sanggup mengontrol cara memutar musik yang dikembangkan oleh Apple pada Windows.

Di antara semua tuntutan yang saling bersilangan diarahkan kepada Microsoft tersebut, fokus utama persidangan ini yakni Internet Explorer. Terhitung dari 1995 hingga 1999, Microsoft telah memakai lebih dari seribu orang sumber dayanya untuk berbagi Internet Explorer, namun berikutnya sengaja disertakan gratis pada Windows hanya sekedar untuk membuat monopoli yang efektif dan menjadikan konsumen tidak lagi perlu untuk membeli software lain (Netscape) untuk mengakses internet.

Cita-cita Microsoft memang tercapai. Dengan upaya masif untuk mendorong pemakaian Internet Explorer tersebut, nilai saham Microsoft melonjak dan mencapai puncak kapitalisasi pasar sebesar USD 612,5 miliar pada penutupan hari kerja di bulan Desember 1999!

 

Dampak Persidangan 

 demikian jawab Bill Gates dikala ditanya apakah benar Office Kisah Silicon Valley #37 – Persidangan Antimonopoli Microsoft

Bill Gates mungkin menghadapi sidang antimonopoli dengan gagah berani, namun itu tidak menghindarkan liputan pers (yang sebagian besar buruk) terhadap tingkah laris Microsoft dalam menancapkan kukunya di dunia teknologi. Dalam sebuah rapat tahun 1999, dikala Gates dan Ballmer ingin mendiskusikan kondisi keuangan perusahaan, mengusut kinerja, dan menetapkan ragam produk selanjutnya yang berupa roadmap, Kepala Penjualan Microsoft, Orlando Ayala, menyela rapat dan menyampaikan bahwa beliau tidak ingin membahas roadmap.

“Kita harus membahas mengenai nilai-nilai perusahaan ini. Saya tidak bisa lagi bekerja di sini kalau saudara saya yang lain terus menentang pekerjaan yang saya lakukan,” Tukas Ayala berapi-api. “Kami disebut penjahat hanya alasannya yakni bekerja di sini. Kebanyakan keluarga kami di luar sana dihujani pertanyaan oleh publik: Untuk apa bekerja di Microsoft kalau perusahaan itu memang busuk?”

Ini menjadi bahasan serius di kalangan direktur Microsoft, “Kita semua mengakui kemampuan Microsoft untuk berbagi perangkat lunak ahli yang sanggup mengubah dunia. Masalahnya adalah, di luar sana orang-orang memandang Microsoft menyerupai sekelompok gangster, yang mengancam orang lain yang seperti ingin membuka lahan yang berdekatan dengan wilayahnya.”

Citra ini semakin jelek alasannya yakni selama masa persidangan, Hakim Jackson yang memegang tugas utama dalam sidang Microsoft, dikala diwawancara wartawan mengisyaratkan bahwa tindakan Microsoft tersebut tidak ada bedanya dengan tindakan yang dilakukan oleh para pengedar narkoba atau geng pembunuh. Media menjadikan publik membenci Microsoft dengan sangat dahsyat pada masa tersebut. Di kemudian hari, Hakim Jackson juga dituntut dalam sidang kode etik alasannya yakni percakapannya dengan jurnalis tersebut telah melanggar budpekerti peradilan alasannya yakni dianggap ‘sudah menarik kesimpulan’ padahal sidang masih berlangsung.

 demikian jawab Bill Gates dikala ditanya apakah benar Office Kisah Silicon Valley #37 – Persidangan Antimonopoli Microsoft

