Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana

 Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana

“Kesuksesan bukan hal yang statis – Budaya Anda juga seharusnya tidak (statis). Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang-orang terbaik Anda, dan berdiri infrastruktur yang mendukung keahliannya. Cara terbaik untuk menjaga orang-orang berbakat ialah membiarkan pekerjaan berubah bersamanya.”

Dalam sebuah wawancara, Michael Dell mengungkapkan kalimat tersebut, menyoroti pentingnya menghadapi perubahan, serta bagaimana perusahaan seharusnya menghadapinya. Namun kelihatannya, Michael ibarat harus menelan mentah-mentah kata-katanya sendiri. Sepanjang perkembangannya, Dell dikenal setia dengan inti bisnisnya: menjual eksklusif kepada konsumen atau yang terkenal dengan nama Direct Model. Model produk Dell juga tidak banyak mengalami perubahan estetika. Meskipun fungsional dan mengikuti tren spek terbaru, namun bentuknya tetap kaku dan nyaris tidak berubah di setiap rilisnya. Michael bisa berkilah bahwa ini dikarenakan ‘kesetiaan’ pada prinsip. Namun tentu saja konsumen eksklusif melabeli Dell sebagai boring company.

 

Mundur sebagai CEO

 Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana
via Business Insider

Setelah menikmati fase ‘bulan madu’ dengan mencatatkan angka penjualan yang dahsyat selama satu dekade terus menerus, Dell Computers mulai mencapai fase stagnan. Direct model yang menjadi andalan Dell untuk memangkas biaya makelar mulai disamai oleh para kompetitor ibarat IBM. Perusahaan-perusahaan Asia ibarat Acer, Asus, dan Lenovo dengan mengandalkan tenaga produksi murah juga menekan dengan memainkan harga secara gila-gilaan.

Dell Computers sangat  kesulitan menghadapi situasi ini. Satu-satunya jalan untuk berkembang ialah melaksanakan perluasan, menjual produk Dell lebih luas, selama ini, Dell hanya bisa menjangkau Amerika Utara dan Eropa Barat. Namun di sinilah keterbatasan Direct Model. Untuk menjangkau tempat yang jauh, Dell memerlukan kerjasama dengan outlet lokal, memerlukan sumbangan mediator yang sanggup membawa produknya. Namun reputasi Dell sudah terlalu berpengaruh sebagai ‘penghapus’ makelar dan ‘tidak berafiliasi dengan pihak ketiga’ – Ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan yang potensial untuk dijadikan rekanan menjadi takut untuk berafiliasi dengan Dell, belum lagi banyak di antara mereka yang dendam alasannya ‘kehilangan mata pencaharian’ akhir sepak terjang Dell di AS.

Meningkatnya kekuatan Asia di bidang IT juga meresahkan bagi Dell. Tiongkok pada masa itu mulai naik daun sebagai penghasil komponen murah. Makara kalau Dell meminta sumbangan rekanan OEM Asia, mereka berhadapan dengan persaingan harga komponen yang tidak masuk akal.

Akumulasi semua permasalahan tersebut jadinya mengakibatkan Michael mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO pada tahun 2004. Sebagai pengganti, beliau menunjuk tangan kanannya, Kevin Barney Rollins yang sudah bersama dengan Dell semenjak 1996. Michael mengharapkan ada penyegaran dengan penggantian kepemimpinan.

“Saya ingin lebih berfokus dalam acara amal saya,” ujar Michael sambil tersenyum ketika ditanya wacana alasan pengunduran dirinya.

 

Semua Berjalan Salah

 Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana
via Reuters

PR Rollins yang sederhana: “Bagaimana meningkatkan pendapatan yang sudah besar” ternyata tidak semudah itu dipecahkan. Serbuan dari Asia semakin dahsyat di masa jabatan Rollins. Hewlett Packard, salah satu tentangan Dell Computers di AS juga mencatatkan peningkatan yang signifikan. HP mendapatkan pasokan komponen dari Asia dan melakukan assembly di AS. Ini mengakibatkan mereka sanggup menjual perangkat komputer dengan harga yang lebih murah. Meskipun jadi belakang layar umum bahwa kualitas HP lebih rendah dari perangkat Dell, namun siapa yang bisa menolak harga murah?

