Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi

 seorang investor Estonia mengungkapkan kepada wartawan Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi

“Saya ingat sempat bertanya-tanya: bagaimana mereka sanggup begitu bagus?” Steve Jurvetson, seorang investor Estonia mengungkapkan kepada wartawan. “Bagaimana sebuah kelompok kecil sanggup melaksanakan begitu banyak hal, begitu cepat, dibandingkan dengan upaya pengembangan misalnya, Microsoft? Saya awalnya punya kesan bahwa komputer dari negara-negara bekas jajahan Soviet sangat kuno, sehingga Anda harus tahu cara untuk benar-benar melaksanakan pemrograman secara efektif, elegan menata instruksi pemrograman biar ketat, efektif, dan cepat. Tidak menyerupai lingkungan pemrograman Microsoft yang sangat malas.”

Pendapat Steve Jurvetson ini seakan mewakili pendapat banyak orang (utamanya para investor yang tertarik pada Skype) ihwal kelompok yang mengembangkan Skype. Jurvetson termasuk yang paling depan dalam membiayai Skype (dan juga salah satu yang mendapatkan profit paling besar). Kini ia masih aktif menjadi angel investor bagi perusahaan-perusahaan potensial di Silicon Valley. Salah satu yang mencicipi tangan cuek Jurvetson kini ialah Elon Musk. Ya, Jurventson mendanai hampir semua proyek yang ingin dikerjakan Musk!

Jika investor sekelas Jurvetson tertarik pada Skype, maka potensi startup ini hampir sanggup dipastikan luar biasa menguntungkan. Dan memang benar. Pada akhirnya, dari USD 8 juta yang ditanamkannya pada Skype, perusahaan Jurvetson menangguk untung sampai lebih dari USD 300 juta hanya dalam waktu kurang dari dua tahun!

 

Taman Bermain

 seorang investor Estonia mengungkapkan kepada wartawan Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi
via Business Insider

Hingga tahun 2005, Skype beroperasi dengan santai. Jaringan orang-orang yang dalam banyak hal bebas tiba dan pergi sesukanya, bekerja di sana sebagai konsultan dan berafiliasi dengan banyak sekali hal yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Jika seseorang mempunyai ide, maka teman-temannya akan sekuat tenaga mewujudkannya lewat program. Sungguh santai tapi saling mendukung. Kaprikornus dalam banyak kejadian, seringkali ketiga pagi hari seseorang tiba ke kantor dengan sebuah ide ihwal fitur baru, maka malamnya, fitur itu sudah jadi, dan sudah dipakai oleh kurang lebih 10 ribu orang pengguna!

Saat menyusun daftar harga untuk fitur Skype Out (menelepon dengan Skype), mereka tidak repot-repot melaksanakan penelitian pasar dan hanya menyusunnya satu malam, memakai Excel!

Setiap ahad ada lima sampai sepuluh karyawan gres bergabung dengan perusahaan. Prosedur penyaringan sangat sederhana. Lulus tes? Kamu diterima! Dalam perundingan gaji, Skype agak pelit. Dimulai dengan honor standar yang rendah, Skype berupaya meyakinkan calon karyawannya bahwa mereka akan mendapatkan upah lebih baik kalau kontribusinya terlihat.

Eileen Burbidge, seorang karyawan Yahoo, merasa kagum pada budaya ‘kerja santai tapi fokus’ ala Skype. Dia mengundurkan diri dari Yahoo, kemudian melamar di Skype. Bahkan Burbidge ketika diwawancara menyatakan bersedia dibayar berapa saja asal sanggup bergabung. Lucunya, alasannya ialah kesalahan administrasi, Burbidge gres mendapatkan gajinya sehabis 8 bulan (Setelah itu gres rutin tiap bulan). Meskipun telat, jumlahnya berlebih alasannya ialah manajemen Skype merasa bersalah atas kesalahan tersebut. Burbidge sendiri tidak peduli alasannya ialah ia benar-benar bahagia bekerja di Skype. Dia menyebutnya “saat-saat terindah dalam hidup”.

“Di hari pertama belajar, saya gres saja menuntaskan kontrak dan persyaratan dengan Niklas,” kisah Burbidge. “Tidak ada seorang pun dari kami yang khawatir dan membahas problem uang pada ketika itu. Kami berdua sama-sama tidak sabar untuk memulai dan bekerja. Salah saya sendiri tidak mengeluhkan ‘kesalahan administrasi’ ini selama berbulan-bulan”

Seperti halnya Jurvetson, Burbidge menyatakan bahwa tim Estonia ini bekerja ‘secepat kilat’. “Baru saja keluar dari Silicon Valley selama 11 tahun, saya sangat terkesan dan kagum oleh para pemimpin teknis yang kelihatannya tidak mempunyai ego sama sekali, tidak peduli akan gelar, tidak peduli akan tugas atau main perintah, semuanya gila-gilaan dalam komitmen untuk melihat ‘proyek diselesaikan’ sehingga perusahaan sukses,” kisah Burbidge. “Mereka mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin yang belum pernah saya saksikan sebelumnya.”

“Contoh sederhana budaya Skype yang cepat ini, saya biasa memakai ‘adat Amerika’, sehingga tiap kali ingin bertanya, saya akan lebih dulu mengucapkan ‘apa kabar’, diikuti ‘bisa saya bertanya’ – Tapi Toivo tidak menyukai tata krama ribet semacam ini dan menyampaikan kepada saya: ‘Langsung tanya saja'” Burbidge terkekeh mengenang pengalamannya bekerja di Skype.

 

eBay Menawar Skype

 seorang investor Estonia mengungkapkan kepada wartawan Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi

Skype tumbuh dengan cepat. Pada ekspresi dominan panas 2005, Jaan Tallinn berada di London sedang menghadiri seruan dari eBay. Toko internet ini juga sedang berkembang pesat pada tahun tersebut. Tallinn ketika itu dikelilingi oleh para administrator dan pemegang saham utama eBay, dan salah seorang dari mereka secara bercanda berkata, “Hey Jaan, apakah kamu akan menjual Skype?” Tallinn menjawab, “Ya, dan saya akan membawa kopor besar biar membawa banyak uang pulang.”

Tak diduga pembicaraan itu berubah serius.

Berita bahwa Skype dijual ke eBay meledak pada bulan September 2005. Masih berupa rumor, tapi dikatakan bahwa Skype akan dibeli senilai USD 2,6 miliar. Masing-masing programmer awal Skype mendapatkan USD 42 juta sementara Friis dan Zennstrom mendapatkan sepuluh kali lipatnya. Begitulah kabar yang beredar.

Ross Mayfield, seorang penasihat keuangan bagi Presiden Estonia, mengunjungi kantor Tallinn sehabis mendengar kabar tersebut, dan terkejut ketika melihat para karyawan bekerja menyerupai biasa. Tidak ada perayaan berlebihan. “Di Silicon Valley, semua orang akan merayakan ‘rencana penjualan’ dan menghitung uang yang mereka peroleh. Tapi tim inti Skype ini tetap bekerja dengan penuh fokus dan tetap setia dengan tujuannya.”

Jurvetson, investor perusahaan tidak menyetujui penjualan dan menyampaikan bahwa seharusnya Skype bertumbuh dulu biar nilainya terus meningkat. Jaan Tallinn berupaya menenangkan investor besar Skype tersebut, “Kami terus mendapatkan proposal kok. Bahkan setiap proposal gres lebih besar dari sebelumnya.” Ada ketakutan bahwa Skype mungkin akan kesulitan menahan planning pembelian tersebut alasannya ialah MSN dan Yahoo sudah mulai menancapkan kukunya. Di tahun yang sama, Google meluncurkan Google Talk untuk menyaingi Skype. Ini merupakan tantangan besar alasannya ialah telepon ialah satu-satunya sumber pendapatan Skype.

“Kami tahu risiko semakin besar. Jika kami ‘tersalip’ oleh layanan lain yang mempunyai fungsi sama, nilai kami akan jatuh. Sedangkan ketika ini penawaran yang masuk benar-benar menggiurkan. Dan kami menyaksikan untuk pertama kalinya, pertumbuhan pengguna kami mulai berkurang alasannya ialah tekanan pesaing. Ini cukup menakutkan” Ujar Zennstrom dalam sebuah wawancara. “Tahun ini, kami menyaksikan Yahoo, AOL, Microsoft, dan Google, masuk ke pasar kami. Sangat mustahil bagi kami untuk terus menerus menjadi yang terbesar. Ada peluang kami akan dihancurkan oleh salah satu dari mereka.

