Kisah Silicon Valley #26: Sinofsky, Pahlawan Windows 7, Pecundang Windows 8

Pada sebuah malam yang hangat di bulan Oktober, Steven Sinofsky berdiri di atas panggung di Times Square New York, tersenyum menyaksikan massa membanjiri toko ritel Microsoft, daerah Surface tablet gres Microsoft yang gres saja dirilis dijual di sana. Surface Tablet merupakan sebuah perangkat yang mengundang keingintahuan. Selain sanggup berfungsi sebagai tablet, perangkat ini juga sanggup berfungsi layaknya sebagia sebuah komputer utuh, lengkap dengan keyboardnya. Microsoft menyebut ini sebagai perangkat 2-in-1. Ini merupakan sebuah revolusi gres untuk menantang iPad yang seakan tak punya lawan di dunia tablet.
“Well Steven, nampaknya memang kita sanggup menang atas Apple kali ini.” Ballmer menepuk bahu Sinofsky.
“Kuharap begitu,” ujar Sinofsky.
“Kau tahu bukan, saya akan segera mengundurkan diri tahun depan. Kita tidak selalu sejalan, tapi kamu tahu kan, saya selalu menghormatimu.. Aku akan mendukungmu kalau direksi memilihmu sebagai CEO Microsoft selanjutnya.” Ujar Ballmer serius.
Sinofsky hanya tersenyum muram menatap kolega yang sudah bekerja bersamanya belasan tahun tersebut. Aura muram dalam senyumnya itu terjawab tiga ahad kemudian. Pada bulan November 2012, Steven Sinofsky mengundurkan diri dari Microsoft.
Penyelamatan Windows Vista

Steven Sinofsky masuk ke Microsoft ketika divisi Windows rusak secara mendasar pada tahun 2006. Penjualan Windows Vista sangat buruk. Para penggemar Microsoft membully Vista sebagai ‘virus yang sengaja diinstal ke sebuah PC’. Secara umum, versi Windows ini indah dengan proposal banyak fitur baru. Sayangnya, reliabilitasnya sangat buruk. Software yang diinstal ke Vista niscaya akan mengalami crash bertubi-tubi, dan bahkan menjalankan software Microsoft sendiri sanggup menjadikannya freeze dan berhenti bekerja. Salah satu dagelan wacana Android di tahun 2010 bahkan mengatakan, “Kalian yang menyebut Android buruk, niscaya belum pernah mengoperasikan Windows Vista.”
Sinofsky dengan tangan besi mengubah itu semua. Terkenal sebagai orang yang ‘selalu melaksanakan apa yang dikatakan’, Sinofsky menekankan pentingnya sebuah dasar. Sebuah tujuan. Dia menghabiskan beberapa bulan dengan tim insinyur hanya untuk membangun citra dasar sejelas-jelasnya. Seperti apa tujuan simpulan sistem operasi yang tengah dibuat? Bagaimana ketika orang menggunakannya? Sinofsky belum akan memulai proses pembuatan sebelum semua insinyur mempunyai citra yang sama wacana apa yang sedang mereka bangun, serta bagaimana produk akhirnya. Bagaimana produk tersebut ketika digunakan. Setelah semua itu terbentuk dan proses dimulai, maka tidak ada seorang pun juga yang boleh menambahkan perubahan ini dan itu, bahkan dari direksi Microsoft sendiri.
Dare Obasanjo, anggota Tim Steven mengungkapkan situasi ketika itu sebagai berikut:
Cara organisasi Steven sangat eksklusif dan lurus, sehingga menyakitkan. Anda akan menghabiskan waktu memikirkan apa yang ingin Anda bangun, Anda menulisnya sehingga seluruh tim membuatkan visi wacana apa yang mereka berdiri dan bagaimana Anda membangunnya. Bagian awal hingga pengiriman produk jadi memerlukan disiplin Ini berarti tidak mengubah pikiran Anda sesudah Anda memutuskan apa yang ingin Anda bangun, kecuali Anda mempunyai alasan yang baik untuk itu. Dengan demikian, semua berjalan lancar. Tidak ada keterlambatan dan tidak ada anggaran yang berlebihan.
Dalam hal ‘menjaga produk’, Sinofsky dikenal sangat keras kepala. Dia terang-terangan menolak undangan direksi, bahkan termasuk Ballmer sendiri (yang ketika itu yakni CEO Microsoft) untuk menambahkan ini itu. Sinofsky bersikeras bahwa beliau telah mengalkulasikan waktu sedetail mungkin sehingga tidak ada waktu untuk menambahkan fitur yang bakal menimbulkan perombakan kode. Dia melindungi Windows 7 hingga saatnya dikirimkan kepada konsumen.
Namun hasilnya memuaskan. Windows 7 yang dikembangkan tidak hingga 2 tahun semenjak kedatangan Sinofsky, sudah sangat andal semenjak hari pertama. Jarang pengguna yang mengeluhkan crash. Reliabilitas yang sangat dahsyat ini balasannya sukses menciptakan pengguna Windows XP berduyun-duyun melaksanakan upgrade ke produk gres Microsoft ini.
Sinofsky vs Seluruh Eksekutif