Penerimaan terhadap kepemimpinan Rollins dalam lingkup internal Dell Computers juga cenderung negatif. Paul D. McKinnon, senior vice president memandang Rollins sebagai pendengar yang jelek dan seorang pemimpin yang sulit didekati. Senior Vice President lainnya, Paul D. Bell, yang bertanggungjawab untuk operasi di Timur Tengah dan Afrika menyebut Rollins sebagai ‘tukang debat’ dan ‘berkepala batu’.

Rollin sendiri tidak ambil pusing terhadap pendapat orang. Dia terkekeh mendengar wartawan memberikan pendapat orang-orang tentangnya. “Maksud Anda, saya sedikit angkuh dan mungkin terlalu banyak berpendapat?” Rollins terlihat santai menanggapi semua hal yang diungkapkan tentangnya.

Meskipun ‘tidak jelas’ reputasinya, dalam hal logistik, Rollins ialah salah satu individu yang jenius. Para pesaing Dell mengakui efisiensi Rollins dalam mengelola pasokan komponen Dell sampai proses mengirimkan kepada pelanggan.

Orang-orang yang berbicara eksklusif dengannya pun menilai Rollins sebagai sosok yang sopan dan halus dalam berbicara. Namun tentu saja ini tidak cukup untuk perusahaan dengan nilai dan reputasi sebesar Dell Computers!

Belum genap dua tahun mengelola Dell – dan tentu saja belum mempersembahkan prestasi apa pun, terutama tuntutan Michael ketika turun tahta biar Rollins bisa meningkatkan pendapatan – Dell menghadapi tuntutan dari SEC (Securities and Exchange Commission) yang menyatakan bahwa Dell Computers telah melaksanakan penipuan dan pengubahan catatan keuangan untuk memanfaatkan dana dari Intel guna kepentingan pribadi. Ini merugikan para pemegang saham Dell yang seharusnya mendapatkan jumlah yang lebih besar sesudah investasi dari Intel.

Tuduhan ini sebagian besar dialamatkan kepada Rollins, alasannya ketika Michael masih menjabat CEO, Rollins ialah pengelola keuangan dan bertanggungjawab atas administrasi produk Dell dari hulu ke hilir. Kepercayaan para pemegang saham pun semakin turun.

 

Michael Kembali dengan Gegap Gempita

 Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana

Akhirnya di suatu hari pada tahun 2006, Michael Dell melaksanakan jumpa pers dan mengumumkan sesuatu yang mengejutkan. Michael melakukan buyback saham milik Dell yang sedang turun (karena para pemegang saham beramai-ramai melepas kepemilikannya) senilai USD 22 miliar lebih, kemudian dengan ‘kuasa’ yang dimilikinya sebagai pemegang saham terbesar, Michael Dell menunjuk dirinya sendiri sebagai CEO.

Peristiwa tersebut tentu saja merupakan fenomena yang sangat unik alasannya secara literal berarti Michael ‘membeli’ perusahaannya sendiri. Namun founder Dell Computers yang kharismatik tersebut meyakinkan publik bahwa upayanya ini ialah untuk ‘menyelamatkan’ perusahaannya sendiri. Para pemegang saham yang lain pun mendukung tindakan Michael ini.

“Pergantian ini hanya sementara kok,” ujar Kevin Rollins ketika wartawan menanyakan kesan-kesannya ketika beliau ‘diturunkan’ dari posisi CEO oleh Michael Dell. Namun tentu saja itu ialah basa-basi belaka, alasannya kurang dari setahun setelahnya, tepatnya pada bulan Januari 2007, Kevin B. Rollins secara resmi dipecat oleh Michael Dell dan tidak lagi menjadi bab dari struktur Dell mana pun.

Membawa energi baru, Dell berupaya menepis stigma terbelakang yang menempel pada dirinya. Dell membeli Alienware, sebuah perusahaan perakit PC khusus game yang sedang naik daun dan menjadi idola gres di dunia IT, serta berupaya untuk melaksanakan diversifikasi bisnis. Dell Computers membeli banyak sekali server yang pada rentang tahun tersebut harganya sedang jatuh alasannya fenomena bubble (Ini merupakan fenomena jatuhnya nilai sebuah perusahaan IT akhir meroket terlalu cepat karena overestimate terhadap nilainya). Ini mengakibatkan Dell sebagai perusahaan pemilik server terbanyak kedua di AS. Siapa yang pertama? Yup, benar: Google yang sedang bernafsu membesarkan diri.