Sidang Kode Etik Thomas Penfield Jackson ini merembet pada hal lain: Putusan Jackson terhadap Microsoft, serta eksekusi yang dijatuhkannya pada Microsoft, termasuk perintah semoga Microsoft memecah divisi perusahaannya menjadi dua (satu khusus OS, sedang satunya lagi untuk software – untuk menghindarkan tindakan monopoli) dianggap cacat aturan alasannya yakni bias, sehingga alhasil dibatalkan. Jackson sangat marah atas keputusan negara terhadap kasus Microsoft ini, dikala diwawancara mengenai abolisi putusan eksekusi terhadap Microsoft, beliau kembali membuat pernyataan kontroversial, “dari waktu ke waktu, Microsoft terbukti menawarkan fakta yang tidak akurat, memperdaya, mengelak, dan jelas-jelas telah berbohong… Microsoft yakni perusahaan yang telah melaksanakan penghinaan institusional, baik bagi kebenaran maupun peraturan perundang-undangan yang harus dihormati oleh semua entitas di bawahnya. Microsoft juga merupakan sebuah perusahaan yang administrasi seniornya bersedia untuk menawarkan kesaksian palsu, demi bisa mendukung pembelaan palsu atas klaim kesalahan perusahaannya.

Meskipun terhindar dari eksekusi yang ‘parah’ yaitu kewajiban memecah perusahaan (yang tentu saja akan kuat terhadap kinerja saham Microsoft), namun raksasa software ini tetap harus menjalani hukuman. Ada panelis eksternal yang mempunyai kanal penuh terhadap source code Microsoft untuk memastikan bahwa Microsoft tidak akan menyembunyikan sistem yang sanggup dimanfaatkan untuk monopoli. Microsoft menjalani eksekusi ini hingga Juni 2011. Pada bulan itu, eksekusi bagi Microsoft resmi dicabut alasannya yakni dianggap ‘berkelakuan baik’.

 demikian jawab Bill Gates dikala ditanya apakah benar Office Kisah Silicon Valley #37 – Persidangan Antimonopoli Microsoft

Mary Jo Foley, seorang wartawati senior yang sudah menjadi kolega Microsoft selama bertahun-tahun menyatakan bahwa, “Persidangan itu mempunyai dampak besar, dan bahkan hingga satu dekade ke depan, dampaknya masih akan terasa. Ketika mereka akan menambahkan fitur gres pada beberapa produk, atau memikirkan cara untuk meyakinkan produknya bisa bekerja secara bersamaan, selalu ada fatwa panjang dan pertanyaan-pertanyaan semacam ini: kalau kita melakukannya, apakah kita akan dituntut si ini dan si itu alasannya yakni pelanggaran undang-undang antimonopoli? Pola pikir semacam ini terus memengaruhi Microsoft dalam pengembangan produknya dan mau tidak mau berdampak pada tipikal produk Microsoft mendatang.”

Mark Anderson, CEO  Strategic News Service di Friday Harbor mengungkapkan hal yang kurang lebih sama dengan Jo Foley, “Microsoft telah kehilangan kemampuan visionarisnya terhadap dunia teknologi.” Ujar Anderson. “Microsoft tidak lagi terasa menyerupai Apple. Tidak terasa kreatif. Microsoft sekarang bermetamorfosis perusahaan ‘pengikut’ dan kehilangan orang-orang yang antusias terhadap produknya, antusias terhadap teknologinya – dan siapa yang kita dapatkan? Kita hanya tinggal bersama orang-orang yang sekedar mengoperasikannya.”

Setelah Bill Gates berhasil mempertahankan Microsoft terhadap tuntutan pemerintah senilai USD 1 miliar atas tindakan antimonopoli Microsoft, pendiri Microsoft tersebut melangkah turun dari posisinya sebagai CEO dan menyerahkannya kepada Steve Ballmer. Gates sendiri meyakini bahwa tindakannya melangkah turun dari posisi puncak Microsoft ini akan membawa Microsoft pada gambaran yang lebih baik. Karena pada masa kepemimpinannyalah Microsoft dianggap besar kepala dan ‘menghalalkan segala cara untuk menang’.

 

 

Referensi

Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #37 – Persidangan Antimonopoli Microsoft"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel