Kisah Silicon Valley #22: Perang Smartphone – Lahirnya sang Dominator

Suatu pagi tahun 2004, telepon Steve Perlman berdering. Dia mengangkatnya sembari mengusir sisa-sisa kantuk. “Hai Steve, maaf meneleponmu begitu pagi,” Perlman eksklusif mengenali bunyi sahabatnya, Andy Rubin.
“Kenapa Andy? Kau dalam masalah?”
“Aku..” Andy terdengar menarik napas. “Sebetulnya saya tidak tahu harus mulai dari mana, tapi saya perlu bantuanmu Bro. Aku sudah tidak tidur dua hari memikirkan pemecahan masalahnya, tapi semua buntu, dan tampaknya tinggal kamu yang sanggup kumintai tolong. Ini wacana perusahaanku, Android. Kami menunggak uang sewa kantor dan diancam untuk ditutup. Kau tahu, kami belum menghasilkan apa-apa. Investor juga mengejar-ngejarku untuk minta pertanggungjawaban dana mereka. Well, saya tahu kamu salah satu investorku juga… Tapi sebab kita teman.. Bolehkah saya pinjam sedikit dana lagi?”
Steve Perlman mengenal Andy dengan baik, dan sahabatnya itu tidak akan sembarangan menelepon, apalagi pada pagi hari untuk mengganggunya kalau tidak benar-benar kalut. “Oke Andy, mari kita bahas hal ini sambil sarapan. Jangan khawatir. Aku akan membantumu.”
Perlman menutup telepon dan beranjak mencuci muka. Saat itu memang niatnya hanya satu: Membantu Andy, si jenius teknologi yang rahasia dikaguminya. Steve Perlman ialah pebisnis tangguh. Namun ketika beliau mengulurkan tangan pada Andy, niatnya hanya ingin membantu sahabatnya itu mewujudkan impiannya. Namun beliau tak pernah menyangka bahwa karya sahabatnya itu pada hasilnya mengubah dunia seutuhnya!
Pembelian diam-diam

Awal 2000-an, Andy Rubin mengutak-atik instruksi turunan Linux membuat sebuah OS yang rencananya beliau persiapkan untuk sebuah kamera digital. Namun upaya ini tidak mendapat banyak perhatian dari investor. Rubin lalu berafiliasi dengan Chris White yang sebelumnya merancang antarmuka untuk WebTV dan Nick Sears, mantan direktur pemasaran T-Mobile.
Pengaruh Nick sangat besar dalam membelokkan Android menjadi ‘OS untuk ponsel’. Pada tahun 2004, Rubin menjelaskan idenya untuk menciptakan operating system berbasis open source untuk ponsel. Ini menarik perhatian banyak orang.
Andy Rubin rajin mencari ‘sponsor’ untuk proyeknya memproduksi sebuah perangkat mobile. Dia rajin mempresentasikan kemajuan OS yang dibuatnya beserta visinya wacana OS tersebut. Namun tidak disangka, di trend semi 2005, Larry Page – Yang ketika itu ialah satria bagi dewasa pemberontak di dunia teknologi, meneleponnya secara langsung.
“Andy, saya akan eksklusif ke pada dasarnya saja, saya ingin membeli startup milikmu, beserta sumber dayanya, dengan satu syarat…”
Jantung Rubin berdetak kencang. Memang beliau sering mendengar akuisisi sebuah perusahaan seringkali melibatkan syarat manajemen dan ketentuan hak cipta yang rumit. Dia tidak tahu apakah beliau siap untuk itu. “Apa syaratnya Mr. Page?”
“Tolong jangan bilang siapa pun saya membeli Android. Literally: Bahkan jangan hingga si bau tanah Schmidt tahu hal ini.”
“Hah?!”
Andy Rubin perlu berulangkali memastikan maksud Larry Page dengan kalimat ‘jangan bilang siapa-siapa itu’. Setelah pengacara Larry tiba mengurus pembelian, beliau gres sadar bahwa ternyata Larry Page membeli Android dengan memakai asetnya sendiri – Bukan atas nama Google. Eric Schmidt yang menjabat CEO Google pada ketika itu mengawasi ketat keuangan Google sebab Larry Page dan Sergey Brin benar-benar spontan dalam ‘membelanjakan uang Google’ untuk ‘hal-hal yang menyenangkan’ versi mereka: membeli server, paten, perusahaan lain yang teknologinya sanggup digunakan, dan sebagainya. Jadilah Page dan Brin ibarat anak yang kucing-kucingan dengan orangtuanya untuk membeli mainan memakai uang saku mereka sendiri.
“Kita akan menguasai dunia, Andy!” Larry Page merangkul Rubin sesudah beliau membubuhkan tanda tangan di lembar kontrak. Andy Rubin tidak pernah bermimpi bahwa ucapan Larry tersebut ternyata menjadi kenyataan!
‘Inspirasi’ dari iPhone

Pada tanggal 9 Januari 2007, Andy Rubin tengah dalam perjalanan ke Vegas untuk sebuah urusan bisnis. Dari laptopnya, beliau menyaksikan siaran eksklusif Steve Jobs yang mengumumkan sebuah perangkat gres dari Apple. Saat di pecahan Steve Jobs mengucapkan “Sebuah iPod berlayar besar, ponsel, internet communicator… Ini semua bukan perangkat terpisah… Melainkan sebuah perangkat tunggal terintegrasi. Kami menyebutnya… iPhone” – Andy hampir saja melemparkan laptopnya sebab kesal!
Belum pulih dari hantaman kekaguman oleh potensi teknologi yang disaksikannya, Chris De Salvo, partnernya dalam pengembangan Android untuk Google menelepon. “Sepertinya, kita harus memulai ulang semuanya, Andy…”
Andy mengangguk tanpa jawaban. Mereka berdua tahu potensi perangkat yang disebut iPhone itu.
Andy bekerja siang malam untuk ‘mengubah arah’ OS yang dirintisnya. Ponsel itu harus sanggup melaksanakan banyak tugas, kemudian: dioperasikan dengan layar sentuh! Yang jelas, sebab merupakan pecahan dari Google, Android ‘diarahkan’ untuk menjadi perpanjangan banyak sekali layanan Google, disertai dengan aplikasi dari banyak sekali platform yang berminat. Rubin sadar bahwa mereka tidak akan sanggup memalsukan ‘cara Apple’ yang membangun semuanya sendiri. “Kita membuat OS” ujar Rubin. “Membuat ponsel itu hal lain. Apple sanggup melaksanakan segalanya sendiri. Tapi kalau kita ingin melakukannya, maka kita harus membangun infrastruktur. Kita perlu aliansi. Kita perlu mitra!”
Ide Andy Rubin ini didukung penuh oleh Page dan Brin. Mereka bermanuver dan berupaya melaksanakan kemitraan dengan pembuat chip, pembuat smartphone, dan operator seluler. Rubin sendiri tak kenal lelah berkeliling mempresentasikan OS-nya serta memperlihatkan penuh dukungan bagi pembuat ponsel. Beberapa perusahaan raksasa ibarat LG, HTC, dan Samsung, tertarik pada konsep ini!
Tantangan terberatnya ialah meyakinkan operator. AT&T, Sprint, dan T-Mobile bersikap jinak-jinak merpati terhadap tawaran Google ini. T-Mobile bahkan bersikap maju mundur. Sempat menolak, menerima, dan menolak kembali. Google dengan sabar membiarkan perusahaan-perusahaan seluler itu melaksanakan tarik ulur, namun mereka tetap menyempurnakan OS dan produknya.

Pada tahun 2008, sesudah tarik ulur yang melelahkan, T-Mobile bersedia merilis Android pertama: HTC G1 atau terkenal dengan nama HTC Dream!

Google berhasil merilis ponsel Androidnya sesudah usaha panjang. Namun perang belum selesai! Mereka masih harus saling sikut dengan Apple dan Microsoft untuk memperebutkan komunitas developer yang mendukung ponsel buatannya. Baca episode berikutnya di Kisah Silicon Valley #23: Perang Smartphone – Perebutan Komunitas Developer!
Referensi
Arthur, Charles. (2013). Digital Wars – Apple, Google, Microsoft, dan Pertempuran Meraih Kekuasaan atas Internet. PT. Elex Media Komputindo
Sumber: https://winpoin.com/
0 Response to "Kisah Silicon Valley #22: Perang Smartphone – Lahirnya sang Dominator"
Post a Comment