Michael tidak begitu memahami dinamika dunia internet, tapi yang terang beliau mengerti bahwa untuk bisa menguasai dunia internet, maka sebuah perusahaan harus mempunyai infrastruktur yang kuat. Pada infrastruktur inilah Dell bermain. Bahkan untuk mendukung upaya tersebut, Dell melaksanakan akuisisi penting terhadap EqualLogic, sebuah perusahaan storage area network yang sanggup mendukung sistem server Dell. Bersamaan dengan EqualLogic, Dell juga menyelesaikan pembelian terhadap ASAP software, Everdream, Networked Storage Company, MessageOne, dan Allin  – perusahaan perangkat lunak yang mendukung ekosistem Enterprise. Ini merupakan sebuah visi yang bahkan mendahului raksasa yang juga bermain di area Cloud dan server: Microsoft.

Perhitungan Michael rupanya tidak keliru. Raksasa ibarat Microsoft dan Apple yang telat menyadari pentingnya internet kelabakan membangun infrastruktur untuk sistem Cloud milik mereka. Sembari menyiapkan infrastruktur sendiri, mereka menyewa server dan infrastruktur yang disediakan oleh Dell. Ini mengakibatkan keuntungan Dell dari penyediaan infrastruktur sangat berlimpah.

Kesuksesan dalam melaksanakan akuisisi ini mengakibatkan Michael makin percaya diri. Dell tidak lagi mengejar ambisi sebagai “perusahaan pembuat PC nomor satu”, tapi melaksanakan diversifikasi untuk meningkatkan portofolio pendapatan.

Tahun 2016 yang lalu, Dell secara mengejutkan mengakuisisi EMC, sebuah perusahaan manufaktur perangkat keras dan lunak untuk komponen PC – Utamanya untuk storage. Nilainya sangat mencengangkan, yaitu USD 67 miliar. Meskipun kita jarang mendengar wacana EMC, posisi perusahaan ini bahwasanya vital bagi manufaktur lain. EMC memasok komponen untuk IBM, Hewlett Packard, dan bahkan General Electrics. VMWare, perusahaan induk EMC sebelumnya bahkan mendapatkan dampak besar akhir diakuisisinya EMC. Saham mereka merosot dahsyat di bursa meskipun mendapatkan ‘uang tunai’ dalam jumlah besar.

 

Menikmati Hidup

Di antara jatuh bangunnya Dell sebagai perusahaan, Michael sepertinya tidak lagi mengejar ambisi untuk menjadi ‘yang terbesar’. Dell menikmati alur cash flow yang lancar, keuntungan yang stabil, dan juga acara kemanusiaan di banyak sekali acara filantropis miliknya.

Di antara orang-orang terkaya di Amerika, meskipun tertutup, Dell tidak anti terhadap ‘gaya hidup mewah’. Dia mempunyai rumah (berjuluk The Castle) terbesar di Austin, Texas. Deretan pesawat dan kendaraan beroda empat pribadi, bahkan mempunyai pulau untuk berlibur di kawasan Karibia. Menikmati hidup nampaknya hal yang penting bagi Michael di antara tantangan demi tantangan yang terus dihadapi oleh perusahaannya!

 Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana
via Wisetoast
 Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana
via Wisetoast
 Perhatikan apa yang sanggup dicapai oleh orang Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana
via Wisetoast

Referensi

Dell, Michael. 1999. Direct from Dell: Strategies that Revolutionized an Industry. Collins Business Essentials

Pearlson, Keri & Yeh, Raymond, 1999. Dell Computer Corporation: A Zero-Time Organization. University of Texas at Austin – Graduate School of Business

 Kreamer, Kenneth L., Dedrick, Jason, & Yamashiro, Sandra. 2000. Refining and Extending the Business Model with Information Technology: Dell Computer Corporation. The Information Society, 16:5-21.

Rivlin, Gary. (2005). He Naps. He Sings. And He isn’t Michael Dell. New York Times.


Sumber: https://winpoin.com/

0 Response to "Kisah dari Silicon Valley #15: Kembali ke Singgasana"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel