Kisah Silicon Valley #23: Perang Smartphone – Perebutan Komunitas Developer

Steve Jobs menggebrak meja di depannya. Tomalsky yang ketika itu gres berusia 20 tahun, lulusan terbaik dari University of Southern California mengkeret di ujung seberang meja. “Sampah apa yang kamu bawa ke depanku ini?! Ini tidak abnormal sama sekali! Kembali ke sini kalau sudah ‘ajaib’!”
Tomalsky mengangguk ketakutan, kemudian buru-buru meninggalkan ruang kerja CEO Apple tersebut. Saat itu Apple sedang berupaya membuatkan Safari Mobile sebagai salah satu bagian Internet Communicator yang digagas Steve Jobs untuk perangkat gres Apple, iPhone. Tomalsky dan kelima orang rekannya merupakan tim khusus yang didapuk membuatkan browser seluler dengan ketentuan spesifik menyerupai keinginan Jobs. Masalahnya: Keinginan Jobs itu berubah-ubah dan seringnya tidak realistis. Entah bagaimana, tim itu alhasil bertahan dan memenuhi keinginan Jobs, kemudian merilis iPhone dengan penuh gaya dan kegemparan. Keberhasilan tim pengembang aplikasi ini disaksikan dengan mata berbinar oleh para pengembang lainnya. Mereka yaitu teladan! Mereka yaitu para perintis dan menjadikan impian baru!
Upaya Apple Merangkul Komunitas Developer

Developer melihat adanya peluang besar sesudah rilis iPhone. Gagasan untuk menggunakan aplikasi terpisah yang sanggup diintegrasikan dalam perangkat ponsel, kemudian menjualnya kepada pengguna merupakan solusi bagi developer yang kesulitan ‘menjual’ kemampuannya ke perusahaan besar. Para pengembang ini berbondong-bondong mencari Software Development Kit dan Application Programming Interface yang memungkinkan mereka sanggup membuatkan aplikasi untuk iPhone. Solusi ini lebih menarik daripada yang ditawarkan oleh BlackBerry ataupun Nokia yang dalam pengembangan programnya jarang melibatkan pihak ketiga, melainkan harus masuk ke ekosistem perusahaan tersebut, yang tentu saja persaingannya sangat ketat.
Pada ajang Worldwide Developers Conference Apple di San Francisco, Steve Jobs di panggung mengumumkan: “Kami tengah berupaya mencari solusi supaya bisa membuatkan kapabilitas iPhone sehingga para pengembang bisa menulis banyak aplikasi untuk ponsel ini, namun tetap menjaga keamanan iPhone. Dan kami telah menemukan solusi yang sangat bagus. Izinkan saya mengatakannya kepada Anda. Cara gres yang inovatif untuk menciptakan aplikasi bagi ponsel.. Itu semua didasarkan pada kenyataan bahwa kita mempunyai mesin Safari lengkap dalam iPhone.” Jobs berhenti sesaat dan para pengembang yang hadir menunggu dengan harap-harap cemas.
“Anda sanggup menulis aplikasi Web 2.0 dan AJAX yang mahir dan terlihat serta beroperasi persis menyerupai aplikasi pada iPhone, dan aplikasi ini sanggup terintegrasi secara tepat dengan layanan iPhone. Bisa dipakai untuk menelepon, mengusut email, mencari lokasi pada (Google) Maps… Jangan khawatir wacana distribusinya, masukkan saja ke server internet. Aplikasi tersebut praktis diperbarui; tinggal perbarui langsung di server Anda.”
Pengumuman Jobs itu tidak disangka oleh para pengembang. Ini berarti bahwa para Apple telah mempunyai pengembang tersendiri yang sudah menulis aplikasi untuk Apple. Ini berbeda dengan yang dibutuhkan pengembang dari pengumuman sebelumnya. Kata kuncinya yaitu ‘web 2.0’ dan ‘mesin Safari lengkap’. Ini berarti bahwa Apple hanya mengharapkan pengembang menulis aplikasi berbasis web (web app) yang nantinya akan diakses iPhone melalui Safari engine. Bukan ini yang dibutuhkan oleh para pengembang. Mereka ingin aplikasi pihak ketiga yang independen.
Setelah pengumuman tersebut, internet pecah oleh kritik dari kalangan developer kepada Apple. Mereka menganggap bahwa Apple sedang berupaya membodohi developer. Jobs meminta mereka bersabar alasannya beliau sedang memikirkan cara biar pihak ketiga sanggup membuatkan aplikasi di iPhone, namun tetap menjaga iPhone biar terlindungi dari virus dan malware, tidak menyerupai Windows yang ketika itu terkenal sebagai sasaran serangan software pengganggu.
Semua Serba Gratis!

Ketika Apple tengah mencari konsep yang pas soal aplikasi, Google tampaknya telah selangkah di depan ketika mereka merilis Open Handset Alliance – Sebuah konsep open source yang memungkinkan pengembang sanggup menulis aplikasi untuk OS ponsel milik Google. Hal yang menarik bagi pengembang: Ini gratis! Selain SDK Kit dan API yang gratis, Google juga tengah membuatkan OS ponsel yang gratis. Konsep ini didukung oleh 34 perusahaan, di antaranya yaitu HTC, Motorola, T-Mobile, dan Qualcomm. Page dan Brin berkali-kali menekankan bahwa mereka tidak menciptakan ponsel, melainkan platform ponsel. Metode ini dimaksudkan untuk diterapkan dalam OS ponsel Google yang nantinya akan menjadi perpanjangan mesin pencarian Google – Tentu saja ini akan mengukuhkan dominasi Google dalam mesin pencari.
Saat diwawancarai wacana konsep OHA dari Google, Ballmer terlihat tidak tertarik, “Yah, teorinya sih gampang. Untuk sementara ini hanya kata-kata di atas kertas. Untuk mewujudkan hal tersebut tentu akan sulit.”
Saat ditanya mengenai Windows Mobile, Ballmer tentu saja sumringah, “Windows Mobile ketika ini tersedia dalam lebih dari 150 ponsel yang berbeda, tersedia lebih dari 100 operator berbeda di seluruh dunia. Kami mungkin akan melisensikan sekitar 20 juta perangkat Windows Mobile tahun 2007 ini – hal itu sangat dramatis, setidaknya di antara sistem smartphone – sehingga kita mempunyai momentum yang sangat tepat. Saat Google masih mengadakan siaran pers wacana konsep aplikasi, kami sudah mempunyai jutaan konsumen, perangkat lunak andal, banyak hardware… dan semuanya diterima dengan sangat baik di kalangan konsumen!”
Fakta ketika Ballmer menyatakan hal tersebut, memang lisensi Windows Mobile tengah berkembang pesat. Selama tahun fiskal 2007, Microsoft telah menjual 11 juta lisensi, hampir dua kali lipat dari tahun fiskal sebelumnya yang mencapai 5,95 juta. Tentu saja ketika itu Nokia dan Symbian miliknya merupakan raja di pasar, namun Windows Mobile sudah mempunyai konsep matang tentang developer pihak ketiga yang membuatkan aplikasi untuk OS milik Microsoft tersebut. Microsoft makin percaya diri dan menaikkan angka penjualan lisensi. Mereka langsung dan mendatangkan keuntungan! Namun Microsoft tidak melihat bahwa pelan-pelan ini menyulitkan pihak developer.
Saat inilah Google dan Android tiba menikung! Tidak ada biaya lisensi, tidak ada sertifikasi jumlah ponsel yang dibuat, tidak ada biaya untuk membuatkan aplikasi! Sistemnya juga open source yang memungkinkan setiap kalangan, mulai dari perusahaan besar sampai anak sekolah yang gres mempelajari koding sanggup mulai menciptakan aplikasi untuk OS ponsel Google ini. Dahsyat!
Apalagi, reliabilitas Windows Mobile masih menjadi pertanyaan banyak pengguna. Jangankan pengguna biasa. Mary Jo Foley, wartawan senior yang merupakan reporter khusus untuk berita-berita seputar Microsoft selama bertahun-tahun, menyatakan, “Saya sendiri belum menggunakan Windows Mobile. Setiap kali saya berkata kepada teman-teman bahwa saya akan menggunakan Windows Mobile, mereka selalu mencegah saya: jangan.. jangan pakai Windows Mobile… Produk itu tidak berfungsi dengan baik. Ada jutaan Windows Mobile yang diretur, dan produk itu terlalu rumit..” Apa ponsel yang dipakai Windows Mobile pada waktu itu? Sebuah feature phone merek LG!
Knook Mundur dari Windows Mobile

Photograph ©2007 Stuart Isett
All rights reserved
Setelah MWC 2008, Ballmer meminta Knook untuk berbicara empat mata dengannya. Windows Mobile tengah mencapai puncak kejayaannya, dan Knook menerka Ballmer ingin memberinya ucapan selamat.
“Pieter, Anda sudah berhasil membuatkan Windows Mobile dari nol.” Ballmer tersenyum.
“Terima kasih Steve.”
“Sekarang waktunya bagi Anda untuk melaksanakan tantangan lain. Bergabunglah dengan bisnis Windows atau bisnis Service. Kami sangat memerlukan talenta Anda.”
Pieter Knook nyaris tersedak. Dia kemudian tercenung. Ini memang sebuah kenaikan pangkat. Knook telah membuatkan bisnis mobile sejak awal pemanggilannya dari divisi Microsoft Jepang. Namun passion-nya yaitu di divisi mobile.
Di sisi lain beliau menyadari, Ballmer tidak suka dibantah. Mau tak mau alhasil Knook pindah ke divisi yang tidak beliau sukai. Setelah beberapa bulan ‘melaksanakan tugasnya’, Knook alhasil pamit dari Microsoft. Dia bergabung dengan Vodafone, salah satu perusahaan ponsel terbesar di dunia!
Solusi iOS dan Android

Solusi itu alhasil hadir. Apple meluncurkan SDK untuk iPhone yang menjadikan kehebohan di kalangan developer. Rumor berhembus bahwa Apple akan mendistribusikan aplikasi yang dibentuk oleh pihak ketiga melalui iTunes dan mengambil laba sebesar 30 persen dari harga jual. Tentu saja ini jumlah yang cukup besar, namun solusi yang lebih baik dibandingkan sebuah webapp terbatas. Para pengembang sangat benci kalau harus membuatkan aplikasi berbasis web app.
Manfaat besar App Store milik Apple yaitu visibilitas terpusat. Apple Store yaitu kawasan mencari aplikasi dan setiap orang mendaftar untuk membeli aplikasi secara Over The Air (OTA). Masalahnya sekarang hanya tinggal keterbatasan kemampuan iPhone dalam mengolah aplikasi. RAM dan CPU iPhone tentu saja sangat terbatas untuk menjalankan sebuah software. Saat itu iPhone hanya mempunyai 128 MB RAM dan tidak mempunyai virtual memory. Performa CPU dan baterai akan berkurang ketika aplikasi yang berjalan di background melaksanakan sesuatu. Para insinyur di Apple berupaya keras untuk menjadikan iOS bisa menyederhanakan mekanisme ini, sementara para pengembang juga terus berupaya menyederhanakan isyarat di sistem Apple.
Android juga berhasil menarik minat banyak pengembang melalui kucuran dana sebesar USD 10 juta untuk mendanai gagasan-gagasan para pengembang. Apalagi, jangan lupa yang utama: Semua serba gratis! Pada tahun 2008, Android mempunyai hampir 2.000 aplikasi. Kesemuanya menggunakan konektivitas Android dan cloud computation. Walaupun belum ada ponsel yang menggunakan Android di pasaran, jumlah aplikasinya sudah separuh dari milik Windows Mobile dan BlackBerry. Ini sebuah prestasi yang luar biasa!
Aplikasi untuk iPhone juga mulai bermunculan pada Juli 2008. Super Monkey Ball adalah game pertama yang laku di iPhone. Terunduh sebanyak 11.000 kali dalam hari pertamanya – mencetak angka penjualan sebesar USD 110.000. Sega yang menciptakan aplikasi tersebut Ini menjadikan para pengembang ingin ‘mengulang’ prestasi tersebut. Meskipun Apple mulai banyak cincong dalam seleksi aplikasi, dalam artian mereka mulai menolak aplikasi tertentu dengan aneka macam alasan aneh ini dan itu, namun selama itu mendatangkan uang, tentu saja tidak banyak yang ingin protes.
Sejak 2008 ini juga, iPhone mulai dengan cepat menghasilkan profit share yang cukup besar. Penempatan posisi iPhone sebagai ‘perangkat kelas atas’ juga membantu meminimalisasi persaingan. Tidak banyak orang yang bersedia membayar USD 600 untuk sebuah ponsel, kecuali itu perangkat Apple dengan kekuatan citranya. Pada final 2007, Sony Ericsson yang berposisi sama, yaitu ponsel kelas atas, mulai ditinggalkan oleh pengguna, sementara iPhone semakin laku terjual. Steve Jobs tersenyum ketika membaca laporan keuangan final tahun 2008.
Persaingan di dunia ponsel semakin ketat. Pangsa pasar smartphone mengerucut pada lima OS: iOS, Android, Blackberry, Windows Mobile, dan Symbian. Ikuti Kisah Silicon Valley selanjutnya: Perang Smartphone – Perang Dominasi Pasar Smartphone.
Referensi
Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo
Cunningham, Andrew. (2014). Mobile Safari developer talks about crafting Apple’s first iPhone apps [Updated]. Ars Technica.
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #23: Perang Smartphone – Perebutan Komunitas Developer"
Post a Comment