Kesuksesan Windows 7 menimbulkan Sinofsky makin percaya diri. Dia yakin bahwa sistemnya yakni yang terbaik. Ini menimbulkan ukiran antara Sinofsky dan direktur lain semakin memanas. Tidak ada yang membantah efektivitas Sinofsky dalam mengembangkan sebuah produk mulai dari bibit hingga tumbuh berbunga. Namun kekolotannya banyak dikeluhkan divisi lain.
Ketika Windows 8 dikembangkan, Microsoft mempunyai visi untuk merilis sebuah perangkat yang akan ‘memamerkan’ kehebatan Windows 8. Perangkat ini yakni sebuah ‘tablet’ yang juga sanggup berfungsi sebagai komputer penuh. Keharusan berhubungan dengan divisi selain software menimbulkan Sinofsky terus terlibat perseteruan tak berujung dengan direktur lain.
Apalagi sekitar tahun 2009, rumor mulai berhembus bahwa Sinofsky merupakan salah satu kandidat untuk CEO selanjutnya sesudah Ballmer. Konon bahkan Bill Gates mendukungnya. Ini menimbulkan Sinofsky makin percaya diri dan menekan divisi lain terkait Windows 8 untuk mengikuti semua keputusannya.
Mary Jo Foley, wartawan seorang mahir info wacana Microsoft, menggambarkan situasi tersebut sebagai berikut:
Sinofsky dikenal di dalam dan di luar perusahaan sebagai lelaki yang akan menuntaskan pekerjaan, dan menuntaskan pekerjaan itu dengan caranya. Rumor menyebutkan bahwa beliau akan mengambil alih kepemimpinan lebih banyak unit bisnis. Dan hingga ketika ini, kelihatannya tim pemimpin senior Microsoft, termasuk Ballmer sendiri, mulai memperhitungkan situasi tersebut…
Namun baru-baru ini, sesuatu nampaknya berubah. Ballmer memindahkan banyak karyawan di bawah kepemimpinan Sinofsky untuk masuk ke divisi lain dan mulai memuji Larson-Green (salah seorang direktur Microsoft) sebagai orang yang sanggup berkolaborasi secara efektif dan menuntaskan agenda perusahaan dengan baik. Saya mencium adanya reorganisasi besar-besaran…
Jo Foley kelihatannya benar. Tidak ibarat biasanya, Ballmer yang populer lebih suka ‘menyerang frontal’, kelihatannya bermain dua kaki. Dia berusaha mendukung Sinofsky, tapi juga ‘mengelus’ kandidat lainnya. Mungkin Ballmer sendiri sedapat mungkin ingin menjaga keharmonisan Microsoft dengan menunjukkan dukungannya pada semua eksekutif, meskipun hal itu terperinci berat dilakukan.
Seorang direktur yang ‘tidak ingin disebut namanya’ berkomentar, “Ballmer bersama-sama sudah usang tidak sabaran terhadap polah Sinofsky. Namun beliau menahan diri dan tidak mengambil tindakan apa pun semoga rilis Windows 8 tidak terganggu.”
Windows 8: Revolusioner, tapi Dibenci

Sinofsky sendiri bukannya tidak mencicipi kebencian itu. Tekanan semoga Microsoft ‘sukses’ dengan Windows 8 sangat besar. Sinofsky sadar dengan segala tindakannya di Microsoft, kalau proyek ini tidak berhasil secara komersial, maka para petinggi Microsoft akan punya alasan untuk menjatuhkan dirinya.
Dugaannya tepat. Windows 8 mendapatkan review baik dari para praktisi teknologi sebagai ‘OS Masa Depan’, namun konsumen tidak menyukainya. Tampilan metro yang ‘dipinjam’ dari Windows Phone (dan ketika itu dipuji futuristik), tidak berhasil menarik minat konsumen.
Meskipun tidak dituntut untuk bertanggungjawab atas kegagalan Windows 8, Sinofsky tahu diri. Dia mengundurkan diri dengan ‘alasan pribadi dan sebuah pilihan berat’ – sebagaimana ditulis dalam sebuah email untuk seluruh karyawan Microsoft pada November 2012. Microsoft menunjukkan perilaku ‘tidak memberatkan kepergian Sinofsky’. Bill Gates menyatakan bahwa beliau mendukung penuh keputusan Sinofsky sebagai seorang individu. Ballmer sendiri malah sibuk mencuatkan bahasan wacana penggantinya, alasannya yakni perginya Sinofsky mencuatkan kehebohan wacana siapa CEO Microsoft selanjutnya (karena Sinofsky sempat menjadi kandidat).
Steven Sinofsky, bagaimanapun juga akan tetap dikenang sebagai seseorang yang pernah membangun operating system paling stabil di dunia: Windows 7!

Referensi
Bott, Ed. (2012). How Steven Sinofsky Changed Microsoft, for better and for Worse. ZDnet.
Wingfield, Nick. (2012). Ex-Windows Chief Seen as Smart, but Abrasive. New York Times
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #26: Sinofsky, Pahlawan Windows 7, Pecundang Windows 8"
Post a Comment