 

Microsoft Melangkah Masuk

 seorang investor Estonia mengungkapkan kepada wartawan Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi

eBay mungkin salah satu raksasa teknologi yang paling serius menginginkan Skype. Namun mereka tak berdaya ketika Redmond dengan kekuatan raksasanya eksklusif masuk dan membeli Skype sebesar USD 8,5 miliar! Tidak ada perusahaan lain di muka bumi yang pada ketika itu bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah tersebut untuk Skype. Zennstrom dan Friis menyerah. Mereka melepas Skype dengan sebuah perjanjian yang rumit, termasuk opsi kepemilikan yang menciptakan mereka tetap mempunyai kontrol atas Skype.

Nyaris semua orang meramalkan bahwa Skype akan ‘membusuk’ di tangan Microsoft. Jurvetson sangat murka ketika Tallinn meneleponnya tentang deal dengan Microsoft. Dia bukan mempermasalahkan jumlah uang (karena tentu saja ia mendapatkan bab yang besar juga), melainkan reputasi Microsoft yang sering ‘merusak’ startup yang mereka beli sendiri. “Saya tidak akan kaget kalau Microsoft mengacaukan Skype. Mereka mengacaukan hampir apa saja!” Ujar Jurvetson bersungut-sungut. “Dimiliki oleh sebuah perusahaan besar juga negatif bagi Skype. Multinasional raksasa, menyerupai eBay atau Microsoft, perlu mengakomodasi kawan bisnis dan pemerintah di seluruh dunia. Ini akan mencegah Skype tumbuh secara kasar alasannya ialah akan mengancam pemerintah atau bisnis di banyak kepingan bumi. Misalnya, Skype akan ditekan oleh operator lokal alasannya ialah pendapatan mereka terancam oleh kehadiran Skype!”

Bertahun-tahun berlalu semenjak pembelian tersebut, dan untunglah tidak menyerupai ramalan banyak orang, Skype tidak membusuk. Aplikasi ini masih menjadi pengalaman integral dalam mesin Windows, bahkan banyak OS lain. Hanya saja, pengguna sering dibikin kesal oleh sistem trial and error yang dilakukan Microsoft dalam mengembangkan Skype. Visi Skype yang luar biasa dalam hal ‘telepon gratis’ mengilhami banyak startup untuk bertarung di bidang yang sama. Facebook, Whatsapp, Messenger, BlackBerry, LINE, ialah sedikit di antaranya. Kekuasaan Skype memang tidak lebih banyak didominasi menyerupai dulu, akan tetapi masih tetap besar lengan berkuasa di kalangan Enterprise, yang mana Skype nyaris tak tergoyahkan sebagai ‘pemain utama’ untuk aplikasi telepon internet, video call, teleconference, dan bahkan mengembangkan desktop yang gampang dan mulus. Mereka tetap jawara di bidang telekomunikasi, hanya saja fungsinya bergeser. Jika dulu Skype ialah penghubung antar keluarga yang terpisah oleh jarak dan waktu, kini Skype lebih banyak dipakai di dunia bisnis, utamanya dalam kordinasi antar karyawan dan rekanan bisnis.

Zennstrom, penggagas awal Skype bahkan optimis pada perkembangan aktivitas yang terkenal di seluruh dunia ini, “Fakta bahwa mereka (Microsoft) menutup MSN Messenger, menyiratkan bahwa mereka berkomitmen terhadap Skype, yang mana merupakan salah satu merek terkuat di portofolio mereka.”

 seorang investor Estonia mengungkapkan kepada wartawan Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi

 

 

Referensi

Aman. (2011). Skype – The Success Story! [Infographic]Technolism

Angelov, Bojan. Skype: Leading the VOIP Revolution. Case Study. Polytechnic University.

Jacob, Jijo. (2011). The rise and growth of Skype: A Baltic success sagaibtimes.

Manzoor, Sarfraz. (2010). Why Skype has conquered the world. The Guardian.

Tanavsuu, Toivo. (2013). How can they be so good”: Strange story of SkypeArstechnica.


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel